Gnoyah BERNARD

Gnoyah BERNARD

Taang uin tou, together we are

Aku mengada secara sadar bersama yang lain.
Aku menjadi aku bersama engkau, sambil menjadi aku, aku mengatakan engkau

Refleksi

RefleksiPosted by G_noyah Bernard Fri, March 30, 2018 22:41:37

Selalu Ada yang Luar Biasa

Venerdi Santo……Jumad Agung.

Ya…. hari ini…. Jumad Agung. Hari Bae seturut tradisi orang nagi di Larantuka

Waktu yang sangat khusus, juga bagiku di Colegio del Verbo Divino (SVD) Roma.

Dimulai dengan lamentasi….ibadat ratapan, kenangan duka akan Tuhan yang bersengsara

Hari ini…Venerdi Santo….. kulewatkan waktu untuk sarapan, tidak seperti biasanya.

Untuk puasa…..mengambil bagian dalam kisah Dia yang bersengsara….

Di kamar…..dunia gadget modern menghantuiku: mengutak ngatik HP sekedar melihat kalau ada yang menarik…..

Banyak pesan terlihat: foto, video, ucapan seputar Venerdi Santo, hari yang dikuduskan:

Ada video tablo Kisah Sengsara Tuhan Yesus di Paroki Wolosambi, juga di Riang Kemie keduanya di Pulau Flores. Tapi juga di salah satu gereja di Rengas Blitung, Jawa, bahkan via crucis stigmata di Korea. Dan tentunya prosesi laut Semana Santa di Larantuka…

Tak ada yang luar biasa….. itulah yang terlintas dalam benakku.

Itu ritual tahunan orang Katolik dan Kristen sebelum perayaan Paska

Tak ada yang spesifik……. Bukanlah yang pertama kali kulihat dan kutonton.

Tapi …… kata hatiku membantah jejak pikirku

Hari ini….Venerdi Santo….Jumad Agung….

IA tidak sekedar hari yang biasa,

IA bukan saja saat yang lumrah

IA juga bukan waktu yang sama

Mesti ADA sesuatu yang tetap luar biasa DARINYA dan TENTANGYA

Dan memang luar biasa.

Ada hasrat untuk tidak mengambil bagian dalam upacara Via Dolorosa, Via Crucis, jalan salib di taman Collegio SVD seperti yang telah diprogramkan.

Kata HATI mendesak untuk keluar dari kamar, keluar dari Collegio, rumah SVD.

Hati membatin, langka kaki melaju…..

Dari Porta San Paolo, tram no. 3 membawa ziarah diri ke Croce Gerusalemme.

Gereja di kota Roma yang diabdikan untuk pentahtaan potongan dan serpihan kayu Salib Yesus sewaktu Dia disalibkan di Yerusalem. Itulah jasa Kaiser Konstantinopel, yang mendengar kata hati sang bunda St. Helena, untuk membawa Kayu Palang Suci itu dari Golgota, Yerusalem ke Roma, kota abadi, sebelum dia dibabtis menjadi Kristen meninggal dunia.

Para perziarah ke Gereja Croce Gerusaleme terkesimak dengan potongan dan serpihan kayu Salib Yesus: satu gelondongan kayu salib sepanjang kedua lengan manusia dewasa, paku-paku penikam tangan dan kaki Yesus, kayu bertuliskan INRI (Iesus Nazarenos Re Iudeorum: Yesus dari Nazareth Raja orang Yahudi).

Serpihan dan potongan kayu yang dianggap kehinaan itu kini mematri nilai cinta, solidaritas, korban, kehidupan dan keselamatan.

Dan hari itu…..il Venerdi Santo…..Jumad yang Agung

Di ruang Croce Gerusalemme itu…..aku sujud dalam kesepian diri, kekhusukan kontemplasi, sebelum membludaknya para peziarah.

Di bangku terdepan, relung hati menelusuri diri: membongkar idea kekalutan, menatap gambaran keteledoran, mengguncang kemapanan tindak dalam peran memperberat SALIB YESUS. Tak kuhirauhkan antrean peziarah yang mulai merangzek langkah maju

Tak kubiarkan telinga mendengar suara peziarah yang mulai kurang sabar dalam barisan antrian. Mereka: anak-anak, remaja, orang dewasa, kaum tetua, lelaki dan perempuan. Mereka datang dari perlbagai sudut kota, negara dan suku: untuk bersua dengan Salib yang suci di hari yang suci: il Venerdi Santo…..Jumad yang agung.

Adakah yang biasa dari Salib Tuhan……? Tentu tidak.

Salib bukan soal biasa atau tidak. Kalau soal biasa…….mengapa peziarah mesti berdatangan dari penjuru dunia? Kalau soal kebiasaan tahunan…. Mengapa seluruh dunia menyatu hari ini untuk sebuah kebaktian ilahi? Kalau soal biasa….mengapa kisah ribuan tahun lalu tak pernah pudar oleh waktu, dan tak lekang oleh zaman dan generasi? Kalau soal biasa….mengapa kayu palang tanda penghinaan mesti dirayakan dengan kesadaran agung? Kalau soal biasa….. mengapa IA dibanggakan sebagai ungkapan iman?

Salib bukan soal yang biasa…..IA semestinya mengandung YANG LUAR BIASA

IA tanda keselamatan……IA tanda protes untuk sebuah sikap dan gaya hidup yang betah dalam ego diri: pembenaran diri juga dalam regenerasi keburukan dosa, banalitas kejahatan di era kita, di dunia kita, dalam pengalaman keseharian:

Ketika jumlah korban human trafficking semakin bertambah

Ketika pilu warga NTT mendapat hadiah peti mati TKI dari Malasya semakin banyak

Ketika komunikasi dunia maya lebih asyik dari pada komunikasi dunia nyata

Ketika SARA menjadi komoditas politik Indonesia

Ketika korupsi berjemaah dalam pentas politik dan agama

Ketika keengganan gereja untuk menyapa umat di jalanan

Tak ada yang tidak biasa dari Salib di Hari Jumad Agung…il Venerdi Santo

Kontemplasiku menggugahku memutar kembali secara utuh kizah perjalan, episode waktu dan tindakan bermain peran dalam menabung dosa.

Aku beranjak dari tempat kontemplasi,,,,berdiri di belakang barisan peziarah….selangkah demi selangkah mendekat SALIB TUHAN. Perjalanan selangkah dalam keheningna itu ternyata sungguh berkesan:

- ketika semakin kuat ingatan kelemahan diri bagai menyerbu pikiran dan memori

- ketika adegan demi adegan kenikmatan dalam hidup dipajang dihadapan mata ini

- ketika kisah perjalanan dan kekelaman seorang manusia rapuh dari rumah kampung halaman, ke sekolah taman pendidikan, ke seminari panti persemaian bibit imamat, ked an Bersama masyarakat locus kesaksian misioner.

Sebegitukah janji kesetiaan dan ikrar bibir berpadu dalam karsa dan karyaku….?

Kelemahan iman dan jurang pisah antara ikrar dan kesaksian hidup tidak memberatkan langkahku untuk mendekatiNYA.

Ternyata ada yang LUAR BIASA…..

Dan kini…..aku di hadapan YESUS dan SALIBNYA….

Tidak hanya sekedar berada di depan serpihan dan sisa kayu palang yang dipikulNya ribuan tahun silam di Yerusalem menuju Golgotha. Mata hatiku terangkat dan tertuju dan menatapNYA. Paku-paku dalam monstrans itu begitu jelas dan nyata.

Juga tulisan INRI begitu terang terbaca.

Ternyata ada yang LUAR BIASA……

Aku mendpati diriku tak sanggup menatap lama pada SALIBNYA.

Aku tertunduk lesu

Tubuhku bergetar

Aku bergidik dan merinding

Aku mundur selangkah

Dan merebahkan diri dalam sikap sujud, berlutut.

Ternyata ada yang LUAR BIASA……..

Ketika aku tertunduk dalam sikap berlutut: video dan seluruh rekaman serta kisah hidupku seolah terulang sekali lagi.

Ketika aku diajak sekali lagi untuk dengan berani menonton dan memperhatikan kisha itu. Semuanya sangat jelas dan terang:

Tentang tempat

Tentang waktu

Tentang orang

Tentang tindakan

Tentang pikiran

Tentang perasaan

Tak ada yang tersembunyi: seluruh tentang hidupku, tentang kisah kelemahan dan dosaku.

Oh….Ternyata ada yang LUAR BIASA……

Dari mataku, butiran air menetes, membasahi kedua pipiku.

Entah berapa lama aku terisak dan sesenggukan dalam tangisan penyesalan.

Ada usaha untuk menahannya biar peziarah lain yang berlutut di samping dan di belakangku tidak terganggu. Atau mungkin mereka sudah merasa terganggu tapi tak ambil pusing.

Itulah air mata:

Tanda dosa yang membual keluar dari diriku

Air nestapa diri yang dibongkar TUHANku di hadapan SALIBNYA

Deraian yang membuatku tidak hanya merasa malu, sesal dan sedih di jalan dosa yang sudah kutabung dalam hidupku.

Oh…..ternyata ada yang LUAR BIASA…..

Dari air mata dosa, aku dihantar pada bisikan kata bathinku:

“BERNARD…..Selamat datang dalam kerahiman kasihKU.

Selamat datang dalam kesadaranmu untuk sesal dan bertobat meski selalu lemah. Kesadaranmu akan dosa, membebaskanmu…

Pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi” .

Oh….Engkau yang tersalib…. Inikah suaraMu…?

Oh….Tiada yang biasa pada SALIB

Oh …..Engkau yang selalu Luar BIASA

Terimalah pengakuan diriku yang dalam kemalangan mau mencari nilai keutuhan yang terus tercemar.

Oh serpihan KAYU yang menyemat kegaduhan hati…adakah sesal diri juga memaku diriku untuk bertobat?

Oh salah yang sering berulang, kemarilah dan mendekatilah pada suara pengampunan dan pembebasan dari atas SALIBNYA hingga sadar dirimu menjadi tanda berkat.

Terimakasih, sujud dan sembahku oh Engkau yang selalu LUAR BIASA

Di hari Venerdi Santo, Jumat yang Agung dalam hidupku…..amin

Pada hari Jumat Agung, 30 Maret 2018.

Chiesa Santa Croce Gerusalemme

Roma-Italia




Fill in only if you are not real





The following XHTML tags are allowed: <b>, <br/>, <em>, <i>, <strong>, <u>. CSS styles and Javascript are not permitted.