Gnoyah BERNARD

Gnoyah BERNARD

Taang uin tou, together we are

Aku mengada secara sadar bersama yang lain.
Aku menjadi aku bersama engkau, sambil menjadi aku, aku mengatakan engkau

homili

Renungan/HomiliPosted by G_noyah Bernard Fri, March 30, 2018 22:58:15

Misa malam keempat (Nebo Oa Ery)

Yang meninggal 10 Oktober 2016

Ef 1:11-14; Luk 12: 1-7

Tak Seorang pun yang di lupakan Allah

Inilah salah satu pengajaran Yesus hari ini untuk para muridNya. Setelah Yesus mewanti-wanti para muridNya soal ragi kemunafikan orang farisi, Yesus membimbing mereka kepada figure Allah sebagai sumber dan asal kehidupan. Sebagai pengasal, Allah menguasai kehidupan manusia. Dia membuat apa yang menghidupkan dalam diri seorang. Kepada figur allah seperti inilah orang mesti merasa tukut. Takut dalam arti ‘segan’, hormat, bukan ketakutan karena gugup. Takutilah Dia yang memiliki corak perhatian. Dia memperhatikan apa yang diciptakanNya. Perhatian adalah ungkapan cinta. Dia tidak membiarkan manusia ciptaanNya binasa.

Yesus membandingkan perhatian atau cinta Allah itu dengan dua hal berikut:

1. Burung pipit, termasuk burung yang kecil, yang dijual di pasar. Tetapi tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah.

2. Helai rambut pada kepala manusia, seluruhnya dihitung Allah.

Yang kecil, yang sederhana umumnya gampang disepelekan, mudah dilupakan dan cepat diabaikan. Yang biasa biasa saja jarang dikenang. Yesus melawan anggapan kebesaran diri kaum farisi dengan burung pipit dan helai rambut untuk menunnjukkan sikap Allah yang lebih berempati dan peduli terhadap kecil dan sederhana. Yesus menggambarkan figure seorang Allah yang penuh teliti dalam mencintai. Ketelitian Allah dalam itu disimbolkan dalam kesukaan menghitung setiap helai di kepala rambut. Ini adalah tanda penghargaan dan pengakuan terhadap hidup manusia. Bukankah Manusia melebihi burung pipit. Allah tidak pernah melupakan manusia, karena manusia berharga di mata Allah.

Hari Minggu dini hari pukul 2.30 waktu Roma, saya ditelpon dari saudari yang di Singapore, bahwa saudari kami Ery Hayong telah meninggal dunia. Dia adalah saudari sulung dalam rumah dari kami 6 bersaudara. Kami hanya memanggil dia dengan OA, sebutan khas Lamaholot untuk perempuan anak pertama, anak besar, anak sulung. Dan sungguh kesulungannya itu ia hayati dalam tanggungjawabnya terhadap kami, adik adiknya dan kemudian untuk suami dan keempat orang anaknya. Teringat, ketika masih kecil, usia sebelum SD, waktu itu kak Oa bekerja di rumah sakit Kewapante. Kalau dia pulang rumah, dia selalu perhatikan kami: Sebelum tidur malam, dia meminta kami mencuci kaki, memakaikan kami kaus kaki, dan baju tidur lengan panjang, mengebas kelambu untuk memastikan kami bebas dari ancaman nyamuk. Di tasnya selalu saja ada obat. Dia mengatur makanan untuk kami.

Dia orang yang sederhana, tidak banyak omong, tidak pernah mendengar keluhan. Ketika menikah dan berkeluarga lalu tinggal di kewapante, kesederhanaanya tidak berubah. Dia tidak pernah mengeluh tentang suami dan anak anaknya, kendati banyak masalah yang dibuat suami dan anak-anaknya. Saya ingat beberapa tahun lalu saya mengungkapkan perasaan kekecewaan saya karena sikap diamnya terhadap persoalan keluarga, ia hanya berkata dengan tenang, “ Nong apakah engkau tidak kasihan saya”. Dia menerima semua dan menyimpan dalam hatinya. Termasuk saat saat terakhir dia mengalami gangguan pernapasan, ginjal dan TBC atau paru paru, dia hanya mengatakan saya baik, saya sudah minum obat. Saya sudah periksa ke dokter.

Waktu saya pamit mau ke Roma, dia hanya katakan, “Nong kia mo ai go hala hae”, (No mungkin engkau tidak dapat saya lagi sewaktu pulang”). Saya hanya diam, tertunduk dan sambal memeluk dia, saya memberkati dia.

Dan perkataannya itu sungguh terjadi pada tanggal 10 Oktober 2016. Dia yang sedehana, yang kecil itu menghembuskan nafas terakhirnya di dunia kami, dunia keluarga. Tetapi ia tidak dilupakan Allah. Tak seorang pun dilupakan Allah. Seperti burung pipit, seperti helai di rambut kepala, Allah selalu memperhitungkan dia. Allah mengambil dia dari tengah tengah kami. Kami mengembalikan Dia ke yang empunya kehidupan meski dengan berat hati. Kami kembalikan dia karena Allah memandang dia dengan penuh kasih, dan kasihnya di bumi mungkin sudah cukup.

Ketika saya telpon mami, mami katakan, dia itu anak yang tidak seperti anak yang lain. Dia seolah tidak punya suara tapi “budi tenodang”, hatinya begitu terbuka untuk orang lain. Ketika jenasah disemayamkan di rumah duka Kewapante begitu banyak orang yang datang melayat dan misa. Ada sejumlah orang yang dianggap gila dan mengong datang melayat dan mengiringi pemakaman kaka di Kewapante dengan membawa sarung. Ternyata mereka inilah orang orang yang pernah dirawat oleh kakak. Banyak yang datang mengiringi dia ke penguburan. Adik bungsu saya berucap, “terlalu banyak manusia yang datang, seperti waktu engkau membuat misa perdana di kampung. Dia yang hidup dari hati akan membawa kegembiraan bagi banyak orang yang sedang berduka. Trimakasih ka Oa, pana maang sare sare herung Lera wulang Tanah ekang, eka kehuli doa untuk kame.

Trimaasih untuk klompok Indonesia…..

Trimakasih untuk komunitas Ledalero, pater Hendrik dan para frater yang mengiringi koor penguburan kakak.

Kak Oa berisitrahtalah dalam ketengan sang Ilahi, sumber dan daya kehidupan. Engkau berharga di matanya.

Roma, 14 Oktober 2016




Fill in only if you are not real





The following XHTML tags are allowed: <b>, <br/>, <em>, <i>, <strong>, <u>. CSS styles and Javascript are not permitted.