Gnoyah BERNARD

Gnoyah BERNARD

Taang uin tou, together we are

Aku mengada secara sadar bersama yang lain.
Aku menjadi aku bersama engkau, sambil menjadi aku, aku mengatakan engkau

Karl Jaspers: Komunikasi Interkultural Sebagai Filsafat Global

Artikel Ilmiah/opiniPosted by G_noyah Bernard Mon, January 02, 2017 18:15:22
Antara Filsafat dan Mistik: Memaknai Perjalanan Mistik –Filosofis
St. Yohanes Dari Salib dalam Mendaki Gunung Karmel

(Bernard Hayong)

1. Pendahuluan Stanislas Breton dalam karyanya Filosofia e Mistica- Esistenza e super-esistenza (Filsafat dan Mistik. Eksistensi dan super-eksistensi) mengungkapkan bahwa filsafat dan mistik adalah dua bidang yang berbeda tapi sama sekali tidak bertentangan. Dalam sejarahnya, banyak mistik Kristen kuat dipengaruhi oleh neoplatonisme, bahkan juga pada masa sebelumnya, filsafat klasik. Argumentasi yang dipakai dalam mistik Kristen juga berasal dari filsafat klasik dengan tema dasar seputar pra-ada, ada, jiwa, keheningan, penyangkalan untuk menggali, mencari dan mengalami yang tak terbatas (infinitas).

Menurut Breton mistik melanjutkan filsafat sampai pada batas penyelesaian walapun tanpa mengatasinya. Dalam hubungan dengan Prolog Injil Yohanes, misalnya, Breton menegaskan bahwa secara ontologis prolog ini menghantar kita kepada dan memperdalam neo-platonisme serta mengakui elemen esensial pada pembenaran teologi mistik Thomas Aquinas . Ketika menganalisis frase “pada mulanya adalah Sabda”, ia menjelaskan bahwa secara esensial sabda itu adalah sabda yang ada (essere), sedangkan waktu mengambil bentuk imperfektum. Waktu dalam bentuk imperfektum tidak berhubungan dengan ide kesempurnaan, tetapi sebaliknya lebih menekankan masa, lamanya (durasi), yakni masa tanpa masa, waktu tanpa waktu, yang lebih menunjuk pada “kekekalan”. Sabda yang kekal ini dipikirkan dalam konteks hubungan dengan Allah. Dalam hubungan dengan Allah yang adalah Bapa, Sabda (logos) disebut, disapa Dio (theos) tanpa artikel atau atribut lain yang menunjukkan keunikan, keesaan, ketunggalan (semplicemente) dengan keabsolutan Allah.

Persoalannya: Sabda yang mana dalam hubungan dengan Allah yang menunjukkan kepada kita satu penafsiran, eksegese tentang preeksistensi? Bagi Breton hal ini dapat nyata dalam ekspresi dari satu tata bahasa yakni preposisi, seperti dekat, akrab kepada, di dalam, dengan perantaraan, diam di antara. Preposisi-preposisi seperti ini menunjukkan gerakan isitimewa untuk ada, hidup bersama-sama. Maka hubungan di antara mereka adalah satu hubungan yang kodrati, yang satu dalam perbedaan, satu dalam keragaman, atau yang oleh Thomas Aquinas disebut bersama beragam.

Apa yang digagaskan oleh Breton, juga dapat kita temukan dalam Meister Eckhart, ketika ia menganalisis naskah Kitab Keluaran 3: 14 Ego sum qui sum. Aku adalah aku yang ada. Bagi dia ada tiga penegasan yang dapat direfleksikan dari ungkapan ini: Allah itu kesempurnaan abadi. Allah yang sempurna secara total mernjadi daya itu sendiri, yang dengannya manusia terdesak untuk membuat satu pengakuan refleksif (pembalikan) akan Dia dengan kualitas yang in se dan per se; Dan pengakuan refleksif ini terungkap dalam satu gerakan dan tindaka untuk selalu mengambil keadaan istirahat, tinggal bersama Dia. Ketiganya ini menjadi satu. Pembalikan (conversione) adalah sesuatu yang inteligibel atau dipahami hanya ketika ada proses kembali ke tempat semula (awal) untuk berdiam atau tinggal di sana .
Eckhart menunjuk pada satu disposisi untuk senantiasa berada bersama Allah seabgai sumber kesempurnaan. Apa yang direfleksikan Breton dan Eichart juga kemudian menjadi nyata ketika Yohanes dari Salib mengembangkan satu mistik filosofis untuk berdiam bersama Allah dalam satu persekutuan di Gungung Karmel, puncak kesempurnaan dalam Allah.

St. Yohanes dari Salib adalah seorang Karmelit dari Spanyol yang dikenal sebagai pujangga Gereka, penyair dan mistikus Kristiani besar dari abad ke-16. Pengalaman mistiknya yang luar biasa, dapat kita temukan dalam karya-karya puisinya yang agung dan syair pujian mistis, yang tampak sebagai sebuah pedoman dan bimbingan ke hidup yang sempurna. Ia membangun satu puncak mistik Kristen, sebuah mistik yang universal. Entahkah ide Breton, Eckhart dan ajaran Yohanes dari Salib sanggup menjembatani satu bentuk pencarian hidup antara kisah spiritual mistik dan pencerahan filosofis untuk menata sebuah kehidupan yang bisa dianggap “lebih” untuk dihidupi? Rasa ingin tahu akan perjalanan mistis-filosofis Yohanes dari Salib akan diuraikan dalam tulisan ini dengan menganalisis karyanya: Mendaki Gunung Karmel

2. Catatan Biografi

St. Yohanes dari Salib dilahirkan pada tahun 1542 di Fontiveros (dekat Avila) dari Ayah Ponzalo de Yepes dan Ibu Caterina Alvares. Sesudah kematian ayahnya, ia dan keluarganya berpindah ke Medina del Campo. Di tempat ini ia bekerja sebagai perawat di rumah sakit dan menjadi pelukis dan pemahat. Antara tahun 1551 - 1559 ia mengikuti pendidikan budaya dan seni di Kolese Medina del Campo. Tahun 1559-1563 dia mendalami studi tentang humanisme dan filsafat di Kolese Jesuit di Medina del Campo. Sejak tahun 1963 ia menerima busana religius sebagai seorang Carmelit dengan memilih nama biara : Yohanes dari Santu Matius. Setelah pengikraran kaul ia berpindah ke Salamanca untuk mendalami filsafat dan teologi selama 4 tahun (1564-1568). Selama masa studi ini Yohanes dari Salib berkenalan dengan Santa Theresia dari Avilla, yang kemudian membantu dia untuk memulai suatu pendidikan kontemplatif untuk para fraternya. Yohanes dari Salib ditahbiskan tahun 1567. Setelah menyelesaikan studinya, ia kembali ke Medina, dan dari sana, ia dipindahkan ke San Teresa di Valladolid, tempat ia memulai sebuah biara kontemplatif.

Tahun 1569-1572 ia menjadi formator kemudian tahun 1557 ia menjadi pemimpin monastik. Ketika ia menjadi pemimpin monastik (1557) terjadi konflik soal yurisdiksi antara Carmel Antik dan Carmel bentukan Yohanes dari Salib. Konflik ini berakibat pada dipenjarakannya Yohanes dari Salib selama 9 bulan di penjara Toledo. Periode penjara ternyata menumbuhkan semangat mistiknya. Hal ini terungkap dalam sebuah puisi terkenalnya, Malam Gelap .Setelah keluar dari Toledo, Yohanes melanjutkan pelayanannnya sebagai pemimpin komunitas, formator, bapak pengakuan, direktur spiritual kaum religius, jenderal bentukan Teresia, dewan dan wakil jenderal. Ia juga sering melakukan perjalanan seperti ke Almondovar, Baeza, Granata. Pada tahun 1591 ia berangkat ke Meksiko dan Povinsi Andalusia. Di tempat terakhir ini, ia mulai sakit-sakitan dan meninggal dunia antara tanggal 13 dan 14 Desember tahun 1951 dalam usia 49 tahun. Pada tahun 1675 dia dibeatifikasi oleh Paus Clemens X dan pada tanggal 27 Desember 1726 ia dinyatakan kudus (kanonisasi) oleh Paus Benediktus XIII. Tanggal 24 Agustus 1926 ia digelari Pujangga Gereja oleh Paus Pius XI, dan pada tahun 1993 dia dikukuhkan menjadi pelindung para penyair dalam bahasa Spanyol oleh Paus Yohanes Paulus II. Beberapa karya utama St. Yohanes dari Salib dalam bidang mistik kristiani adalah: Mendaki Gunung Karmel, Malam Gelap, Hidup dari Nyala Kasih.

3. Mendaki Gunung Tuhan: Perjalanan Mistik yang Aktif
3.1. Keaslian dan Sumber Karya Mendaki ke Gunung Karmel

Sebenarnya karya Mendaki Gunung Karmel tak dapat dipisahkan dari karya lain, Malam Gelap. Kedua karya ini sebenarnya terbentuk dari puisi Malam Gelap, yang ditulis oleh Yohanes dari Salib dalam Bahasa Spanyol, ketika ia berada di penjara Toledo tahun 1578. Puisi ini memiliki makna simbolik, dengan komposisinya yang artistik. Ada muatan subtansi filosofis, makna teologis yang menghantar kita untuk membentuk suatu pemikiran mutakhir. Isinya yang padat, menyingkapkan rahasia perjalanan mistis dari kehidupan kaum kristiani di bumi ini.

Puisi ini terbentuk dalam delapan stanza (bait). Bait 1-4 berbicara tentang kelepasan dari penghambaan kesenangan menuju ke pencarian akan cinta tapi dengan melalui pengalaman kecemasan, penderitaan, kegelapan. Bait kelima melukiskan perjumpaan dengan Cinta Agung, Ilahi. Bait 6-8 menggambarkan satu persekutuan (komunio) yang hidup dan berdaya dengan Allah . Refleksi Yohanes dari Salib dan uraian atas kedelapan bait puisi ini menghasilkan dua karya klasik dalam literatur mistik Kristen, yakni: Mendaki Gunung Karmel, sebuah doktrin tentang jalan menuju kesempurnaan yang bersifat aktif, dan Malam Gelap, sebuah ajaran mencapai kesempurnaan yang bersifat pasif. Kendati kedua karya ini berbeda (dalam judul), tapi sebenarnya merupakan satu komposisi berupa bimbingan dalam mencari dan mencapai persekutuan dengan Allah, keagungan tertinggi, yang ia simbolkan dengan “Gunung”.

Cukup sulit untuk mengidentifikasi buku-buku atau penulis mana yang melatarbelakangi Yohanes dari Salib dalam pelbagai pemikiran, karya dan kehidupannya. Alasannya adalah bahwa penggunaan kata-kata dalam puisinya memiliki makna yang khas. Meski demikian dari karya-karyanya kita dapat menemukan sumber atau aspek yang melatari pemikiran dan kehidupannya.

3.1.1. Hidup dan Pengalaman

St. Yohanes dari Salib hidup di Spanyol pada abad XVI, yang ditandai oleh maraknya akktivitas politik, agama dan kebudayaan. Dalam bidang agama, ia menemukan bahwa konsep atau pandangan tentang kehidupan spiritual sangat penting. Bagi dia kehidupann spiritual tidak cukup kalau hanya sekedar suatu kegiatan mental, satu bentuk kehidupan mistis dengan pendasaran teologi dan psikologi. Sehubungan dengan ini ada tiga kategori penting yang bisa memperlihatkan pengalaman sekaligus kehidupannya: pertama, aspek paling luas yang kita temukan dalam tema-tema tulisannya yakni kebijakan teologal, “malam”, kristologi, Trinitas, kontemplasi. Kedua, pengalaman personal yang ia masukan dalam karya tulisnya yakni: kehidupan ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya, kasih persaudaraan, devosi kepada Maria. Ketiga, refleksinya tentang pengetahuan dan pengalaman selama belajar filsafat di Universitas Salamanca dan pengalamannya setelah keluar dari penjara Toledo sebagai pemimpin di Andalusia, sebagai vikaris pada biara Calvari, rektor rumah, pendiri Kolese Berkasut, serta guru spiritual untuk kaum religius.

3.1.2. Kitab Suci

Yohanes Dari Salib memiliki minat tersendiri dalam membaca Kitab Suci. Ia tertarik dengan tokoh-tokoh yang dikisahkan dalam Kitab Suci seperti Daud dalam Mazmur, Yakub, Musa, Paulus, Petrus yang mengalami dan bertemu dengan Yahwe dan Yesus. Ia menggunakan Kitab Suci sebagai pengungkapan pengalaman untuk mengafirmasi ajarannya. Ketika Musa ingin mendaki Gunung Sinai, Allah meminta dia untuk berjalan seorang diri, meninggalkan Israel di lembah (Kel 34: 3). Bagi Yohanes Dari Salib, Israel adalah simbol “pelbagai keinginan”, sebagaimana keinginan mereka untuk kembali ke Mesir. Ia juga menggunakan Mazmur Daud untuk mengungkapkan kerinduan dan kehausan jiwa dalam mencari Allah . Ia juga memandang perisitiwa Yesus yang hidup, berkarya dan meninggalkan dunia sebagai Yesus revelasi dalam Kitab Suci bagai sebuah gerak, peralihan menuju Allah.

3.1.3. Sumber – sumber Lain
Selain beberapa sumber yang telah disebutkan di atas, ada juga karya dan pemikiran kaum mistik sebelumnya yang mempengaruhi Yohanes dari Salib. Ajaran Plato tentang cinta dan keindahan, ajaran Aristoteles tentang pengetahuan, karya Santu Agustinus dan Tomas Aquinas serta Neoplatonisme sungguh merupakan inspirasi bagi Yohanes dari Salib dalam mengembangkan dan menghidupi ajarannya. Sumber lain yang bisa disebutkan antara lain St. Bernardus, Hugo a Richard dari Victoria, mistik Spnayol abad XVII (Osuna, Lardo, St. Theresia), puisi Spanyol abad XVI (Garcilasso, Romancerosi), semua ini turut mempengaruhi pandangan Yohanes dari Salib .


3.2. Struktur Buku Mendaki Gunung Karmel

Mendaki Gunung Karmel memperlihatkan bangunan kokoh dari sebuah karya yang memiliki kesatuan dan pemikiran yang luar biasa. Frase–frase yang digunakan sungguh padat berisi dan bentuk pengulangan sungguh menggarisbawahi makna yang mau diungkapkan. Ia berusaha menjelaskan seluruh konsep dalam bentuk analogi. Ia membagi karya ini dalam tiga buku. Buku Pertama, memuat 15 bab yang berbicara tentang purifikasi aktif dari pengalaman indrawi. Bab 1-5 berbicara tentang ide, simbolisme, dasar biblis-teologis. Bab 6-10 berbicara tentang dampak negatif keinginan. Bab 11-15 berisi uraian-uraian umum dan aplikasinya. Buku Kedua memuat 32 bab, yang berisi tentang iman sebagai sarana persatuan dan malam gelap. Bab 1-4 beris gagasan dan kegelapan misteri. Bab 5-7 berisi prinsip dasar persatuan cinta. Bab 8-18 berbicara tentang iman dalam persepsi indrawi, pendidikan, dan norma dalam bertindak. Bab 19-22 berbicara tentang Yesus Kristus, Sabda kesatuan dan definitif dari Allah, dilengkapi dengan contoh biblis. Bab 23-32 berbicara tentang kegelisahan intelektual dan pelbagai modalitas. Buku Ketiga, memuat 45 bab yang berbicara tentang pengalaman kenangan, cinta dalam kehendak. Selain itu ada dua tema yang berhubungan dengan kenangan yakni jalan kodrati (bab 2-6), jalan adikodrati (bab 7-14). Dalam hubungan dengan kasih radikal dalam kehendak, disediakan pembicaraan tentang iman (Bab 32) dan cinta (Bab 35).

Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang karyanya, perlu dijelaskan skema pembagian karyanya dalam tiga buku tersebut. Skema pertama mencakup pendahuluan, pembagian buku dan peorganisasian ide, doktrin dan pemaparan pelbagai bahan. Dalam skema ini Yohanes dari Salib menjelaskan “malam pertama”, yang adalah aspek indrawi dari jiwa. “Malam kedua” merupakan bagian spiritual dari jiwa yang dibicarakan pada skema kedua. Pada skema ketiga dalam buku tiga berisi tema-tema teologi seperti iman, harap, cinta. Kebijaksanaan ini dipandang sebagai sarana yang menghantar orang ke dalam persekutuan dengan Allah.

3.3. Mistik yang Aktif

Sebelum melihat lebih jauh pelbagai tahap dalam perjalanan untuk bersatu dengan Allah, perlu dipahami beberapa term teknis yang digunakan St. Yohanes dari Salib dalam karyanya.

a. Malam
Penggunaan istilah malam dalam bukunya sangat kompleks. Menurut dia, malam gelap berhubungan degan sebuah kisah perjalanan. Dalam SC I,2 kita menemukan tiga makna dari malam gelap. Pertama, malam adalah term yang menunjuk pada jiwa yang meninggalkan seluruh kebaikan temporal, yang keluar dari keinginan dan ketidaksempurnaan aspek sensibel atau indrawi manusia. Dalam arti ini, malam identik dengan waktu remang-remang, hari senja, matahari yang hampir terbenam. Dalam artian rohani, malam memperlihatkan malam pertama yang menunjuk bagian indrawi, aspek jasmaniah manusia (jiwa indrawi). Kedua, malam adalah jalan itu sendiri di mana jiwa melaluinya menuju Allah. Arti ini disimbolisasikan dengan waktu tengah malam. Menurut Yohanes dari Salib tengah malam (a mezzo notte) menunjuk pada iman yang bagi intelektual merupakan gelap seperti malam. Ketiga, malam di mana sebagian jiwa sebenarnya merupakan Allah itu sendiri, yakni kesempurnaan murni. Malam dalam artian ketiga ini dapat dibandingkan dengan saat subuh menjelang matahari terbit. Malam ketiga adalah kulminasi atau puncak persatuan antara jiwa dan Allah. Inilah malam komunikasi tetapi belum definitif. Ia menjadi malam yang sempurna kalau jiwa meninggalkan dunia.

b. Gunung
Pemakaian istilah gunung dan pemaknaan dalam karya Yohanes dari Salib sama dengan makna gunung secara biblis. Puncak gunung dalam karya ini merupakan simbolisasi dari kesempurnaan di mana Allah berdiam, pernyataan dari rahmat dan kebijaksanaan yang hanya dalam Allah. Dari “puncak” Allah memanggil manusia untuk berjalan menuju Dia. Inisiatif yang kudus datang dari Allah sendiri. Judul “Gunung Karmel” menurut Frederico Ruiz, mengibaratkan satu pembaruan persekutuanIsrael dengan Allah, sebagai akibat dari ketidaksetiaan bangsa Israel. Karen itu penting adanya satu gerak pembaruan dan pembalikan dengan berjalan di jalan Allah menuju Allah sendiri. Yohanes dari Salib menyebut tiga model jalan itu.

c. Jalan
Yohanes dari Salib menyebut tiga kemungkinan bagi seorang beriman dalam usaha perjalanannya untuk mencapai “gunung” kesempurnaa.

1). Perjalanan di sebelah kiri, disebut juga jalan sesat. Jalan ini adalah tipe jalan kesenangan duniawi, sebuah jalan kesia-siaan, dan menghantar orang berbalik dari arah ke jalankesempurnaan. Yang berjalan di jalan ini adalah mereka yang menolak panggilan Allah, panggilan untuk bersekutu dengan Allah. Ketika seorang beriman memilih jalan kiri, ia akan berhadapan dengan kekecewaan, kegelisahan dan karena itu ia tak dapat mendaki ke arah gunung.

2). Perjalan di sebelah kanan, sebuah corak jalan yang bersifat tidak sempurna. Para pengguna jalan ini mengakui bahwa ada panggilan dan ada jawaban terhadap Allah. Mereka sebenarnya sedang berada di jalan menuju ke allah, tetapi mereka masih tergiur dan terpesona hanya oleh kewajiban moral. Karena itu mereka tidak bertekun dalam usaha persatuan personal dengan Allah. Karena itu jalannya penuh dengan kelokan, menjadi begitu sulit dan karena itu ia mulai menyimpang. Ia kemudian tidak sanggup mencapai puncak gunung.

3). Jalan tengah. Jalan ini lurus tapi sempit, tapi tanpa rintangan. Sebuah jalan tak bersyarat terhadap panggilan personal Allah. Jalan ini merupakan serangkaian jalan yang mengehndaki kekosongan, meninggalkan yang lain. Tipe jalan ini adalah sempit dan sesak sebagaimana yang sering digunakan Yesus dalam pengajarannya tentang hal kerajaan Surga. Bertitik tolak dari tiga simbolisasi yang digunakan St. Yohanes dari Salib, kita dapat menjelaskan tiga karakteristik mistiknya sebagai berikut

1. Mistik dengan pendasaran teologi dogmatik
Meskipun aspek mistik membutuhkan aktivitas jiwa, bagi St. Yohanes dari Salib, Allah sendirilah yang memulai inisiatif untuk berkomunikasi dengan manusia (jiwa). Allah turun da mendiami puncak gunung. Ia mengundang kita untuk datang kepadanya sebagaimana Ia mengundang Yakub di Betel atau Musa di Sinai. Ada tiga hal dasariah bagi kita untuk mendatangi Tuhan demi perjumpaan kita dengannya: persatuan cinta, yang merupakan landasan bagi perjalanan kita, kebajikan teologial (iman, harap, cinta), yang merupakan dinamisme yang merealisasikan persatuan dan cinta, dan Kristus: Cinta inkarnatoris yang merealisasikan perjalanan cinta. Yesus adalah Sabda Satu-satunya dan definitif dari Allah. Dalam Kristus, allah bersabda dan menyerahkan segalanya. Ia adalah penjelmaan personal dan kesempuranaan itu. Kita menemukan bahwa dalam karya St. Yohanes dari Salib, terdapat relasi antara dogmatik dan teologi mistik. Perjalanan St. Yohanes dari Salib mendaki dan mencapai mistik tertinggi dan sanggup tinggal di puncak tanpa tersandung karena meyatukan dan menyeimbangakn anatara aspek teologi mistik dan dogmatik. Misteri agung iman kristen (Trinitaris, inkarnasi, penebusan, Rahmat, roh Kudus) sungguh merupakan prinsip-prinsip dasariah dalam membimbing orang untuk mencapai puncak “gunung”

2. Mistik Teologi Biblis
Menurut kesaksian P. Alanso de la Madre di Dio da Sr. Magdalenna del Spirito Santo, St. Yohanes dari Salib adalah seorang pribadi yang menaruh perhatian dan minat yang tinggi pada Kitab Suci . Banyak ajaran yang dikembangkan dan dihayatinya diinspirir oleh Kitab Suci. Misalanya dalam jalan ketiga (jalan tengah) menuju Allah, ia mengambil ajaran Yesus dalam Matius 7:13-14 : “.... Sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan...” Metafora “mendaki” menunjukkan tapak-tapak kaki yang melalui jalan terjal dan berkelok-kelok dalam kehidupan. Satu lukisan yang memperlihatkan bahwa untuk mencapai kesempurnaan dalam hidup bukanlah hal yang gampang. Kita membutuhkan sikap pengorbanan dan kerja keras. Ada keiklasan untuk meninggalkan segala yang merintangi perjalanan mencapai kesempurnaan dalam Allah. Ketika Yakub pergi ke Betel untuk membangun mesbah bagi Allah, dia dan khalayak yang menyertai dia diminta untuk meninggalkan segala bentuk penyembahan mereka, seluruh bentuk idola (kelekatan dan kesukaan, kenikmatan di luar Allah). Mereka diminta untuk menyucikan diri dan menanggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Mereka diminta menanggalkan pakaian lama karena Allah akan mengenakan mereka pakaian baru .

3. Mistik Asketis
Satu aspek lain yang mendapat perhatian Yohanes dari Salib dalam usaha persatuan dengan Allah adalah negasi, sikap penyangkalan (negasi). Penyangkalan dilihat sebagai satu sikap hidup yang mendasar dalam kehidupan teologal, yang selalu berorientasi dan berkorelasi dengan aspek transendensi. Sika penyangkalan total demi cinta, diperoleh dalam cinta itu sendiri, karena tak seorang pun yang menyangkal cinta, pada saat yang sama kehilangan keberanian untuk mengungkapkan cinta yang mendesak atau mendorongnya (SC I, 14,2). Bagi Yohanes dari Salib, penyangkalan juga merupakan satu bentuk komunikasi supernatural dengan Allah. Karena dengan pertarakan ini kita dihantar kepada keheningan, komunikasi batiniah dan personal, tanpa dicemari atau dilumuri kebosanan seperti terhadap objek tertentu. Ketika seorang pertapa pulang dari pertapaan, sang murid datang kepadanya dan berkata, “ Guru, aku ingin bersatu dengan Tuhan di dalam doa”. Sang guru menjawab, Anakku, apa yang kau inginkan itu mustahil”. Ia menyela lagi, “Mengapa”? Bukankan ini kerinduanku”? Dengan tenang sang Guru berkata, “ Anakku engkau perlu terbuka dan sadar. Di mana engkau ada, Tuhan tidak ada. Dan di mana Tuhan ada, engkau tidak ada bagaimana engkau bisa bersatu dengan Dia? Karena itu carilah kesunyian, keheningan. Jika engkau sibuk dengan dirimu, engkau tidak sunyi. Jika engkau sibuk bersama orang lain, engkau juga tidak sunyi. Satu-satunya jalan untuk bersatu dengan Tuhan adalah menjadi sunyi sama sekali. Di situlah Tuhan akan ada dan engkau pun ada”. Keheningan oleh karena pertarakan bukanlah hening impoten. Inilah makna mistik asketis itu.

4. Mistik St. Yohanes dari Salib dan Filsafat
Adalah sebuah fakta historis bahwa mistik kristen baik itu jaman klasik, abad pertengahan dan sebagaian abad modern turut terbentuk dari pengaruh neoplatonisme . Mistik adalah fenomena yang terungkapk dalam bahasa dan metafisika. Sebagai bagaian dari filsafat bahwakan inti filsafat, metafisika berorienetasi pada ada yang supranatural, ada yang berada di belakang atau sesudah hal fisis (ta meta ta physica). Pencarian mistik secara essensial bersifat supranatural dan tergantung dari sikap pasif, yang sangat berbeda dengan yang dinyatakan seabgai persepsi natural tentang ada dan ciptaan seabgaimana lukisan filasafat. Mistik St. Yohanes dari Salib adalah sebuah mistik filosofis. Kebenaran ini dapat kita temukan dalam indikasi berikut ini:
a. Jiwa adalah substansi immaterial yang memiliki kapasitas atau daya untuk tinggal dalampersekutuan dengan Allah. Dalam bidang filsafat jiwa adalah bagian rohani manusia, substansi immaterial atau bagian yang inteligibel. St. Yohanes dari Salib nampaknya mendapat pengaruh dari Plato dalam pembicaraantentang kodrat Jiwa. Dalam filsafat Plato, misalnya, keberadaan jiwa merupakan bagian tertinggi (dari tiga pembagian Plato), nous atau bagian intelek dan hanya bagian inilah yang dapat mencapai kebenaran setelah ia memishakan diri dari badan. St. Yohanes dari Salib berbicara tentang perjalanan jiwa menuju Allah. Dalam SC I,1, ia menamakan bagian sensual dari jiwa dengan malam pertama. Sedangakan malam kedua dan ketiga disebuatnya sebagai bagian sppiritual dari jiwa. Jiwa memilliki daya dan kemampuan untuk berada dalam persekutuan dengan allah ketika ia sudah dibebaskan dari pelbagai ketidaksempurnaan. Hal ini berarti bahwa ketika ia terbebaskan daribadan dan pengaruhnya.

b. Jalan Penyangkalan
Dalam filsafat neo platonisme, pendekatan dialektis dipakai sebagai sebuah metode untuk mencapai pengetahuan akan Allah. Pendekatan dialektis ini terdiri dari tiga tahap predikatif artinya satu bentuk affirmasi bahwa segala sesuatu berada pada Allah, tadap dispredikatif di mana satu negasi terhadap apa yang sudah ditegaskan pada bagian terdahulu, dan tahap terakhir, univok dan equivok dalam kaitannya dengan tingkatan superlatif . Dengan jalan penyangkalan, dimaksudkan satu tindakan radikal dalam hal pemurnian, yakni usaha melawan atau menyangkal seluruh kebaikan dan kesenangan atau kenikmatan sensual, badani, indrawi. Aspek pemurnian atau pemberishan (purifikasi) nyata dalam tiga fakultas jiwa (psikologis) yakni intelek, memori dan kehendak. St. Yohanes dari Salib mendukung ajaran ini. Bagi dia tiga daya jiwa ini berkorelasi dengan tiga kebajikan teologal: iman, harap dan cinta. Tiga kebajikan ini berperan dalam menghalau kehampaan yang mempengaruhi potensi jiwa. Iman berkorelasi dengan kekelaman dalam pengetahuan intelek, harapan mengusir pelbagai kehampaan yang dihasilkan dari kenangan akan kepemilikan, dan kasih menghalau kehampaan yang dihasilkan dari pelbagai keinginan atau kehendak di luar Allah. Tap bagaimana seluruh potensi ini dapat mencapai persekutuan dengan Allah? Bagi St. Yahanes dari Salib dalam setiap kisah perjalanan spiritualnya, jiwa senantiasa meliwati malam kelam ini dengan bersadar pada tiga kebajikan teologal di atas. Karena itu bagi dia untuk bersatu dengan Allah mutlak perlu sikap beriman untuk mengerti (imanyang menolong akalbudi), dan harapan seturut memori atau kenangan dan kasih seturut kehendak.

c. Eksistensi, Dinamisme dan Keabadian Ketika kita berbicara tentang perjalanan jiwa menuju persatuan dengan Allah ada satu konsep yang tak dapat dihindari yakni St. Yohanes dari Salib menghubungkannya dengan gagasan ontologis dalam keterkaitannya dengan eskatologi. Hal ini nyata dalam satu pandangan eksistensialitas manusia. Eksistensi manusia melekat erat pad manusia. Manusia adalah sebuah eksistensi. Identitas manusia termanisfestasi dalam historisitasnya. Kodrat historis manusia terungkap dalam tri dimensi waktu, yakni masa lampau, masa sekarang dan masa depan. . Eksistensinya dalam masa lampau menjadi eksistensi masa sekarang dalam sebuah telos (keterarahan) untuk tiba pada masa depan, yakni eksistensi murni, yaitu causa atau penyebab segala sesuatu. Setiap usaha untuk membuktikan eksistensi Allah bersandar pada dua aspek ini realitas dan intelektualitas, tetapi realitas yang yang didalamnya saya memiliki pengalaman tidak akan menyinggung aspek intelektual jika saya tidak bersentuhan dengan pengalaman lain, sebuah fakta dan prinsip dasariah .

Dengan konsep demikian saya kira Yohanes dari Salib menegaskan satu kodrat lain dari manusia yakni keterarahan kepada Yang ilahi. Hanya ketika seseorang memiliki pengalaman keterbukaan kepada ssbuah prinsip dasariah yang ia yakini sanggup memberikan sesuatu daya dalam kehidupannya maka aspek intelektualitas berperan di sana. Banyak filsuf Kristen telah merefleksikan satu keterbukaan natural manusia akan yang ilahi sebagaimana nyata dalam pengalaman beragama.

Romano Guardini, misalnya, mengungkapkan bahwa suara hati adalah jalan menuju pengetahuan akan Allah. Senada dengan Guardini, Newman juga melihat bahwa hati nurani merupakan jalan menuju pengatahuan akan Allah. Berkat hati nurani, manusia sanggup mengetahui dua hal tentang Tuhan: Pertama, Tuhan itu ada, dan kedua melalui wahyu khusus. Blondel menganalisis dinamika kehendak dan tindakan manusia yang nyata dalam tahap-tahap kehendak manuisa untuk bereksodus (espansi) dalam tindakannya (dari tahap . fenomen, hingga pengakuan akan l’unique necessaire, Ada yang seharusnya). Atau Blaise Paschal memperkenalkan intuisi sanubari sebagai tempat dimungkinnkannya pengenalan akan Allah. K. Rahner juga menmpuh jalannya tersendiri dalam menjelaskan keterbukaan manusia dalam pengenalannya akan Allah. Jalan yang ditempuh Rahner adalah menjelaskan satu dinamika intelek, satu keterbukaan intelek manusia bagi firman Allah dalam peristiwa sejarah. Gambaran Rahner tentang manusia adalah cara di mana Allah masuk dalam gambaran itu. Maksudnya bahwa hubungan manusia dengan Allah adalah satu hubungan yang dasariah bagi keberadaan manusia. Bagi Rahner entah kita sadar atau tidak kita sudah terhubungkan dengan Allah. Hubungan inilah yang sangat menentukan dan mengakar dalam diri kita, sehingga kita hanya bisa melakukan sesuatu setelah kita melibatkan Allah. Pernyataan Rahner bahwa manusia sudah terhubungkan dengan Allah entah disadari atau tidak, dijelaskannya dengan menganalisa aspek pengetahuan manusia. Bagi Rahner dalam pengetahuan kita yang paling sederhana dan dasar tentang satu obyek, kita sudah memiliki kesadaran akan “Ada (Being) Yang tak terbatas” dan selanjutnya hal ini menghantar kita pada kesadaran akan Allah. Misalnya ketika kita menyebut “ Ini adalah sebuah kursi”, dalam tindakan intelektual akan kursi ini, subyek memiliki kesadaran tertentu atas “Ada” atau Being . Pertanyaan lanjut adalah bagaimana Rahner menganalisis pengetahuan atas obyek tertentu secara otomatis menghantar kita pada pengatahuan atau kesadaran akan “yang tak terbatas”? Lalu bagaimana kita bergerak dari yang tak terbatas ini menuju Allah? Bagaimana satu pembicaraan tentang kesadaran akan Allah dalam konteks ini?

Bagi Rahner manusia sebagai ada yang absolut, yang sanggup berorientasi kepada Allah karena pengetahuan dan interpretasinya terhadap sabda, sebagai sesuatu yang sudah diberikan sebelumnya (vorgriff). Inilah yang memungkinkan manusia menuju Allah. Rahner menggunakan istilah teknis VORGRIFF (dalam bahasa Inggris: pre-apprehension atau pra pemahaman dan istilah anticipation - antisipasi). Pre-aprrehension berarti kodrat/natura dari jiwa yang mampu mengenal apa yang diperlihatkan secara indrawi (sensibel), kemudian menginformasikannya kepada intelek sehingga intelek memahami (mengerti). Dengan kata lain: jiwa mengenal kodrat universal dari segala sesuatu. Inilah yang membuat manusia terbuka kepada ada yang tak terbatas. Tesis Rahner ini cukup dasariah dalam perkembangan teologi lebih lanjut. Misalnya, ketika ia memberika kuliah teologi di Chichago, tahun 1966, ia mengatakan bahwa segera setelah manusia dipahami sebagai “ada” yang memiliki transendensi yang absolut menuju Allah, maka antroposentris dan teosentris dalam teologi tidak bertentangan. Keduanya secara tegas merupakan hal yang satu dan sama, yang dilihat dari dua aspek yang berbeda. Setiap aspek tak dapat dipahami jika tidak disertakan aspek lainnya. Bahwa teologi dapat menjadi antroposentris tidak bertentangan dengan hakekat teosentris: karena adalah sesuatu yang kontradiktif kalau berbicara secara teologis tentang Allah, tanpa pada waktu yang sama berbicara sesuatu tentang manusia, atau sebaliknya. Pembicaraan tentang Allah dan pembicaraan tentang manusia berhubungan: tidak hanya dari sudut tilik isinya, tetapi juga dari segi pengetahuan itu sendiri .

Rahner lalu mengembangkan konsep “mengetahui” dalam gambaran relasi manusia dengan Allah. Contoh ketika saya mengatakan “ Ini adalah sebuah kursi”, saya sendiri sudah memiliki pengetahuan atau makna tertentu (bdk denga apriori pengetahuan dari Kant), ketika menyebutkan frase “ini adalah kursi”. Bagi Rahner dalam semua tindakan intelektual dan dalam semua tindakan mengetahui suatu obyek tertentu di dunia ini, saya sebagai subyek memiliki kesadaran terentu atas “Ada” (Being) “yang tak terbatas” dan yang selanjutnya disebut Allah. Jika kita membuat analisis filosofis atas pandagan Rahner ini, maka kita bisa temukan dua langkah yang diambilnya: Pertama, Rahner menunjukkan bahwa pengetahuan atas sesuatu yang terbatas secara otomatis mendorong kita untuk menyadari akan “yang tak terbatas”. Kedua, bagaimana kita bergerak dari yang tak terbatas menuju Allah.

Rahner menjelaskan dua macam gambaran untuk menunjukkan hubungan antara kesadaran kita akan Allah. Gambaran pertama adalah gambaran tentang gerakan: Rahner menjelaskan bahwa ketika pikiran manusia sanggup mengjangkau keluar dari obyek yang ada (dan terbatas), seperti kursi, meja, dsb, maka ada gerakan menuju yang tak terbatas dan Allah. Hanya dalam proses “pengjangkauan” inilah sebuah benda tertentu dapat ditangkap dan dipahami. Dengan demikian pikiran kita memiliki dinamisme, satu dorongan dasariah untuk bergerak dari yang terbatas ke yang tak terbatas dan pengakuan akan Allah. Dinamisme ini merupakan syarat penting bagi satu pengetahuan. Jika dorongan menuju yang “tak terbatas” tidak ada, maka yang tak terbatas juga tidak ada dan tidak akan berarti. Dengan ini Rahner mau mengatakan bahwa dalam setiap tindakan yang terbatas terdapat dinamisme menuju tujuan yang tanpa batas Gambaran kedua adalah gambaran tentang cahaya. Kita memang memiliki mata untuk melihat. Mata adalah sebab untuk melihat, tapi tidak cukup. Untuk bisa melihat kita butuhkan sebab lain, yakni cahaya. Ketika kita melihat sebuah buku, pada saat yang sama kita memiliki kesadaran atas cahaya yang memungkinkan kita untuk melihat buku tersebut. Kesadaran kita akan yang tak terbatas dan Allah dapat dibandingkan dengan garis-garis cahaya yang menjadikan benda-benda tertentu dapat diketahui . Dengan dua gambaran ini Rahner menunjukkan bahwa semua pengetahuan kita akan benda-benda selalu dimungkinkan adanya kesadaran akan Allah, bahkan segala yang kita lakukan, keinginan, kebebasan pada tingkat tertentu merupakan dinamisme menuju Allah.

Persoalan bagaimana dengan perbuatan membunuh, menjarah, memperkosa, dll, yang merupakan tindakan negatif? Apakah ini juga merupakan bagian dinamisme kepada Allah? Rahner menjawab “Ya”. Bagi dia, kebebasan yang digunakan oleh manusia baik dalam hubungan dengan tindakan yang jahat atau pun tindakan yang baik, kebebasan ini tidak dapat terjadi tanpa adanya keterkaitan dengan Allah. Mengapa? Karena kita mungkin memilih bertindak dengan cara-cara yang sama sekali bertentangan dengan kenyataan bahwa kita diarahkan menuju Allah, tetapi kemampuan untuk memilih berasal dari ketararahan ini . Ajaran St. Yohanes dari Salib Nella memperlihatkan bahwa jiwa dapat masuk dalam partisipasi eksistensi yang ilahi. Jiwa dalam perjalanannya menuju eksistersi murni, hadir berada sebagi “imago Dei” . Ia berdiam dalam eksistensi murni jika Allah merevelasikan diri dalam partisipasi tersebut. Dalam konsep pasrtisipasi, persona dan pengalamannya menjadi satu. Dalam hal ini perealisasian manusia (jiwa) sebagai imago dei tidak tidak menjadi Allah itu sendiri, tetapi imago Dei seabgai partisipan. Karena itu jiwa ketika berada dalam persatuan dengan Allah bersifat abadi berkat partisipasinya dengan keabadian Allah (Allah yang badi). Maka dia bukan Allh lain.

5. KESIMPULAN

Dalam bagian keseimpulan ini dapt diebutkan beberapa poin relevansi mistik St. Yohanes dari Salib dalamkehidupan kristiani.

a. Studi tentang mistik, teologi dan spiritual Karya St. Yohanes dari Salib asalah sebuah karya yang bisa dipakai sebagai bimbingan bagi kaum beriman dalam kehidupan spiritualnya secara khusus bagi mereka yang berkehendak untuk mengalmai perkembangan dan pertumbuhan dalam persatuan dengan Allah. Paus Pius XI ketika menggelari St Yohanes dari Salib sebagai Pujangga Gereja mengatakan bahwa St. Yohanes dari Salib telah memperlihatkan jiwa seabgai jalan menuju kesempurnaan yang berkat cahaya ilahi. Kaum beriman seyogyanya memperoleh ajaran spiritualitasnya untuk belajar bagaimana berziarah menuju kesempurnaan.

b. Praktik spiritualitas, kontemplasi dan gerakan mistis masih senantiasa relavan dan dihidupi dalam dunia dewasa ini. Dan ini menjadi kekayaanRoh dan rahmat Allah yang berkarya di bagi seluruh umatnya. Karena itu kecenderungan berpikir bahwa kehidupan mistik hanyalah diperuntukkan bagi kaum religius, apalagi religius kontemplatif adalah sebuah kesesatan berpikir. St. Yohanes dari Salib dalam karya-karyanya mengundang kita untuk memhami kehidupan mistik seabgai satu aspek essensial dalam kehidupan beriman kristiani.

c. Suatu studi tentang keidupan ekumene dan intereligius. Dalam mistiknya, St. Yohanes dari Salib hadir sebagai seorang pelopor yang membuka horison baru dan menjadikan mistik sebagai jembatan dalam berkorelasi dengan agama dan budaya lain. Tema-tema mistiknya nyata seabgai disiplin ilmu yang mencerahkan, memurnikan kehidupan manusia. Persatuan dengan Allah dapat diibaratkan dengan pemikiran mistik timur seperti hinduisme, budhisme dan brahmanisme di India. Misalnya, yoga (menyatukan diri dengan tarikan napas) berati persatuan. Arti ini kemudian menjadi agung ketika dihubungkan dengan pembicaraan tentang persatuan dengan yang Ilahi, yang absolut. Di sinilah kesamaan ajaran Yohanes dari Salib dengan sikap mistis dari Timur seabgai sebuah persatuan dengan Allah yang Absolut. Satu persatuan yang lahir dari kesunyian, kehampaan dan kekosongan diri, kehingan interior dan eksterior untuk mengalami kasih yang membarui diri dan hidup. Kehidupan spiritual dan hidup mistik yang ditemukan dalam buku SC dan NO sungguh merupakan dasar bagi satu sikap penyangkalan akan kehendak, keinginan menuju persatuan cinta jiwa dengan Allah.

BIBLIOGRAFI
Andre Bernard, Charles., Teologia Spirituale, Roma 1996.
Breton, Stanislas., Filosofia e Mistica, Esistenza e Superesistenza, Citta del Vaticano, Roma 1996. Borriello, Liugi OCD., I Mistici e La Mistica, Antologia della Mistica Cristiana, Liberia Editrice Vaticana, Citta del Vaticano, Roma 199.1 Della Croce, Giovani., Salita Del Monte Carmelo. Edizione OCD (traduzione). Associazione Carmelo Teresiano Italiano Roma 2003. _______________., Notte Oscura. Edizione OCD (traduzione Associazione Carmelo Teresiano Italiano, Roma 2003. Duprè, Louis- Wiseman James., Light From Light (vol.II), New York, Paulist press, 2001. Dych,William. tr. Spirit in the World. Palm Publisher: United States, 1968. Ermano, Ancilli -Paparozzi,Maurizio, La Mistica Fenomenologia e Riflessione Teologica.Roma 1984. Guarerio, Elio – Tunis, Dorino., Il Grande Libro dei Santi, Dizionario Enciclopedico Vol.II G-M, San Paolo. Ruiz-Salvador, Frederico OCD., Giovanni della Croce in Ancili, Ermanno – Paprozzi Maurizzio., La Mistica, Fenomenologia e Riflessione Teologica, Cita Nuova Editrice, Roma 1984. Vanni ,S.R. Il Problema Teologico Come Filosofia, Eupress Italia 2005. Vardy,Peter, ed., Karl Rahner. Tokoh Pemikir Kristen. Kanisius: Yogyakarta, 2001. Vitta Cristiana ed Esperienza Mistica, Edizione Del Teresianum, Roma 1982. Wikipedia., General Introduction to the Works of St. John of the Cross, http://www.ccel.org/ccel/john_cross/ascent.ii.vii.html, pages 1 of 24 pages. KARL JASPERS: KOMUNIKASI INTERKULTURAL SEBAGAI FILSAFAT GLOBAL (Bernard Hayong) TO BE GENUINELY true, truth must be communicable. (Karl Jaspers) 1. Pendahuluan Tanggal 4 Juni 2009, ketika Barak Obama menyampaikan pidato pertama dihadapan kaum Muslim di Universitas Kairo-Mesir, dunia terpukau dan memaklumkan momen ini sebagai satu era baru dalam dialog, era baru dalam komunikasi antara dunia Islam dan Amerika Serikat. Betapa tidak, presiden kulit hitam pertama di negara adikuasa itu, menyerukan dimulainya babak baru hubungan dengan dunia Islam, setelah tercoreng peristiwa terorisme 11 September 2001. Dalam pidato politiknya, ia menyebut bahwa adanya “tahun-tahun ketidakpercayaan” dan “siklus kecurigaan dan perselisihan” antara Amerika dan dunia Islam dan fenomen ini telah menciptakan “jurang” antara dunia Islam dan politik Amerika Serikat. Jurang ini hanya dapat ditaklukkan dengan “saling menghormati dan mencari pengertian bersama” dalam dialog. Untuk itu orang perlu berkomunikasi. Karl Jaspers, filsuf eksistensialis abad XX mengamini bahwa kebenaran itu ditemukan dalam satu relasi. Keberadaan bersama orang lain dan keniscayaan untuk berkomunikasi menjadi ciri eksistensial manusia. Komunikasi membentuk relasi antara manusia; maka benar Martin Buber yang mengatakan “pada mulanya adalah relasi”. Lalu, kita pun dapat berucap: pada mulanya adalah komunikasi dan komunikasi itu adalah ciri eksistensial manusia. Tulisan yang diinsiprasikan oleh filsafat eksistensial Karl Jaspers ini, hendak mengurai komunikasi sebagai satu kenyataan esensial manusia dan menjadikannya sebagai satu filsafat global dalam membangun satu dialog interkultural. 2. Lebih Dekat dengan Karl Jaspers Karl Theodor Jaspers lahir di Oldenburg, Jerman Utara pada tanggal 23 Pebruari 1883. Ia adalah salah seorang filsuf eksistensialis terkemuka abad XX. Mulanya ia seorang psikiater di rumah sakit dan pengajar psikologi di Universitas Heidelberg. Pada tahun 1919 ia mempublikasikan karya Psychologie der Weltanschauung (Psikologi Pandangan Hidup). Dalam buku ini terlihat apa yang kemudian mencirikan filsafat eksistensial. Kendati berlatar-belakang psikopatolog, ia diberi kesempatan untuk mengajar filsafat dan mengepalai departemen filsafat di beberapa universitas di Jerman, hingga pengangkatannya menjadi profesor di Universitas Heidelberg pada tahun 1921. Penganugerahan profesor ini justru membuat ia mulai menggeluti persoalan-persoalan filsafat, hingga pada tahun 1923 ia menghasilkan karya besar dalam tiga jilid yang berjudul Philospohie. Jilid I adalah Philosophische Weltorientierung (Orientasi Filosofis dalam Dunia); jilid II Existenzerhellung (Penerangan Eksistensi); jilid III Metaphysik (Metafisika). Dalam karya Philosophie ini tema tentang filsafat eksistensi untuk pertama kali dimuat. Ia kemudian mengajar di Universitas Basel sampai tahun 1961. Tahun 1967 ia memperoleh kewarganegaraan Swiss, hingga kematiannya pada tanggal 26 Pebruari 1969, dalam usia 86 tahun . 3. Existenz dan Existenzerhellung Umumnya para filsuf eksistensialis tidak terlalu suka digolongkan ke dalam aliran eksistensialisme. Bagi Jaspers label “eksistensialisme” memberi kesan satu aliran pemikiran, satu doktrin di antara doktrin lainnya. Sebagai doktrin, eksistensialisme akan membawa kekhasan tersendiri; ia punya posisi atau sudut pandang tersendiri, dan justru dalam hal inilah ia bersifat membatasi. Jaspers memilih menggunakan istilah Existenzphilosophie (filsafat eksistensi) . Apa arti filsafat, eksistensi dan filsafat eksistensi dalam kamus Jaspers? Filsafat pada dasarnya dan paling utama adalah metafisika: suatu pencarian akan being (yang ada). Hal ini ditandai dengan usaha untuk mempersoalkan aspek dasariah dari realitas hingga orang menggapai suatu kebenaran objektif. Karakter filsafat seperti ini erat kaitannya dengan konsep tentang akal (Vernunft) dan Existenz. Kata existenz tidak saja berarti hidup itu sendiri atau akal, tetapi penggabungan antara keduanya, yakni “ada sebagai suatu diri” dan “Transendensi”. Transendensi ini menjadi dasar bagi lahirnya keberadaan dan yang kepadanya keberadaan ini tertuju . Eksistensi dan transendensi menjadi dua poin utama dalam filsafat Jaspers. Dengan memahami kata Existenz sebagai penggabungan antara kehidupan dan akal, Jaspers memperlihatkan kepada kita dua tipe manusia. Pertama, mereka yang memandang hidup sebagai sebuah eksistensi irasional (vernunftlose Existenz, irrational existence), yang didasarkan pada perasaan, pengalaman pribadi, insting, dan karena itu sering kali menerima secara buta kodrat dari sesuatu. Kedua, mereka yang mengembangkan akalnya demi sesuatu yang bersifat absolut dan menerima keterbatasan eksistensi akal (existenzlose Vernunft, reason devoid of existence), dan karena itu terbuka bagi suatu jalan lain yang menopangnya. Bagi dia akal (reason) dan hidup (life) tidak dapat dipisahkan. Existenz dijelaskan hanya oleh akal. Akal memiliki isi hanya karena eksistenz. Akal itu penting karena ia membuat eksistenz menjadi sesuatu yang essensial dalam hidup. Existenz adalah gabungan antara pengalaman pribadi dan apa yang dialami dalam hidup dengan maksud untuk membuat putusan, mendalami kebebasan yang diperoleh secara intelektual dan mengembangan kesadaran. Bagi Jaspers ber-eksistensi berarti “berdiri di hadapan Transendensi” , satu orientasi kepada sesuatu yang lain. Hanya dalam hubungannya dengan Transendensi manusia menjadi eksistensi yang sesungguhnya. Hakekat Existenz terletak dalam ketertujuan intensional menuju Transendensi, satu “diri” yang lain, yang dalamnya saya berada dalam komunikasi yang eksistensial, dan yang dalam satu momen refleksif saya menjadi diri sendiri. Jaspers memahami eksistensi sebagai keutuhan diri, yang bebas dan tidak diobjekkan. Kalau saya menyebut myself (diriku) maka ini hanya berarti apa yang saya miliki sendiri, yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Saya bukanlah sekedar saya, tetapi saya adalah diriku sendiri (I am not “the I”-I am myself). Jaspers kemudian membedakan istilah existence (Dasein) dari Existenz. Sebagai existence, saya dapat hidup dan mati, sementara Existenz-ku tidak mengalami kematian, ia senantiasa membubung tinggi, menuju relasinya dengan yang ada. Kalau existence berada secara empiris, apa yang tampak dalam lokasi tertentu, dalam ruang dan waktu, maka Existenz tampil sebagai yang independen, yang bebas. Existence bersifat temporal sementara Existenz itu abadi, kekal adanya. Existence dipenuhi oleh ada yang duniawi (mundane being). Ada yang duniawi adalah ada yang kita kenal secara umum, kita bisa memahaminya sebagai realitas yang umum atau dunia fenomenal. Sementara itu yang Existenz tidak pernah bersifat umum karena itu ia tidak dapat digolongkan sebagai yang partikular di bawah yang universal . Dasein adalah “keberadaan empiris manusia sejauh ia mempunyai ciri-ciri tertentu dan dapat dilukiskan dari luar” . Dengan ini jelas bahwa ia memahami Dasein tidak dalam arti Heidegger . Dalam artikelnya “Situasi Rohani Zaman Kita”, Jaspers menjelaskan bahwa filsafat eksistensi adalah pemikiran yang memanfaatkan semua pengetahuan objektif tetapi sekaligus mengatasi pengetahuan objektif . Melalui pemikirannya manusia ingin menjadi dirinya sendiri. Dengan cara ini ia menghayati kebenarannya. Kebenaran cara berpikir manusia dibuktikan melalui tindakan yang berdasarkan pemikiran itu. Filsafat eksistensi bukan bermaksud untuk “merenungkan kebenaran” tetapi menghayati kebenaran. Kebenarna cara berpikir manusia dibuktikan melalui tindakannnya yang berdasarkan pemikiran itu. Karena itu ia sering memahami filsafat eksistensi sebagai “tindakan bathin”. Selain itu ia menjelaskan tentang penerangan eksistensi (Existenzerhellung). Dengan penerangan eksistensi, Jaspers tidak hanya maksudkan sebagai pengetahuan yang membantu kita untuk menjelaskan eksistensi. Bukan mengetahui (erkennt) sebuah objek. Bagi dia penerangan eksistensi diabadikan untuk “komunikasi” yang tak terbatas. Dengan ini kita menemukan bahwa dalam Jaspers, komunikasi merupakan aspek eksistensial dari manusia, yakni bahwa ia harus selalu dalam keadaan menjadi, state of becoming, in fieri (sama dengan posisi Scheler bahwa manusia bukan ada tetapi menjadi). Manusia tidak hanya melekat pada setiap bentuk kebenaran dogmatis, ide atau sistem. Ia adalah subjek yang bisa menguji setiap pandangan, dan selalu sadar bahwa kebesarannya bukan pada kebenaran yang disimpulkan, bahwa segala sesuatu menjadi subjektif untuk dipersoalkan, diuji. Kalau manusia sampai pada keadaan aktual yang demikian, Jaspers menyimpulkan bahwa tujuan tertinggi manusia adalah toleransi absolut. Hal itu berarti kita disadarkan untuk selalu terbuka dan siap pada setiap interpretasi baru . Di sinilah satu komunikasi menjadi mungkin. 4. Eksistensi Membutuhkan Komunikasi Karya utama Jaspers dalam bidang filsafat adalah Philosophy (Filsafat), yang terdiri dari tiga jilid: Orientasi Filosofis dalam Dunia, Penerangan Eksistensi dan Metafisika. Yang menjadi sentral dari karya ini adalah Penerangan Eksistensi. Dengan “penerangan eksistensi” dimaksudkan sebuah hasrat untuk berkomunikasi dengan eksistensi yang lain. Kalau filsafat bermula dari keheranan, eksistensi berawal dengan komunikasi. Orang harus pandai berkomunikasi supaya idenya bisa relevan. Komunikasi menjelaskan seseorang yang tidak mau terpenjara dalam kesepian isolatif. Komunikasi menegaskan ketergantungan individu akan yang sosial. Komunikasi valid secara universal, dan secara intrinsik ia adalah ilmu benar yang masuk akal. Komunikasi dijadikan sebagai “penjelasan akan eksistensi” (elucidation of Existenz) . Ia adalah cara yang dengannya kita sanggup meng-ada-kan, mengkonstruksi cara berada kita, being kita. Tapi mengapa harus komunikasi? Pertanyaan ini masih pada level permukaan, belum menyetuh aspek eksistensial manusia. Tetapi jika kita mereformulasi peertanyaan di atas dengan “saya hanya berada dalam komunikasi dengan yang lain”, maka ia secara objektif dan subjektif merujuk pada eksistensi manusia: relasi, pemahaman, dan tindakan kita. Bagi Jaspers komunikasi yang original dan tak terbatas menyertakan aspek rasio. Dalam komunikasi yang rasional sekaligus eksistensial, manusia sungguh eksis; ia berbicara secara dasariah, ia tidak hanya hidup secara vital, tidak hanya sebuah pemahaman abstrak tetapi dia adalah dirinya sendiri dalam keseluruhan bersama yang lain. Komunikasi yang eksistensial sanggup menghantar kita pada level, di mana, kita tidak terjebak dalam dikotomi subjek-objek, tetapi membiarkan partner masuk ke dalam sense of being (makna keberadaan). Manusia adalah ada yang berkorelasi, di mana identitas, eksistensi dan kemanusiaannya lahir dari satu komunikasi interpersonal. Tiap manusia lahir dari komunikasi . “Saya hanya ada dan berkomunikasi dengan yang lain . Pernyataan ini menjelaskan bahwa kesadaran selalu berarti sadar akan sesuatu yang lain, maka saya tidak bisa memiliki kesadaran akan diri sendiri kalau tidak dilalui oleh satu kesadaran akan yang lain. Kita butuh orang untuk berdialog, untuk berkomunikasi. Kedirian kita selalu diputuskan dalam komunikasi. Hanya melalui dan dalam komunikasi saya menjadi diri saya sendiri, dan menjadi satu dengan yang lain. Dalam kesadaran seperti ini kita sedang membangun satu kebenaran yang melahirkan situasi eksistensial. Sebuah situasi eksistensial lahir dari komunikasi jika dalam komunikasi orang membangun kebenaran. Kebenaran diungkapkan dan menjadi sesuatu yang komunikatif. Jika kebenaran dalam komunikasi tidak sanggup menjadi sesuatu yang definitif dalam komunitas maka orang yang mencari satu nilai transendensi akan menjadi kecewa. Keterbukaan terhadap satu kehendak untuk berkomunikasi mengandung makna ganda; di satu pihak kita terbuka untuk mengetahui apa yang belum kita ketahui. Di pihak lain sikap keterbukaan ini sanggup menghadapkan kita pada kepelbagaian substansi dari setiap yang ada, yang menjadikan yang lain tampil sebagai saya yang lain. Inilah adaku dalam komunitas yang komunikatif. 5. Komunikasi yang Eksistensial Sebuah komunikasi yang bercorak eksistensial menempatkan pentingnya unsur kesadaran, yakni keterbukaan kepada Transendensi: satu orientasi menuju ke sesuatu yang di atas. Gerakan dinamisme kesadran ini dialami berkat kehadiran apa yang ada di sekitar kita . Jaspers katakan: “Saya tidak bisa masuk ke dalam diri saya tanpa masuk ke dalam komunikasi dan saya tidak sanggup masuk ke dalam komunikasi tanpa menjadi sendirian” . Kesaksian Jaspers ini memperlihatkan bahwa ada kebenaran dalam komunikasi: satu keterbukaan untuk berdialog, ada kemungkinan untuk menempa identitas kemanusiaan kita dalam komunikasi, di mana manusia memberi arti jati dirinya dan menegaskan kejati-dirian itu. Ada dialog antara eksistensi dan eksistensi. 5.1. Komunikasi sebagai Sumber Kebenaran (Truth or Correct?) Dalam ilmu pengetahuan kebenaran sering dihubungkan dengan data atau kenyataan objektif. Kebenaran model ini memperlihatkan satu keberadaan intelektual (intellectual being not human beings). Ia membantu kita untuk memahami suatu objek. Jaspers menyebut kebenaran dalam ilmu ini dengan correct dan bukan truth . Dalam kaitan dengan personalitas dan interelasi manusia, Jaspers menemukan satu kebenaran lain, yang sungguh eksistensial. Dan untuk maksud ini ia mengunakan kata truth. Kebenaran (truth) lahir dari satu otentisitas dan kebebasan diri dalam memutuskan sesuatu. Kebenaran model ini merupakan satu upaya untuk menyatakan kehidupan, tidak tenggelam dalam ketertutupan (lethe), mengosongkan dirinya dalam tindakan cinta, sehingga lahirlah komunikasi dengan yang lain . Kebenaran bagi Jaspers bukanlah kebenaran milik saya seorang diri. Saya dapat mencintai diri saya sendiri hanya dengan mencintai orang lain. Maka orang membutuhkan komunikasi untuk menemukan self-being, untuk menerangi eksistensinya. Ia adalah jalan niscaya menuju kebenaran essensial. Jadi, kebenaran adalah apa yang saya hidupi dan bukannya apa yang saya pikirkan. Kebenaran yang direalisasikan adalah keyakinan yang saya hidupi bukan keyakinan yang saya tahu. Karena itu filsafat yang benar membutuhkan communion untuk masuk dalam eksistensi. Hanya dengan ini lahirlah kebenaran dalam berdialog. Hal ini dilukiskan Jaspers sebagai berikut : “Saya tidak sanggup menjadi diri sendiri jika yang lain tidak ingin menjadi dirinya sendiri: Saya tidak dapat bebas jika dia sendiri juga tidak bebas; saya tidak sanggup yakin akan diri sendiri jika saya tidak yakin akan dia. Dalam komunikasi, saya bertanggungjawab tidak hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk yang lain, seolah-olah ia adalah saya dan saya adalah dia. Saya tidak akan merasa cocok dengannya hingga ia menjumpai saya di perjalanan. Sebab saya tidak sanggup berkomunikasi dalam tindakan saya seorang diri. Saya mesti berhadapan dengan tindakan yang lain.....Jika tindakannya tidak menciptakan eksistensi dirinya, maka aku juga tidak menciptakan eksistensiku dalam tindakanku seorang diri” . Keniscayaan yang lain melahirkan keniscayaan dalam diri saya. Tetapi saya bukan satu ketergantungan murni dan total pada yang lain. Ada kebebasan penuh yang menghidupkan dalam komunikasi demi keutuhan diri saya. Kebenaran eksistensial hanya hidup dalam triade relasi berikut: Existenz, co-Existenz dan Transcendence. 5.2. Komunikasi: Media Penempaan Identitas dan Kemanusiaan Manusia hidup dalam dunia (existent), tetapi sekaligus ia berroh (sadar akan dirinya dalam orientasinya kepada objek), dan ia juga adalah Existenz (kemampuan membentuk idea dalam keseluruhan eksistensinya). Sebagai Existenz, ia berelasi dengan yang Transenden melalui kebebasan yang dianugerahkan kepadanya Bagi Jaspers pengalaman kebersamaan dan komunikasinya dengan para sahabat, dengan istrinya Getrud Mayer, merupakan suatu “kemuliaan persahabatan”. Karena itu bagi dia momen kesendirian terasa begitu aneh, seolah-olah manusia hidup dalam satu dunia yang sangat lain . Ketertutupan diri (solitary) menunjukkan sikap menghindar dari orang lain, dan sikap demikian justru memiskinkan self-being kita. Sebaliknya kesunyian (solitude) secara kodrati bisa menjadi sumber bagi self-being . Kesunyian adalah momen refleksif setelah orang terlibat dalam satu kebersamaan yang komunikatif. Ia adalah saat internalisasi berkelanjutan dari seluruh pengalaman kebersamaan dengan yang lain demi pemenuhan diri. Pemenuhan diri (self-being) hanya menjadi riil dalam komunikasi dengan self-being dari yang lain. Karena itu kalau dalam komunikasi orang tidak mengalami kepenuhan dalam diri sebagai self-being, maka ini merupakan ancaman terhadap satu komunikasi yang eksistensial. Satu relasi fungsional yang melahirkan ketidakseimbangan dalam pemenuhan diri mesti diganti dengan satu dialog antar eksistensi. 5.3. Komunikasi: Dialog antar Eksistensi dan Eksistensi Bagi Jaspers penerangan eksistensi hanya dapat tercapai melalui sikap keterbukaan dan penyerahan diri kepada orang lain yang terungkap dalam dialog. Sebuah dialog yang benar hendaknya didasarkan pada pengalaman dan bukan konsep. Setiap konsep bisa salah atau keliru, tetapi sebuah pengalaman tidak bisa salah. Apa saja yang saya alami adalah corak dan khas saya, karena itu dia tak dapat diukur atau dipersalahkan. Bereksistensi sebagai manusia adalah sebuah pengalaman. Dengan menyatakan bahwa komunikasi hanya dapat berlangsung antara eksistensi dan eksistensi, Jaspers hendak menjelaskan bahwa sudah dari kekal orang mengenal satu sama lain. Berdialog adalah aspek kodrati manusia. Inilah kesejatian komunikasi. Puncak dari komunikasi yang sejati adalah cinta . Kalau sejatinya komunikasi itu nyata dalam sikap dan kesadaran bahwa dari kekal orang sudah saling mengenal, maka dalam berkomunikasi terjadi dua hal sekaligus: saya masuk dalam diri saya untuk menyadari keberadaan saya (my being I) dan keberadaan saya bersama yang lain (my being with another). Untuk menyadari dua aspek esensial dalam komunikasi, saya mesti hadir secara bebas, berada dalam kedirianku sebagaimana adanya, tanpa satu ketergantungan yang memaksaku. Kalau saya mengisolasikan diri, maka dengannya saya melemahkan dan meniadakan komunikasi. Dalam arti ini saya mematikan lajunya keberadaanku, saya masuk dalam kekosongan. maka orang bisa mengalami keterasingan di tengah satu komunitas, orang bisa juga menyendiri dan merasa kehilangan harapan, orang bisa bersembunyi di balik satu komunitas. Realitas seperti ini memperlihatkan seseorang menemukan dirinya bukan sebagai “saya” bagi diri sendiri. Ia malah menghidupkan kekosongan. Sebuah kesunyian memiliki makna positif hanya ketika orang memiliki kesadaran yang jelas demi perkembangan dirinya dan keutuhan diri dengan menciptakan keheningan bathin. Kesendirian dalam arti ini memiliki makna keterbukaan bagi “kemungkinan Existenz”, yang akan menjadi eksistensi yang nyata (real existenz) dalam komunikasi. Jaspers katakan: “Saya tidak sanggup untuk datang kepada diri sendiri tanpa masuk dalam komunikasi, dan saya tak dapat masuk dalam komunikasi tanpa menjadi seorang diri”. . Jaspers mau menghindari satu pemaksaan dalam berkomunikasi. Kesadaran akan kebebasan penuh harus menjiwai satu komunikasi. Dengan demikian orang bisa menghidupi kesendirian dalam berkomunikasi dan orang bisa menjadi diri sendiri dalam dan bersama orang lain. Saya harus memiliki kehendak untuk menjadi diriku sendiri dan dengan demikian saya mudah masuk dalam komunikasi bersama orang lain. Dengan membedakan antara kesepian dan kensunyian kita bisa menemukan satu model hidup berkomunitas dalam arti religius (hidup bakti) di mana tiap anggota komunitas menjadikan keheningan sebagai bagian integral demi satu penemuan diri, yang kemudian menghantar dia untuk meneguhkan penemuan diri ini dalam relasi dengan sesama anggota komunitas. Komunikasi adalah satu-satunya jalan merealisasikan diri (self-realization). Saya menempatkan keberadaan saya (the way I am) secara penuh, karena saya tahu bahwa dengan cara ini eksistensi diriku (my own Existenz) terpenuhi dengan sendirinya. Dalam cara ini, saya rela menghilangkan status keberadaan empirisku untuk memenangkan “kemungkinan Existenz-ku”. Karena itu proses pengungkapan diri dalam komunikasi merupakan satu perjuangan yang khas, melelahkan tapi sekaligus menyenangkan. Ia menyenangkan karena komunikasi hanya dapat berlangsung antara eksistensi dan eksistensi. Komunikasi yang sejati ini berpuncak dalam cinta. Cinta adalah “sumber subtansial dari self-being yang komunikatif”, kata Jaspers . Karena itu seseorang menjadi diri sendiri secara penuh dalam komunikasi. Ia berhenti membandingkan dirinya dengan yang lain, karena secara eksistensial seseorang tidak mungkin menjadi orang lain selain dirinya sendiri. Persis di sinilah orang mengekspresikan apa yang Jaspers sebut dengan “kesadaran eksistensial”: saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dan tidak akan pernah menjadi yang lain. Dalam komunikasi seseorang menempatkan dirinya dalam satu level yang sama dengan yang lain, sekaligus saya memberi isyarat dan menunjukkan orang lain dengan keaslian keberadaannya dan saya pun menegaskan self-being saya . Hanya dengan membangun satu kesadaran eksistensial yang demikian, kita sanggup membangun satu komunikasi interkultural sebagai falsafah global. 6. Komunikasi Interkultural: Sebuah Filsafat Global Jaspers menjadikan cinta sebagai puncak dalam komunikasi antara eksistensi dan eksistensi. Untuk mencapai puncak itu diperlukan sebuah perjuangan dalam berkomunikasi; satu perjuangan individual demi Existenz. Perjuangan demi sebuah Existenz dilakukan dengan satu pembicaraan terbuka, terus-terang, pembicaraan dari hati ke hati, dengan sikap menghilangkan segala superioritas diri, dengan mengakui dan menghargai self-being yang lain selayaknya self being saya sendiri . Cara di mana kita menjadi diri sendiri dalam sebuah komunikasi adalah seperti menciptakan sesuatu yang baru, mencipta dari ketiadaan . Jika komunikasi dengan daya juang yang demikian, maka baik secara ekonomis, politis dan sosial orang mendekati dan membutuhkan yang lain secara niscaya. Satu budaya, konsep dan pemikiran lain akan dengan mudah didialogkan. Dalam perjuangan komunikatif demi Existenz orang tidak mempersoalkan menang atau kalah, unggul atau tidak; yang ada adalah satu kenikmatan perjuangan melawan diri sendiri dan yang lain demi kebenaran. Ada aspek solidaritas. Dalam solidaritas yang eksistensial saya melihat yang lain secara mutual, bukan untuk menghukum mereka, tetapi untuk memegang tangan yang lain dalam rintangan dan kegagalannya. Hal ini mau memperlihatkan bahwa jika seseorang ingin menjadi yang benar, ia harus berani menempatkan dirinya dalam kesalahan. Dalam persoalan sosio-politik yang memecah belah masyarakat, kita sanggup menciptakan islah kalau pelaku kejahatan pernah mengaku salah kepada korban. Ketika Paus Yohanes II memohon maaf atas kesalahan gereja masa lampau termasuk penghukuman terhadap penemuan Galio-Galilei, ia mendapat kehormatan sebagai Paus yang paling popular dalam gereja. Ketika Paus Benediktus menyampaikan maaf kepada dunia Islam sehubungan dengan kuliahnya di Regensburg, ke-138 pemimpin negara Islam se-dunia bersedia datang ke Vatikan-Roma untuk menandatangani satu kesepakatan dialog bersama. Satu dialog antar iman, kebudayaan dan tradisi yang membentuk dan mencirikan manusia dan peradabannya juga merupakan momen sebuah komunikasi interkultural. Komunikasi interkultural bisa dipahami sebagai cross culture communication: satu tindakan di mana orang dari pelbagai latar belakang yang berbeda saling berkomunikasi dan merasakan dunia di sekitar mereka. Setiap orang yang terlibat dalam komunikasi menghidupkan budaya sebagai syering akan pelbagai unsur hakiki dalam komunikasi (simbol, kepercayaan, sikap, nilai, harapan, norma dan perilaku). Dalam interaksi kultural yang demikian dibutuhkan pengetahuan (informasi yang perlu untuk berinteraksi secara tepat dan efektif), motivasi (usaha dan sikap positif dan empati terhadap budaya dan keberadaan yang lain), juga satu keterampilan (satu seni berperilaku demi efektivitas dan ketepatan dalam interaksi). Ketiga aspek ini (pengetahuan, motivasi dan keterampilan) memungkinkan sebuah komunikasi. Dalam perdebatan antara Joseph Ratzinger (Paus Benedictus XVI), seorang “penjaga gawang” ortodoksi Katolik dengan Juergen Habermas, seorang pakar nalar yang “tidak pernah puas dan skeptis”, di Akademi Katolik Bayern, Jerman, Ratzinger berpendapat bahwa sebuah dialog mesti melibatkan seluruh umat manusia, dan itu berarti ia mencakup semua agama dan kebudayaan di dunia. Inilah satu keterbukaan gemilang. Keterbukaan ini kemudian diungkapkan secara ekplisit dalam kata-kata Ratzinger sebagai berikut: “Saya kira interkulturalitas ini sekarang merupakan dimensi yang tidak terelakkan dalam pembicaraan mengenai esensi manusia…” . Dialog interkultural adalah kodrat manusia. Apa yang dikemukakan Paus Benedictus XVI ini juga telah dibahasakan secara lain oleh Jaspers “sudah dari kekal orang saling mengenal”. Tetapi apa yang dikatakan Ratzinger ini pada tempat pertama dimaksudkan sebagai “dialog Gereja Katolik dengan penganutnya dalam praktik iman dan dialog antara Gereja Katolik dan dunia”. Dalam dialog seperti ini diharapkan supaya sikap intoleransi dan fanatisme agama dikuburkan sehingga ada upapa untuk mengukur kompatibilitas agama tertentu dengan sebuah tatanan sosial yang bebas, toleran dan pluralistis. Sikap seperti ini misalnya nyata dalam menghindari satu identifikasi Islam dengan fundamentalisme Dalam kenyataan agama juga temasuk sistem simbol yang dengannya manusia berkomunikasi dengan universum. Pelbagai simbol religius dan sikap hormat penganutnya mengungkapkan juga eksistensi keberagamaannya. Dalam konteks ini pengetahuan serta sikap yang tepat terhadap keberagaman realitas yang disimbolkan memungkinkan satu komunikasi interpersonal. Sarana, media (simbol) termasuk keagamaan mengungkapan kebutuhan kita, self –expression. Pelbagai simbol ini masuk dalam kerangka relasi interpersonal. Komunikasi antar manusia juga dapat terealisir dalam komunikasi antara individu dan model umum tindakan atau ritualnya . 7. Penutup Dalam memahami komunikasi eksistensial Jaspers, kita temukan kenyataan bahwa bagi Jaspers filsafat bukanlah doktrin-doktrin, ia adalah “tindakan bathin” , cara berpikir yang membebaskan. Sebagai suatu “tindakan bathin” dan cara pikir yang membebaskan, filsafat mencerminkan keseluruhan diri manusia: aspek rasio dalam spekulasinya, realitas fenomenal dalam pengungkapannya dan tindakan dalam konkretisasinya. Dalam hakekat filsafat yang demikian, rasio-kebebasan-tanggungjawab serta keterarahan kepada yang lain bisa merupakan term-term kunci. Filsafat sebagai gerakan yang membebaskan mengajak manusia untuk peka dan terbuka terhadap pelbagai simbol, lambang, bahasa, interpretasi dan bahkan re-interpretasi. Dalam konsep demikian penegasan Jaspers bahwa filsafat harus menjadi lebih dari kontemplasi universal: menyiapkan pelbagai tawaran, bersifat fleksibel, sanggup memberi arti dan tujuan pada hidup manusia, menawarkan kepada manusia suatu dunia yang aman, atau melengkapi satu falsafah hidup (weltanschauung). Dalam arti yang demikian, seorang filsuf adalah penggerak dan pembaru dunia. Jaspers memahami filsafat eksistensi bukan sebagai “merenungkan kebenaran” tetapi menghayati kebenaran . Kebenaran cara berpikir mendapat pemenuhannya dalam tindakan. Dan manusialah yang menghayati kebenaran, karena itu, manusia menemukan dirinya dan yang lain sebagai eksistensi di dunia empiris sekaligus mentransendensi pengalaman empiris ketika komunikasi dihidupi. Karena komunikasi adalah cara yang dengannya kita sanggup meng-ada-kan, mengkonstruksi cara berada kita. Dalam komunikasi, kita sedang menglobal, kita tengah mendunia. Inilah filsafat global itu. Kepustakaan Athur, P. Schilpp.ed. Philosophy of Karl Jaspers, Open Court Publishing Company, Illinois, 1981. Baal, J. Van, Symbol for Communication. An Introduction to the Anthropological Study of Rreligion. Assen, Netherland, 1971. Bertens, K Filsafat Barat Kontemporer. Inggris-Jerman, Gramedia, Jakarta: 2003. Bosetti,G ed., Iman melawan Nalar. Perdebatan Joseph Ratzinger melawan Juergen Habermas, Kanisius, Jakarta : 2009. Hamersma, H. Filsafat Eksistensi Karl Jaspers, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1985. Hayong, B. Metafisika. Di Sekitar Yang Ada (ms), STFK Ledalero, 2011. Jaspers, K. Philosophy I, Tr. By E.B. Asthon, The University of Chicago Press, Chicago and London, 1970. -------------, Philosophy II Tr. By E.B. Asthon, The University of Chicago Press, Chicago and London, 1970 --------------, Philosophy III Tr. By E.B. Asthon, The University of Chicago Press, Chicago and London, 1970. -------------, Reason and Existence, tr. W. Earle, Neony Press, dalam http://www.ellopos.net/education/jaspers-thinking-communication.asp Kaufmann, W, Ed., Existentialism from Dostoevsky to Sartre, The World Publishing Company, New York, 1956 Linda Smith dan William Raeper, Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang, KanisiuKaufs, Yogyakarta 2000. Lucas Lucas, R. L’uomo Spirito Incarnato. Compendio di Filosofia dell’uomo. San Paolo: Torino,1993: Marcel,G. tr. Emma Craufurd. Homo Viator, Introduction to a Metaphysic of Hope. Victor Gollancz Ltd: London, 1951. Wallraff, C., Karl Jaspers: An Introduction of Philosophy, Princenton University Press, New Jersey, 1970.




Fill in only if you are not real





The following XHTML tags are allowed: <b>, <br/>, <em>, <i>, <strong>, <u>. CSS styles and Javascript are not permitted.