Gnoyah BERNARD

Gnoyah BERNARD

Taang uin tou, together we are

Aku mengada secara sadar bersama yang lain.
Aku menjadi aku bersama engkau, sambil menjadi aku, aku mengatakan engkau

Spiritualitas Seksualitas

Artikel Ilmiah/opiniPosted by G_noyah Bernard Mon, January 02, 2017 18:20:14
SPIRITUALITAS SEKSUALITAS: MEMBONGKAR KETAKUTAN ARKAIS MENEMUKAN ETIKA SEKSUAL (Sebuah Pengantar Untuk buku Diskursus Seksualitas )
Bernard Hayong


Ketika menjadi mahasiswa filsafat pada STFK Ledalero (1996-2002), dalam salah satu kesempatan, bersama seorang teman, saya mengunjungi sebuah keluarga. Keakraban dan kedekatan dengan keluarga itu tampak dalam senda gurau dan obrolan kami. Di tengah obrolan itu teman mahasiswa ini secara jelas menyebut kata ”burung” ketika melihat seorang anak lelaki kecil yang sedang bermain di lantai, mengenakan celana sobek sehingga kelihatan alat kelaminnya. Mendengar kata “burung”, anak gadis (usia 20 tahun) yang turut serta dalam obrolan kami itu kaget dan heran. Ekspresi keheranannya menunjukkan bahwa teman saya yang adalah mahasiswa frater (calon imam Katolik) itu, tidak boleh mengucapkan kata “burung”. Melihat reaksi kekagetan gadis itu, teman ini bertanya, “Mengapa kamu kaget?” “Ih.....frater porno”, jawab sang gadis. Teman itu kemudian menimpali lagi, “Itu bukan porno, hal itu sama dengan ketika kamu menyebut tangan, kaki, hidung, pipi, mata. Semua itu adalah bagian dari tubuh kita.”

Kisah di atas bisa mewakili bagaimana seks dan seksualitas dipahami serta diwacanakan dalam masyarakat. Kisah ini juga menunjukkan bahwa reaksi dan adaptasi manusia terhadap dunia lingkungannya dimungkinkan oleh proses kelakuan dasariah dari kenyataan seksualitas. Pemahaman tentang seksualitas sangat bervariasi; ia bahkan dilingkupi oleh pelbagai keputusan, ketakutan dan emosi. Ia juga dipengaruhi oleh pengetahuan, lingkungan, tempat, kultur, dll. Latar belakang yang variatif ini sekian sering menjadikan seksualitas berbeda dengan ekspresi pengalaman masa kecil, misalnya ketika seorang anak lelaki bermain bersama dengan teman putrinya, ketika mereka berpelukan, bersendagurau bersama, saling menyentuh atau bergandengan tangan, bahkan berciuman. Pembicaraan tentang seks dan seksualitas dalam perjalanan sejarah manusia umumnya bersifat tertutup dan hati-hati. Ia, mulanya, hanya dibatasi pada topik tentang perkawinan dan prokreasi.

Ampy Kali dalam buku, Diskursus Seksualitas membuat satu analisis atas pewacanaan seksualitas dengan pendekatan arkeologi dan genealogi historis Michel Foucault. Masyarakat Yunani-Romawi, misalnya, memahami kenikmatan seksualitas pada pengalaman erotik tubuh pribadi manusia itu sendiri. Kultur seks yang dihidupi adalah ars erotica. Masyarakat abad pertengahan, oleh karena dominasi pengaruh Gereja yang begitu ketat, memandang dan menghidupi seksualitas manusia secara sangat tertutup bahkan negatif. Seksualitas sangat dekat dengan tubuh. Tubuh dipandang sebagai penjara jiwa dan sumber keburukan bagi jiwa manusia, maka seksualitas yang berkaitan dengan tubuh itu adalah sumber dosa. Seksualitas ditutup-tutupi bahkan dianggap tabu. Hanya di ruang pengakuan seksualitas mendapat tempatnya. Masyarakat modern memandang seksualitas secara terbuka. Ia menjadikan seksualitas sebagai objek pengetahuan, karena itu kebenaran seksualitas bersandar pada otoritas ilmiah. Seksualitas menjadi sebuah ilmu (scientia sexualis). Pada masa postmodern alam kebebasan lebih terasa dalam pewacanaan tentang seksualitas berkat kebebasan, media massa dan kapitalisme.

Dari pergeseran paradigma wacana seksualitas dalam genealogi historis ala Foucault ini, ada beberapa hal yang bisa disoroti yakni: tabu seksualitas, seksualitas dalam wacana postmodern, serta kemungkinan sebuah etika bagi kehidupan seksual manusia. Tabu Seksualitas : Ketakutan Arkais dan Pengebirian Pengalaman Eksistensial Pengalaman eksistensial berkaitan dengan segala sesuatu yang dialami dan dihidupi oleh seorang manusia. Aktualitas atau cara berada menentukan keberadaan seorang manusia. Manusia dengan kodrat seksualitasnya yang terungkap dalam pola pikir dan pola laku tutur menentukan keberadaannya. Pengungkapan manusia atas kodrat seksualitas sering dibentuk juga oleh serangkaian pengalaman di sekitarnya. Kisah pengalaman seorang teman mahasiswa yang berhadapan dengan cara pandang seorang gadis, sebagaimana dikutip pada awal tulisan di atas, bisa dimengerti sebagai sebuah tabu terhadap seksualitas.

Tabu seksualitas dalam sejarah hidup manusia dapat dilihat dalam beberapa perwujudannya yang berbeda. Pertama, tabu seksualitas adalah sebuah konspirasi akan kebisuan. Penyebutan terhadap seksualitas dan semua anasir yang berkaitan dengan sekskualitas manusia seolah merupakan usaha untuk melepaskan kekuatan gaib berdaya dekonstruktif, kejahatan dan malapetaka yang mematikan. Hal ini dapat dibuktikan dalam keragu-raguan atau kehati-hatian untuk menyebutnya. Pembicaraan atasnya sering dilihat sebagai hal yang buruk, yang menyalahi aturan dan moral keagamaan. Praktik seperti ini menguat pada adab pertengahan ketika Gereja sebagai penjaga moral selalu mengartikan seksualitas sebagai dosa. Pemahaman demikian menanamkan satu sikap buta terhadap pelbagai kenyataan hidup. Pemahaman ini berbahaya karena cenderung akan memisahkan seorang anak dari pengalaman eksistensialnya, dari kelimpahan kasih secara emosional dengan ibu. Ketika seorang ibu menyatu secara emosional dengan anaknya melalui kontak fisik, menyusui, mencium, memeluk, maka rangkaian pengalaman ini akan dipisahkan oleh pemahaman seksualitas yang sempit. Para ibu muda misalnya akan malu menyusui di tempat umum ketika anak membutuhkan air susu ibu (ASI). Ekspresi seksualitas tidak boleh terjadi di ruang publik. Atau ketika seorang dewasa mengalami kepenuhan hidup karena memiliki hasrat akan relasi dengan yang lain, ia mesti merepresikannya demi moral publik. Tiap kesempatan untuk mengekspresikan kenyataan emosional dan hasrat seksualitas seperti intim secara fisik, berjalan bersama, atau berangkulan akan dianggap bertentangan karena sesuatu yang tidak lasim.

Fakta-fakta seperti ini menunjukkan bahwa seorang manusia dipenjara dalam spontanitas seksualitasnya. Eksistensi dirinya yang memiliki hasrat seksual dikebiri. Setiap usaha untuk merepresi hasrat seksualitas dan berusaha menghilangkannya dari realitas manusiawi merupakan sebuah pengebirian. Pengebirian dibangun dengan menghidupi sikap ketakutan. Inilah satu bentuk deseksualisasi imaginasi dengan menempatkan “fakta kekurangan” terhadap setiap ungkapan hasrat seksualitas. Inilah satu bentuk ketakutan arkais . Kedua, tindakan pengawalan berlebihan terhadap seksualitas dengan merujuk pada kualifikasi moral. Bahwa setiap tindakan manusia dapat dimaknai dalam konteks relasi sosial tak dapat dipungkiri. Artinya tindakan, entah itu pribadi sekalipun, mesti didasari pada prinsip yang melatari tindakan itu. Prinsip ini mengandung di dalamnya kapasitas pengetahuan akan seluruh yang melatari tindakan (circumstance) dan semua yang membawa ekses dari tindakan tersebut.

Leibniz, sebagaimana yang dikutip Maurice Blondel, mengemukakan bahwa, “Moralitas dapat didasari dalam sebuah cara yang kokoh dan tak dapat diragukan, tapi untuk dapat melakukannya, perlu satu model logika yang sedikit berbeda dari apa yang kita punyai sekarang” . Leibniz hendak mengingatkan bahwa setiap tindakan atau praksis hidup tidak hanya didasari pada satu prinsip ilmiah yang kokoh dan yang kemudian menjadikan tindakan itu bersifat kaku. Artinya apakah setiap prinsip tindakan moral memiliki alasan yang logis, yang sudah diuji secara matang dan teliti. Pengawalan yang berlebihan terhadap satu tindakan seksualitas abad pertengahan dinilai Foucault, sebagaimana yang dijelaskan Ampy Kali, merupakan satu bentuk insinuasi dan pendiskreditan terhadap tubuh manusia. Alasannya adalah bahwa ketika seksualitas diwacanakan sebagai sesuatu yang buruk (tabu), maka ada satu mekanisme penelusuran terhadap diri untuk menemukan bahwa setiap bayangan erotik itu dosa . Konsekuensinya, setiap sensasi atas tubuh dan ekspresi spontan yang kaya atas tubuh adalah dosa, karena itu wajib dimurnikan dalam pengakuan. Dengan demikian maka dalam konteks kritik Foucault atas wacana seksualitas di abad pertengahan, pengakuan dosa dalam Gereja Katolik adalah sebuah legitimasi atas pendiskreditan tubuh.


Pendiskreditan atas tubuh terjadi ketika kekayaan tubuh dan imaginasi atasnya dikurung dalam satu prinsip moral berpikir dan bertindak. Konsep ini menunjukkan bahwa pengawalan yang ketat atas kelakuan seksualitas manusia (tabu seks) demi kesucian sebuah moralitas, sebenarnya hanyalah satu sikap memahami seksualitas manusia terbatas pada arti genital (genital sexuality). Satu usaha pemisahan hakikat manusia dari keutuhan dirinya. Pemisahan ini dibenarkan Bob Francouer, seorang pengajar pada Universitas Fairleigh Dickinson dan editor Ensiklopedi Internasional tentang Seksualitas. Ia mengemukakan bahwa: ”Seksualitas dan spiritualitas senantiasa berkaitan dan terjalin sejak awal peradaban manusia. Hanya pada kurun waktu 2000 sampai 3000 tahun terakhir dari peradaban barat, keduanya dipisahkan. Mereka tidak hanya dipisahkan tetapi bahkan dilihat sebagai bertentangan satu dengan yang lainnya. Pertentangan ini berasal dari dualisme filsafat Yunani dan dikotomi pandangan akan manusia sebagai materi dan roh, yang baik dan jahat, pria dan wanita” . Ketiga, tabu seksualitas dapat diperkaya dengan kecenderungan untuk meningkatkan satu larangan sosial yang primitif.

Dalam setiap bentuk pelarangan sebenarnya tersembunyi ketakutan yang instingtif. Pelbagai bentuk represi terhadap seksualitas akan berdampak pada represi terhadap aspek kehidupan manusia. Seorang anak yang dididik dalam alam berpikir yang rasional (dunia barat, misalnya) akan memiliki cara pandang yang berbeda dengan seorang anak yang dididik dalam suasana represif dengan pelbagai bentuk larangan. Seorang anak di dunia barat yang dididik untuk mengenakan pakaian renang atau bikini ketika mandi di kolam renang atau di pantai akan terbiasa karena pola pikir yang dibangun bahwa jenis pakaian membantu kegiatan renang. Atau, ketika musim panas tiba, ia akan berpikir rasional untuk mengenakan pakaian tipis yang cocok untuk musim tersebut. Sebaliknya seorang anak yang dididik dalam satu pertimbangan etis yang sekian ketat, merasa malu kalau menggunakan pakaian renang di kolam renang atau di pantai. Perasaan malu ini merasuk sekian dalam sehingga dia akan menilai buruk atau tidak sopan seorang yang mengenakan bikini ketika berenang. Pandangan tradisional dan kaku seperti ini menjadikan orang merasa tidak nyaman dengan seksualitasnya. Jika seseorang tidak bahagia dengan seksualitasnya, ia juga tidak akan menikmati keindahan tubuh.

Persoalan kekerasan seksual, pemerkosaan, pelecehan seksual yang marak terjadi dalam masyarakat kita dewasa ini adalah bentuk-bentuk di mana orang tidak merasa bahagia dengan seksualitasnya. Kealpaan mengingat (amnesia) bahwa energi seksual adalah juga energi hidup itu sendiri membuat manusia menekan daya itu. Ketika daya itu tidak bisa ditekan lagi, ia meledak dan terungkap dalam serangkaian pelecehan seksualitas manusia. Dari Scientia Sexualis ke Sebuah Etika Seksual Ketegangan antara ekspresi seksualitas yang bersifat spontan (sebagai satu kebutuhan manusia) dan pengaturan normatif dalam mengekspresikan hasrat seskualitas manusia mencapai titik krusial pada abad modern dan postmodern. Ketegangan itu misalnya dapat terungkap dalam penjajakan tubuh dengan tujuan komersial (human trafficking) atau ekshibisionisme. Seksualitas adalah kenikmatan belaka. Ketegangan lain juga muncul antara satu tuntutan aksiologis dan pengungkapan seni; maraknya perilaku amoral di tengah masyarakat dan tuntutan nilai moral atau etika seksual; tuntutan akan isu keadilan seksual yang meliputi gender, orientasi seksual; kesadaran akan isu tentang aborsi, keluarga berencana, kontrol terhadap populasi penduduk, pornografi dan pornoaksi, reproduksi teknologi, penyakit seksual (HIV/AIDS), kehamilan pada masa remaja. Semua isu ini berkaitan dengan persoalan seksualitas sekaligus bersifat publik. Berhadapan dengan variasi isu yang penting ini, entahkah diperlukan sebuah etika seksualitas?

Tapi mungkinkah sebuah etika seksualitas adalah bentuk lain dari satu pengawalan ketat terhadap ekspresi yang kaya atas tubuh manusia? Bukankah dalam cara demikian satu re-afirmasi lain dari satu wacana tabu atas seksualitas? Pemaknaan atas seksualitas manusia harus dipahami sebagai keutuhan aspek dalam kodrat manusia. Kata “seks”, “seksualitas” dan “keintiman”, umumnya sering dipakai bergantian dengan makna yang sering pula disamakan. Meski demikian ketiga kosakata ini menunjuk pada realitas khusus, yang saling berkaitan. Seksualitas bukanlah seks. Kata “seks” merujuk pada sistem biologis dari pria dan wanita dewasa yang berkaitan dengan reproduksi manusia dan pengalaman kenikmatan genital. Seks, karena itu, mencirikan indentitas kita, siapakah kita (who we are) berdasarkan jenis kelamin (pria dan wanita). Penggunaan kata “seks” dapat juga dimengerti sebagai kelakuan genital. Dalam arti ini seks berkaitan dengan apa yang kita lakukan (what we do) . Sebaliknya, seksualitas dipahami dalam realitas manusia yang lebih luas dan mendalam. Ia meliputi realitas seks (organ reproduksi dan kelakuan genital), tetapi lebih menekankan siapakah kita. Misalnya; apa makna tubuh bagi kita, bagaimana kita memahami kepriaan dan kewanitaan kita, bagaimana afeksi diekspresikan. Ia merujuk pada ciri, sifat, peran dan kehidupan seks manusia. Dengan demikian konsep seksualitas adalah refleksi atas tindakan manusia sebagai makhluk dengan kodrat seksual dalam bahasa, seni, moral untuk memaknai arti seks. Dengan kata lain, seksualitas adalah bagaimana manusia memaknai seks. Inilah satu bentuk dan proses membangun kesadaran akan diri sendiri . Michel Foucault juga membedakan seks dari seksualitas. Bagi Foucault seksualitas tidak bisa dipahami dalam arti biologis yang mengarah kepada reproduksi spesies.

Seksualitas bukan merupakan pemberi kenikmatan, atau bukan tubuh dalam relasi antar manusia. Secara sederhana Foucault memahami seksualitas sebagai cara orang menggunakan energi manusiawi dan kenikmatan manusiawinya demi menghasilkan kebenaran. Foucault juga memahami seksualitas dalam korelasi antara kekuasaan dan seks . Senada dengan Foucault yang memahami seksualitas sebagai penggunaan energi manusiawi, Pamela Kribbe juga memahami seksualitas dalam arti rohani, yakni tarian bersama antara energi pria dan wanita. Seksualitas, karena itu, lebih dari sekadar tindakan fisik. Dalam seni tari ini seluruh aspek kepriaan dan kewanitaan terlibat secara penuh. Keterlibatan itu dilukiskan Kribbe dalam empat level atau aspek yang berperan dalam tarian seksualitas manusia . Pertama, level fisik (the physical level). Tahap ini berhubungan dengan tubuh fisik. Tubuh manusia bukanlah sesuatu yang negatif. Ia mengetahui hasrat seksual atau nafsu badani yang muncul secara spontan. Tubuh manusia berusaha mencari pemenuhan atas pelbagai hasrat ini. Ketika tubuh mencari pemenuhan atas setiap hasrat dirinya, kesadaran ini pada saat yang sama juga merupakan kesadaran yang berkaitan dengan aspek kejiwaan.

Pemuasan hasrat seksual bisa menjadi sumber kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan. Untuk mencapai tujuan ini sebenarnya bukan tergantung dari aspek fisik (tubuh manusia) saja tetapi melibatkan manusia sebagai being yang bertanggung jawab. Tubuh seolah meminta bimbingan dan arahan manusia itu sendiri. Dalam pandangan demikian, Kribbe hendak memperlihatkan bahwa pada level fisik pun seksualitas manusia melibatkan aspek mental lainnya: pikiran yang memungkinkan tiap putusan dan tanggung jawab manusia sebagai keutuhan being. Kedua, level emosional (the emotional level). Penyatuan seksual sesungguhnya merupakan sebuah tindakan emosional yang amat dalam. Ketidaktahuan akan aspek ini mencerminkan “ketidakhadiran” pasangan dalam tindakan seksual. Mereka sebenarnya sedang mematikan makna seksualitas. Kribbe menunjukkan satu pengetahuan yang lengkap di sekitar tindakan seksualitas manusia. Semakin dalam pengetahuan seseorang, maka semakin bertanggung jawab tindakan seksualitasnya. Kesanggupan memahami simton fisik tanpa menyertakan dinamisme emosi, membuat kita tidak menghargai dan menghormati tubuh kita dan tubuh partner kita. Ketika tubuh menentang, melawan gerakan keintiman, hal itu menandakan bahwa aspek emosional sedang diblokir, ada persoalan yang sedang dihadapi, atau ada perasaan yang terluka yang belum diatasi. Ketiga, level hati (the level of the heart). Level ini berpusat pada perasaan. Ada perbedaan antara perasaan dan emosi. Perasaan sebenarnya menjadi wilayah intuisi dan pengetahuan batin. Aspek perasaan berbicara kepada kita melalui suara yang halus, tenang, penuh kebijaksanaan dan belas kasih.

Secara kodrati, emosi itu bercorak dramatik, semacam reaksi atas pelbagai kesalahpahaman. Ia adalah luapan/letupan atas apa yang terjadi atas diri seseorang. Tindakan seksual menghendaki keterbukaan hati partner seksual. Keterbukaan ini menghasilkan kepercayaan, cinta dan kedamaian. Ketika hati hadir dalam perjumpaan seksual, seeorang mengizinkan intuisinya untuk peka terhadap dan memahami apa yang terjadi dalam keintiman fisik. Ketika energi hati tiap partner saling berkorelasi untuk memberikan daya jiwanya, maka penyembuhan besar bisa terjadi. Keempat, aspek pikiran (the aspect of the mind). Pada level mental, aspek moral atau kepercayaan spiritual bisa menjadi pedoman dalam menikamati daya seksualitas. Pada level spiritual sering tubuh dipandang sebagai penjara jiwa. Pandangan ini menguat pada masa skolastik, berkat pengaruh filsafat Yunani (Plato) dalam dikotomi tubuh-jiwa. Pandangan ini nyata dalam sikap negatif terhadap seksualitas. Seksualitas dalam arti yang sesungguhnya adalah tarian fisik tetapi sekaligus melampaui aspek fisik itu. Seksualitas semisal jembatan yang menghubungi aspek kejasmanian dan kerohanian. Ketika dua orang intim secara fisik dalam satu bentuk cinta, sel-sel tubuh mereka bergetar lebih cepat, dan mereka memulai gerakan tarian. Pintu gerbang terbuka bagi sebuah realitas energik dengan gerakan halus yang agung dan perasaan yang bercahaya. Setelah sebuah kenikmatan seksual terjadi, semua yang terlibat: tubuh, jiwa, pikiran dan perasaan terasa damai dan tenteram. Inilah sebuah ekstasi halus. Sel-sel tubuh mengecapi energi cinta dan pada saat yang sama Anda menghantar realitas cinta lebih dekat pada dirimu. Jika energi dari kempat tahap ini mengalir bersama-sama dalam kenikmatan seksualitas, maka terjadilah tindakan penciptaan yang ilahi. Anak yang lahir dari padanya merupakan sebuah being hasil tindalan natural yang berdaya ilahi. Kalau seksualitas adalah tarian yang memungkinkan keterlibatan energi kepriaan dan kewanitaan manusia dalam empat aspek dasariah manusia, maka ia senantiasa merupakan seni yang mengantar manusia pada pengungkapan eksistensi dirinya sebagai manusia.

Sebagai sebuah seni yang mengungkapkan eksistensi manusia, seksualitas tidak bisa dikurung dalam pelbagai ketakutan arkais semisal tabu. Seksualitas dan energi yang dihasilkan bukan juga sebatas pada energi erotis. Energi seksualitas adalah energi hidup itu sendiri. Di zaman modern seksualitas dijadikan sebagai objek studi ilmu pengetahuan. Sambil mengutip Foucault, Ampy Kali menegaskan bahwa wacana seksualitas tak dapat dilepaspisahkan dari lingkup sosial, ekonomi, bahkan politik dan media massa. Aspek ini sungguh merupakan kekuatan yang membentuk sikap kita terhadap seksualitas. Dengan menjadikan seks sebagai kajian ilmiah, kita, hemat Foucault, bisa menjadikan seks sebagai bagian dari upaya penghargaan terhadap analisis atas hasrat manusia, bahkan kerinduan, dan tidak sekedar kenikmatan. Tapi entahkah demikian ketika kita diperhadapkan pada realitas dunia yang serentak memperlihatkan adanya dekonstruksi dan konvergensi dalam pelbagai aspek kehidupan, antara kelaparan dan kerinduan, erotisme dan spiritualisme, keniscayaan dan relativisme nilai-nilai?

Kalau kita hendak memaknai seksualitas manusia dan menjadikannya sebagai sebuah bentuk spiritualitas, semangat yang menjiwai kehidupan seksualitas manusia, maka mesti juga dibedakan antara spiritualitas dan keagamaan itu sendiri. Agama sebagai sebuah institusi sosial dan religius memiliki tanggung jawab moral untuk mengontrol setiap kelakuan manusia, yang menyimpang dari doktrin moral agama atau nilai universal. Sedangkan spiritualitas menyangkut perkembangan dan perolehan kesadaran akan keseluruhan aspek kehidupan itu sendiri. Seksualitas menyerap seluruh lapisan kehidupan manusia. Ketika orang intim satu sama lain, saling menyentuh, dan memandang, komponen seksualitas manusia menyata keluar, dan kita tak dapat melaksanakan secara efektif perjalanan spiritual kita tanpa menyadari bahwa kita ini makhluk seksual. Karena itu spiritualitas seksualitas tidak dibatasi dan terfokus pada aspek performance seperti persetubuhan atau orgasme. Jika demikian, maka ini adalah pemahaman seksualitas sekadar sarana atau cara. Seksualitas dan spiritualitas saling berkaitan satu. Cinta, empati dan makna seksualitas manusia terarah langsung kepada keilahian. Ketika rangsangan seksual manusia muncul, ia turut mempengaruhi sel-sel otak, maka respons seksual bercorak multidimensi .

Pengalaman Stan Dale berikut ini bisa mewakili bagaimana seksualitas dan spiritualitas menyatu dalam cinta dan empati hingga orang sungguh mengalami bahwa ia diarahkan kepada sesuatu yang bersifat ilahi. Ketika berumur 27 tahun, Stan Dale berada di Jepang. Setelah berhasil dalam kariernya sebagai pemimpin sebuah stasiun radio, ia kemudian bekerja pada Dinas Ketentaraan Korea. Dalam pelaksanaan tugas sebagai pelayan dinas ketentaraan ini ia mendapat tugas ke Tokyo. Di Tokyo ia mendapat undangan dari seorang rekannya, Joe Butterfly untuk menghadiri sebuah pesta rakyat. Pesta itu berlangsung di geisha, sebuah rumah indah di atas 22 hektar tanah luasnya dengan fasilitas dari pohon, kupu-kupu dan bunga. Gedung ini tampak seperti istana. Kepada semua yang tinggal di geisha, sang pemimpin meminta mereka memperlakukan tamu mereka, Stan sebagai seorang putra. Kepala rumah geisha, yang adalah seorang perempuan itu, mendekati Stan dan memberinya sebuah batu, sambil berkata, “Apa yang Anda lihat?” “Batu”, jawab Stan. Kemudian ia melanjutkan, “Pulanglah dan ketika engkau kembali katakan kepadaku apa yang engkau lihat kemudian”. Sesudah tiga hari, Stan pulang dan ia melihat lagi hal itu seperti kaca pembesar, dan bercahaya, karena itu ia mengatakan, ”Saya melihat sebuah keindahan alam”. Kata-kata ini mengalir keluar begitu saja dari mulutnya. Ketika malam hari tiba, pemimpin geisha itu bangun, memberikan tundukan hormat kepada Stan dan berkata,” Jika Anda sanggup melihat keindahan alam dalam sebuah batu, Anda sekarang adalah seorang anggota geisha”. Stan kemudian berkata dalam hatinya, saya tidak tahu apa arti kata geisha, tapi saya merasakannya sangat khusus. Para penghuni rumah geisha mengajarkan kepada saya untuk memandang melampaui apa yang saya lihat, untuk mendengar melampaui apa yang bisa saya dengar, melampaui apa yang dapat saya sentuh. Saya belajar dari sebuah petuah kuno, jika Allah ingin bersembunyi, Ia akan bersembunyi dalam diri manusia, karena itulah tempat di mana kita berpikir dan mencari untuk menemukan Allah . Stan belajar mencari dan menemukan percikan keilahian dan keagungan pada setiap manusia.

Seksualitas adalah keilahian dan keagungan pada manusia, dan ini dialami kalau hati, roh, jiwa dihadirkan untuk merayakannya sebagai sebuah seni pelampauan (transendensi) atas setiap yang kelihatan dan dialami secara seksual. Inilah spiritualitas itu. Inilah sebuah etika seksualitas itu. Spiritualitas dan seksualitas adalah siapa Anda itu sendiri dan apa yang Anda lakukan (who you are and what you do). Dengan pemahaman seperti ini maka pengumbaran libido yang berlebihan dalam dunia cyber, pengpaparan tubuh melalui citra media (termasuk iklan) serta penempatan seks sebagai “barang” komoditi oleh karena pengaruh relasi kuasa manusia, sebagaimana yang dikemas Ampy dalam bagian kesimpulan dan penutup buku ini dapat dimengerti sebagai sebuah imperatif-etis dengan basis spiritualitas seksualitas. Aktualitas buku ini ditemukan dalam usaha penulis (Ampy) untuk memperhadapkan antara seksualitas sebagai yang esensial dan eksistensial pada manusia dengan paradigma nilai-nilai (kebebasan, individualitas, otonomi diri) manusia zaman postmodern. Selain itu, Ampy juga mengingatkan kita akan “bahaya” legitimasi kekuasaan terhadap instrumentalisasi tubuh oleh karena politik, pasar, kuasa dan kepuasan. Di sinilah penting dan mendesaknya satu “keniscayaan nilai” yang dibahasakan Ampy dengan “etika seksual”. Inilah satu pemaknaan mendalam atas esensi dan eksistensi seksualitas manusia (homo sexualis), satu usaha menghidupi spiritualitas seksualitas manusia.








Fill in only if you are not real





The following XHTML tags are allowed: <b>, <br/>, <em>, <i>, <strong>, <u>. CSS styles and Javascript are not permitted.