Gnoyah BERNARD

Gnoyah BERNARD

Taang uin tou, together we are

Aku mengada secara sadar bersama yang lain.
Aku menjadi aku bersama engkau, sambil menjadi aku, aku mengatakan engkau

Feminisasi Migrasi Flores

Artikel Ilmiah/opiniPosted by G_noyah Bernard Mon, January 02, 2017 18:17:54
Feminisasi Migrasi Flores: Misi Frontiers Sebagai Bentuk Dialog

(Bernard Hayong)


Awal Kata

Pengungsi, perantau, migran dan apa yang terjadi di sekitar mereka senantiasa menjadi topik yang menarik untuk diwacanakan, isu yang aktual untuk dicermati. Ia berkaitan dengan persoalan ekonomis ketika orang berusaha untuk mempertahankan hidupnya; ia menyentuh aspek sosial-budaya manusia ketika ada pembauran dengan orang, cara pandang, pola laku, kepelbagaian etnis dan kebiasaan tertentu; ia menjadi tema politik ketika orang mengkritisi kebijakan politis pemerintahan; ia menjadi sasaran bidik para jurnalis ketika mengungkap pelbagai keprihatinan atasnya; ia akrab dengan statistik ketika kita bermain di sekitar angka sebagai data akurat dan riil tentangnya; ia menjadi topik diskursus di kalangan akademisi dan bahkan mejadi subjek bermisi bagi kaum agamawan. Migrasi bersentuhan dengan kehidupan kaum pekerja, ekonomi rumah tangga, kebijakan satu sistem pemerintahan, perempuan dan anak-anak. Ia juga menyentuh perbenturan budaya, bahkan sebuah misi lintas budaya.

Di NTT umumnya dan Flores khususnya, arus migrasi cukup tinggi. Ia melibatkan lelaki dan perempuan. Migrasi di Flores sebenarnya bermula dari satu solusi terhadap problem kemiskinan, namun dalam kenyataan, ia juga malah menuai persoalan yang semakin kompleks. Dalam artikel ini, saya hendak membatasi diri dengan melihat dilema antara solusi dan persoalan di sekitar para perantau Flores ke luar negeri, untuk merefleksikan situasi kaum pekerja migran sebagai satu locus bermisi bertepatan dengan perayaan 100 tahun SVD berkarya di Indonesia.

Migrasi: Fakta Eksistensial Manusia

Setiap pengalaman eksistensial bersentuhan langsung dengan manusia. Pengalaman itu turut membentuk identitas manusia. Setiap cara berada manusia terlingkup dalam dua kiblat utama: diri sendiri dan yang lain. Karl Jaspers, filsuf eksistensialis Jerman (1883-1969), mengerti eksistensi (Existenz) dalam arti “ada sebagai satu diri” yang berhubungan dengan diri sendiri dan “Transendensi” . Konsep ini dapat dipahami bahwa pengalaman hidup yang dijalani menentukan cara berada manusia. Dalam sejarah peradaban manusia, migrasi telah membentuk cara berada kaum nomaden. Alasan utama nomaden adalah usaha untuk mempertahankan hidup. Manusia tak sanggup bertahan di tempat yang tidak memberikan jaminan atas hidupnya. Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain menjadi ciri alamiah manusia. Pada jaman ini, seiring dengan perkembangan dunia ilmu pengetahauan dan teknologi, manusia menglobal. Seiring dengan globalisasi, arus migrasi meningkat dan pluralitas tak dapat dicegah. Kapan dan di mana saja orang, dengan pelbagai latar belakang budaya bisa berada bersama, entah dengan atau tanpa konflik.

Dalam teori multikulturalisme, hak untuk berbeda nyata dalam perbedaan budaya (diversitas cultural). Bhiku Parekh mengkategorisasikan diversitas kultural ini dalam tiga aspek : Pertama, hak untuk berbeda dalam subkultural. Artinya, masyarakat memiliki kebudayaan yang sama tetapi dalam kesehariannya menghidupi corak dan cara hidup yang berbeda (nelayan, petani, tukang ojek, seniman, gay, lesbian). Kedua, hak untuk berbeda dalam perspektif. Masyarakat bersikap kritis terhadap segala prinsip atau nilai dari suatu kebudayaan serta berusaha untuk memperlihatkan misi transformatif di dalam sikap kritis itu, misalnya: kelompok gender, green peace dll. Ketiga, hak untuk berbeda secara komunal. Umumnya kelompok ini sudah mapan, terorganisir dan hidup sesuai keyakinan dan kepercayaan mereka yang sudah fixed. Mereka memiliki doktrin komprehensif yang tidak boleh dibongkar, misalnya kelompk etnis dan agama. Karena manusia memiliki hak untuk berbeda, bahkan hak ini bersifat asasi, maka menghidupi pluralitas berarti menghidupi keberagaman budaya. Inilah fakta eksistensial manusia. Dengan menandaskan bahwa multikulturalisme sebagai fakta eksistensial manusia maka dapat dipahami bahwa keberagaman budaya adalah sebuah fakta sosial. Migrasi sendiri termasuk fakta sosial, dan karena itu ia juga termasuk fakta eksistensial manusia.

Sepanjang sejarah hidupnya, manusia berhadapan dengan, menikmati dan menghidupi pluralitas budaya, termasuk melalui migrasi. Kecenderungan bermigrasi semakin meluas dengan aneka tujuan. Migrasi, karena itu, merupakan kecenderungan natural manusiawi. Dalam migrasi orang tidak hanya meninggalkan daerah, rumah tangga dan orang di sekitarnya untuk mengalami sesuatu yang lain di tempat baru. Ia juga merupakan kisah perjalan untuk membentuk, mengungkapkan dan memaknai jati diri seseorang. Jati diri ini kemudian termanifestasi dalam seluruh keberadaannya di tempat baru: cara pandang, pola laku, pembawaan diri, kebiasaan hidup, pelaksanaan pekerjaan harian, cara mengatasi tiap benturan dalam kerja, budaya, pengungkapan iman dan keyakinan, kebertahanan dalam iman di tengah pelbagai kesulitan hidup. Semua aspek ini menentukan keberadaan manusia itu sendiri (agere sequitur essere).

Feminisasi Migrasi Flores (NTT): Dilema antara Solusi dan Problematika

Migrasi sebagai fakta eksistensial sangat umum di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di NTT (Flores). Seturut data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, pada tahun 2013, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri mencapai 6,5 juta orang dan berasal dari 350 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Mereka tersebar di 178 negara . Masyarakat di Flores (NTT) pada umumnya melakukan migrasi ke luar negeri sebagai perantau di Malasya, Singapura, Brunai, Hongkong, Kuwait, Arab Saudi.

Di era 1980-an, ketika saya masih di bangku Sekolah Dasar, ada satu term khusus untuk melukiskan para perantau Flores Timur yang meninggalkan kampung halamannya menuju ke Malasya. Kata “melarat”. Dari dulu, Malasya adalah tempat tujuan para perantau Flores. Ada pelesetan “ringgit Malasya adalah surganya orang Flores”. Awalnya memang terasa aneh mengapa kata “melarat” ini dipahami dalam artian demikian. Sementara itu arti leksikal dari kata “melarat” adalah miskin, sengsara, rugi (selalu dalam kesengsaraan) . Ketika saya mencermati latarbelakang penggunaan kata “melarat”, saya, kemudian memahami bahwa penggunaan kosa kata ini (melarat) memiliki makna yang bisa dipertanggungjawabkan, karena bertolak dari satu konteks pengetahuan praktis dan riil. Umumnya para perantau Flores di Malasya dipekerjakan sebagai baruh kasar di perkebunan kelapa sawit, hutan karet, kuli bangunan, penjaga gudang, satpam, sopir truck, dll. Kebanyakan mereka bekerja di hutan, di daerah perbatasan. Mereka amat jarang kembali ke kota. Jenis pekerjaan seperti ini amat menantang, bahkan penuh resiko, apalagi jika mereka tidak dilengkapi dengan dokumen penting keimigrasian. Mereka sangat rentan dengan kenyamanan dan keselamatan. Jaminan hidup yang tidak pasti, sementara eksploitasi tenaga fisik yang begitu besar menciptakan ketakseimbangan. Mereka hidup sekedar untuk kebutuhan sehari. Keberadaan jauh dari lingkup keluarga membuat mereka hidup sesuka hati. Mereka, bahkan, lupa bahwa mereka punya keluarga di kampung, yang menanti kiriman uang. Kalaupun mereka kembali ke kampung halaman, tidak banyak yang berhasil membangun rumah, hanya sekedar satu dua ringgit yang habis tak berbekas dalam hitungan bulan. Tidak ada perbaikan atau peningkatan taraf hidup yang berarti. Situasi ini jelas memperlihatkan kandungan makna dari kata “melarat”, hidup serba sengsara. Karena itu perantauan ke Malasya selalu berarti pergi “melarat”: menjalani hidup yang penuh sengsara.

Dari sekian banyak perantau Flores ke luar negeri, fenomena perantau perempuan semakin meningkat. Perjalanan migrasi kaum perempuan Flores ke luar negeri tergolong sebagai satu keberanian dan tanggungjawab besar di tengah persoalan ekonomi rumah tangga. Bagi mereka migrasi ini semacam sebuah inisiasi dari segala sesuatu yang familiar, yang dekat dan akrab menuju ke sesuatu yang baru, asing, yang belum pernah dinamai. Perjalanan ini adalah satu keberaniaan dan tanggunjawab mereka untuk membentuk jati diri baru. Kalau jati diri kaum perempuan Flores sebelumnya hanyalah ranah privat (rumah, anak, ibu), maka keberanian bermigrasi membentuk kesadaran akan jati diri baru sebagai pekerja, penghasil gaji, penduduk kota , pemasok uang terbesar untuk rumah keluarga, bahkan devisa bagi negara. Kesadaran seperti ini membuka cara pandang baru atas peran kaum perempuan di tengah masyarakat. Area kerja perempuan tidak hanya di sekitar wilayah domestik, tetapi juga terbuka terhadap satu kehidupan baru dengan budaya yang variatif (meskipun fakta menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan mereka di luar negeri masih sekitar rumah tangga). Tetapi keberanian mereka untuk berdifusi ke dalam satu budaya baru turut membentuk cara pandang dan berada mereka sendiri. Selain itu, fenomena migrasi perempuan yang cenderung meningkat di wilayah Flores memberikan satu pesan bahwa perempuan (dalam banyak fakta) jauh lebih berhasil dan telaten dalam mengumpulkan uang demi kehidupan keluarga, ketimbang kaum lelaki .

Apa sesungguhnya yang melatari keberanian kaum perempuan Flores untuk melakukan migrasi ke luar negeri? Dari pengamatan umum dan syering para migran, ditemukan cukup banyak alasan: Pertama, kondisi ekonomi daerah yang miskin. Kemiskinan senantiasa membelenggu manusia ketika tidak adanya keseimbangan antara ketersediaan lahan pertanian yang memadai dengan jumlah penduduk. Kepemilikan lahan pertanian produktif yang sempit tidak diimbangi dengan jumlah penduduk pedesaan yang semakin berkembang. Kedua, perbedaan upah antara daerah asal dan daerah tujuan migrasi. Misalnya seorang pembantu rumah tangga di Singapura digaji perbulan $ 250 Singapura (1 $ = Rp.6000) maka sebulan digaji Rp 1.500.000,- Sementara upah minumum regional (UMR) di NTT adalah Rp.900.000. Atau seorang TKW di Brunai yang digaji sebulan dengan Rp 4.000.000 . Ketiga, prosedur ilegal ke Malasya atau Singapura jauh lebih mudah ketimbang jalur legal yang menuntut banyak urusan yang berbelit-belit . Hal ini dibenarkan oleh Muhamad Payong, Kepala Bidang Pembinaan Pengembangan Kesempatan Kerja (Sosnakertrans) Kabupaten Lembata.

Menurut data Sosnakertrans Lembata antara Januari-Mei 2013 dari ribuan warga Lembata yang menjadi TKI, hanya ada tiga (3) orang yang menjadi TKI secara legal. Banyak dari mereka yang pernah menjadi TKI ilegal mengatakan bahwa menjadi TKI ilegal itu jauh lebih bebas. Ketika meninggalkan rumah di Lembata banyak TKI bermasalah dengan hutang dalam keluarga. Ada tuntutan untuk melunasi hutang, karena itu jalan pintas diambil karena tidak perlu biaya yang lebih banyak. Selain itu TKI ilegal tidak terikat dengan kontrak. Kalau ada keluarga yang meninggal maka TKI ilegal bisa kembali ke rumah, sementara TKI legal tidak bisa kembali ke rumah karena terikat kontrak . Keempat, mendengar cerita anggota keluarga, tetangga atau orang lain yang pergi merantau untuk merobah keadaan perekonomian mereka. Problematika Pekerja Migran Perempuan Kalau kita mencermati sebab terjadinya migrasi (perantauan ke luar negeri) dapat ditegaskan bahwa migrasi, pertama-tama, bukanlah sebuah masalah melainkan jalan keluar untuk satu bentuk kehidupan ekonomi yang lebih baik . Tetapi kesadaran akan perbaikan kehidupan ekonomi ini bergeser maknanya ketika terjadinya persoalan pelik yang dihadapi kaum migran baik dalam proses perekrutan, keberadaan di tempat penampungan dan pelatihan, maupun pekerjaan mereka di tempat baru.

Bagaimana potensi persoalan ini bisa mendera kaum migran Flores dan NTT umumnya? Stigmatisasi 3 D (dirty, difficult, dangerous) Di banyak negara berkembang, mobilitas migrasi banyak dilakukan oleh mereka yang kurang berpendidikan (non-educated labor migration). Apa yang mereka lakukan cenderung merupakan satu strategi untuk mempertahankan hidup (survival strategy), satu kegiatan “rutin” yang sudah berlangsung lama dalam masyarakat . Rendahnya tingkat pendidikan pekerja migran membawa persoalan tersendiri. Mereka mudah dimanipulasi, ditipu demi sebuah janji akan kebahagiaan dalam pekerjaan. Hal ini tampak dalam sistem perekrutan tenaga kerja, atau diperlakukan tidak adil bahkan hingga kekerasan seksual di tempat-tempat penampungan. Beberapa waktu yang lalu Polsek Nangaroro menggagalkan 5 TKW ilegal yang direkrut untuk bekerja di Malasya. Kelima perempuan dewasa yang direkrut oleh Perusahaan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) tidak memiliki dokumen yang lengkap . Atau 43 TKI asal TTS yang gagal diberangkatkan ke Kalimantan dan seterusnya ke Malasya karena tidak memiliki dokumen lengkap bahkan ada yang dibawah umur . Kebanyakan TKI atau TKW yang ilegal, karena tidak melalui Dinas Nakertrans ini memiliki pendidikan yang rendah (drop out SD, SMP). Pendidikan rendah membuat orang tidak berani berpikir untuk melawan perlakuan buruk. Umumnya mereka malu, takut dan karena itu pasrah saja ketika diperlakukan tidak adil.

Dibandingkan dengan kaum pria pada umumnya, kaum perempuan sebagai pekerja migran memiliki persoalannya tersendiri. Sering ada stigmatisasi pekerjaan 3 D yang dilakonkan oleh kaum perempuan: dirty, difficult, dangerous (kotor, sulit, berbahaya). Persoalan baru ini dapat dipahami karena mereka ditempatkan pada satu kondisi sulit dan berat (baby sitter, PRT, penjaga kaum jompo) atau buruh pabrik. Mereka digaji tinggi tetapi dalam pekerjaan beresiko tinggi. Situasi ini diperparah ketika tidak ada itikad baik dari pemerintah dalam memfasilitiasi proses rekruitmen, pengiriman, pengawasan selama menjadi TKI/TKW. Stigmatisasi 3 D di atas seolah didukung oleh kenyataan berikut: Pertama, sebagai migran itu sendiri, perempuan merasa jauh dari lingkup daerah dan budayanya sendiri. Keterasingan yang tidak bisa diatasi secara baik menimbulkan beban psikis yang mempengaruhi seluruh hidup dan pekerjaannya. Kedua, sebagai pekerja perempuan, mereka bekerja dengan kondisi serba sulit seperti keamanan yang rendah, sasaran diskriminasi atau kekerasan seksual cukup tinggi. Ketiga, sebagai perempuan asing, mereka mengalami dilema dalam usaha untuk mempertahankan tradisi negarannya dan pada saat yang sama harus melampaui shock culture dalam kehidupan kota. Keempat, sebagai perempuan yang hidup dan bekerja di wilayah yang didominasi kaum pria , kenyamanan diri menjadi hal yang amat sulit. Bisa saja setiap saat mereka menjadi sasaran bidikan kaum lelaki, penyiksaan pelecehan seksual, pemerkosaan, perdagangan kaum perempuan -human traficking). Penyakit HIV/AIDS Perantauan ke luar negeri ini dapat berefek pada persoalan terjangkitnya HIV/AIDS.

Menurut Lily Pujiati, Koordinator Peduli Buruh Migran Indonesia, Tenaga Kerja Indonesia rentan menderita kanker dan HIV/AIDS saat bekerja di luar negeri. Sebanyak 50-an buruh migran yang dipulangkan paksa ke tanah air menderita penyakit berat tersebut. Dalam wawancara dengan Koran Tempo, Selasa 19 Februari 2013, Pujiati menjelaskan bahwa konsumsi makanan tak sehat seperti daging kaleng dan mie instan yang banyak mengandung bahan pengawet merangsang sel kanker. Selain itu, para buruh migran mengalami depresi karena tak bisa berkomunikasi dengan keluarga. Apalagi, buruh migran yang bekerja di sektor informal seperti pembantu rumah tangga seringkali tak bisa keluar rumah dan menikmati liburan.

Di tahun 2010 terdapat 58 buruh migran Indonesia yang dipulangkan karena menderita HIV/AIDS. Angka itu naik menjadi 66 orang pada 2011. Tertularnya HIV/AIDS di Flores oleh karena masalah perantauan telah memperpanjang litani penderitaan para pelarat. Grd, seorang (ODHA-Orang Dengan HIV/AIDS) misalnya, mengisahkan mengapa ia menjadi ODHA. Karena putus SMP, pemuda dari Paga-Lio ini berangkat ke Malasya. Ia menjadi sopir selama 30 tahun dengan gaji satu juta lebih per bulan. Sebagai remaja yang beranjak dewasa, ia kerap menghabiskan gajinya ini dengan bersenang-senang, meneguk minuman keras atau mengunjungi pub-pub. Setelah menikahi istirnya (seorang TKW asal Flores di Malasya) kebiasaan mengunjungi pub ini terus dijalankannya, hingga ia jatuh sakit, dan memutuskan untuk kembali ke Maumere. Ketika memeriksakan diri ke rumah sakit, Grd ternyata terinfeksi HIV/AIDS. Setelah ketahuan terinfeksi HIV/AIDS, Grd ditolak oleh keluarganya termasuk sang istri. Sang istri meninggalkan Grd. Penderitaan Grd ini semakin parah hingga ia meninggal dunia .

Kisah lain adalah Ys, (pria asal Adonara-Flores Timur ) yang setelah sekian lama menderita sakit di Malasya, ia memutuskan untuk bale nagi (pulang ke kampung halamanya). Ketika tiba di Larantuka dan berobat ke rumah sakit, Ys diketahui terjangkit virus HIV/AIDS . Grd dan Ys adalah dua dari sekian banyak perantau Flores di Malasya yang terinfeksi HIV/AIDS. Penderitaan ditolak orang-orang apalagi oleh orang terdekat (seperti pengalaman Grd yang ditolak keluarga dan istri) sesungguhnya merupakan penderitaan luas biasa. Dia tidak saja lemah secara fisik tetapi terpinggirkan secara sosial. Ia, bahkan, menimbulkan beban psikis tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain (keluarga kandung, istri dan anak-anak). Secara sosial masyarakat Flores masih memandang rendah orang yang terjangkit HIV/AIDS. Hal ini bukan saja karena penyakit ini berbahaya, tetapi juga karena moral kepribadian dari orang yang terjangkit virus HIV/AIDS dinilai buruk sebab dihubungkan dengan tindakan free sex. Perpecahan Dalam Rumah Tangga Banyak perkampungan di Flores dihuni oleh orang tua dan anak-anak. Orang dewasa umumnya keluar dari kampung. Kalau anak-anak ditanya tentang keberadaan bapa atau ibunya, banyak yang menjawab bahwa bapa atau ibu berada di Malasya. Banyak orang tua yang kembali kalau anaknya sambut baru, tetapi ada juga yang tidak kembali, bahkan sampai anak mereka menyelesaikan pendidikan tingkat SMA. Di kampung-kampung, umumnya, anak-anak itu dititipkan pada keluarga (paman, bibi, kakek, nenek). Banyak anak yang tidak mengenal orang tua dengan baik. Sejak kecil mereka kehilangan kasih sayang dari orang tua. Terkadang mereka dididik dengan sangat keras oleh keluarga, dipaksa untuk bekerja, dan tidak diperhatikan pertumbuhan dan perkembangan mereka. Ada juga yang meninggalkan istri atau suami dan menikah lagi di tempat perantauan. Demikian juga istri yang ditinggalkan di kampung merasa kesepihan dan terkadang berselingkuh atau menikah lagi dengan lelaki lain. Permasalahan demi permasalahan bermunculan: keutuhan rumah tangga terancam bahkan berantakan, anak-anak tidak mendapat hak pengasuhan yang layak, yang memunkinkan mereka tidak berkembang secara seharusnya.

Perantauan yang mulanya dimotivasi oleh usaha memperbaiki keadaan ekonomi keluarga berakibat pada kehancuran dalam rumah tangga. Persis di sini kita temukan dilematis kehidupan masyarakat Flores: meninggalkan daerah, anggota keluarga untuk mencari uang demi kehidupan ekonomi, pendidikan anak, tetapi keluarga (anak) ditelantarkan. Tantangan Hidup Iman Kebanyakan perantau Flores menganut agama Katolik. Tradisi Katolik yang dianuti sejak kecil cukup mempengaruhi kehidupan beragamanya. Kebiasaan mengikuti ibadat atau perayaan ekaristi pada hari Minggu dan hari raya keagamaan merupakan bagian dari ungkapan iman. Selain itu, konsep cinta dan pelayanan (pengorbanan) sebagai kebajikan dalam teologi Katolik cukup kuat mewarnai perempuan Katolik untuk giat dalam tugas dan pekerjaan mereka. Kerelaan berkorban untuk sesuatu yang baik menjadi bagian dari kehidupan mereka. Ketika menjadi seorang migran, perempuan Flores merasa ditantang paling pertama dalam hal lingkup-budaya yang berbeda, termasuk kebiasaan dalam hal keagamaan. Di tempat baru di mana agama Katolik bukanlah mayoritas, mereka merasa aneh bila hari Minggu tidak ke gereja, atau pada hari Raya Natal dan Paskah mereka tidak misa. Kondisi ini didukung oleh pekerjaan mereka sebagai PRT, babby sitter dan penjaga jompo, waktu mereka hanya berada di dalam rumah. Mereka jarang berkomunikasi dengan orang di luar rumah. Atau kaum pria yang bekerja di perkebunan (karet, kelapa sawit), yang sepanjang tahun berada di hutan, jarang kembali ke kota, bahkan tidak pernah ke gereja. Tinggal dan bekerja di daerah mayoritas non-Katolik, para migran Flores mengalami kesulitan untuk menjalankan kehidupan keagamaannya. Kebutuhan rohani mereka tidak diakomodir secara baik. Pelbagai situasi yang menerpa kaum migran Flores di luar negeri sebagai mana dikemukakan di atas telah mencoreng wajah para perantau. Persoalan ini telah menjadi satu momok bagi pemerintahan Indonesia, termasuk Gereja di dalamnya.

Pelbagai situasi “kemelaratan” yang dialami kaum migran sesungguhnya telah membelokan motivasi dasar para migran; dari migrasi sebagai solusi terhadap persoalan ekonomi kepada migrasi sebagai sebuah problematika hidup. Untuk mengembalikan haluan dalam migrasi ini perlu upaya serius, dan bersama-sama semua pihak dan kontinyu untuk mengatasinya.

Wajah Migran Flores: Wajah Dialog Frontiers SVD

Dokumen Serikat Tentang Misi Frontiers Kaum Migran “Frontiers” atau situasi tapal batas adalah sebuah term yang sangat khas dalam dokumen SVD. Dengan frontiers, Kapitel Jenderal SVD mengajak anggota SVD untuk terbuka dalam catur dialog (dialog dengan para pencari iman, orang-orang miskin dan yang tersingkirkan, orang-orang dari aneka ragam budaya, penganut tradisi agama lain).

Catur dialog merupakan kesediaan untuk berada bersama dengan orang-orang di tapal batas. Kalau menelususri sejarah terbentuk dan berdirinya SVD, maka gagasan untuk berdialog dengan yang lain atau misi frontiers sudah menjadi ciri awal, identitas yang menandai berdirinya rumah misi Steyl. Hal ini dapat dibaca dari kotbah Arnold Janssen pada tanggal 2 Maret 1879, pada malam misa perutusan dua misionaris perdana SVD, Johannes B. Anzer dan Josef Freinademetz ke negeri Cina. Situasi perutusan ini menggema dalam sebuah semboyan quam speciosi pedes evangelizantium pacem (betapa indahnya langkah kaki pembawa berita damai). “...Sesuai dengan tujuanya, Rumah Misi kini mengutus misionaris perdana. Kita berharap supaya lebih banyak lagi akan menyusul mereka. Karya misionaris bagaikan satu medan bakti rohani, di mana seorang hanya dapat berhasil kalau ia ditopang oleh yang lain; seandainya ia gugur, ia akan diganti yang menyusul...” Gema kotbah Arnold Yanssen 134 tahun yang lalu di Rumah Misi Steyl Belanda seolah-olah masih terdengar jelas saat ini ketika SVD merayakan 100 tahun misinya di Indonesia. Kedua misionaris perdana SVD ke Cina (1879) dan ketiga misionaris SVD perdana ke Indonesia (P. Pit Noyen, SVD; P.Arnoldus Verstralen, SVD dan P. Frans de Lange, SVD adalah gambaran fisik sekaligus misioner dari spiritualitas misi frontiers, misi menembus tapal batas wilayah, suku, bahasa, agama, kaum beriman lainnya. Setelah masuk Indonesia tahun 1913, SVD Indonesia baru mengirimkan misionaris pertamanya ke luar negeri, yakni Papua New Guinea pada tahun 1983, dalam diri P. Severinus Pambut, SVD dan P. Yohanes Bosko Tou, SVD . Inilah salah satu tonggak penting dalam sejarah Gereja Indonesia dan sejarah SVD Indonesia. Inilah gambaran misi sebagai sebuah “keberalihan” ke tapal batas.

Tapi keberalihan ini tidak saja dipahami dari gerakan misi tetapi juga konsentrasi dan bobot pelayanan bagi orang Indonesia (Flores dan Timor) sebagai kaum migran di Malasya. Seturut catatan historis, pengiriman misionaris Indonesia ke Malasya sudah dimulai dengan penjajakan kemungkinan misi di Sabah Malasya tahun 1982. P. Josef Diaz Vera, SVD (Provinsi SVD Jawa) menjajaki kemungkinan itu di Kota Kinabalu dan P. Yan Perason, SVD (Provinsi SVD Ende) mengadakan penjajakan di Tawau. Setahun setelah penjajakan (1983) P. Lukas Bao Teluma, SVD dan P. Yan Perason, SVD ditugaskan untuk mengemban misi perdana untuk para perantau di kota Kinabalu, Sabah, meskipun sesudahnya keduanya kemudian menetap di Nunukan (wilayah Indonesia) . Misi bagi pekerja migran adalah bentuk kesadaran akan ada bagian yang hilang dari diri kita ketika berhadapan dengan sejumlah kasus kekerasan seksual, perdagangan manusia, panganiayaan, pembunuhan para perantau Flores (NTT) di luar negeri. Situasi dan problematika kehidupan dan keberadaan para migran Flores (NTT) di luar negeri adalah sebuah panggilan kembali bagi SVD untuk bermisi tapal batal.

SVD Indonesia sebenarnya paling bertanggungjawab dalam mengemban misi frontiers bagi kaum migran Flores (NTT) di luar negeri. Alasannya, Flores (NTT) secara keseluruhan adalah medan misi SVD Indonesia dan bahwa dalam konteks Gereja di NTT, SVD adalah konggregasi religius yang paling lama berkarya di wilayah ini. Lalu seperti apakah misi itu? Keterlibatan dalam misi dialog frontiers SVD bagi kaum migran dapat ditemukan dalam beberapa dokumen serikat, yang menunjukkan komitmen SVD. Dalam dokumen Protokol Visitasi General Tahun 2009, pada poin tentang “Misi dengan Mitra Dialog Kita”, terungkap komitmen SVD untuk berdialog dengan orang-orang di tapal batas dengan membantu para migran dan keluarga-keluarga yang hidup terpisah oleh emigrasi .

Dalam dokumen Pernyataan Akhir Musyawarah Provinsi SVD Ende 2010 khusus poin “Isu-isu pastoral yang mendesak,” ditemukan beberapa isu pastoral misioner yang mendesak untuk dilaksanakan, antara lain: kerusakan alam karena industri pertambangan, human trafficking, dampak-dampak negatif dari persoalan migran dan perantau, merebaknya HIV/AIDS. Terhadap isu-isu itu setiap anggota SVD Provinsi Ende diminta untuk memberikan tanggapan kreatifnya dengan cara mendata korban human trafficking dan para perantau yang hendak meninggalkan kampung halaman, melakukan persiapan bagi calon migran, memfasilitasi pendidikan kritis penyadaran gender, penyadaran hukum dan pendidikan kritis bagi hak asasi manusia bagi mereka yang menjadi korban langsung . Dalam dokumen Kapitel Provinsi SVD Ende XXI (20-25 Februari 2013), salah satu tema penting yang digumuli adalah “Tantangan Urbanisasi dan Migrasi” . Kapitel menyebut antara lain fakta bahwa Flores pada khususnya dan NTT pada umumnya adalah pemasok terbesar dalam migrasi baik dalam wilayah di Indonesia maupun sebagai TKI dan TKW ke luar negeri (Malasya, Singapura, Hongkong).

Ada tiga (3) pokok penyebab migrasi di Flores: Ketidakseimbangan antara kepemilikan lahan produktif yang sempit dan jumlah anggota keluarga yang semakin bertambah, minimnya ketrampilan orang muda untuk menciptakan lapangan pekerjaan di bidang pertanian, daya kehidupan kota lebih menarik (variasi hiburan, upah yang tinggi, akses dalam komunikasi dan informasi, peredaran uang yang lancar).

Kapitel mencatat bahwa migrasi oleh orang Flores umumnya bukan merupakan sebuah masalah tetapi sebaliknya jalan keluar yang ditempuh demi kehidupan ekonomi yang lebih baik. Persoalan yang dihadapi adalah para migran itu tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, kurang mendapat akses dan informasi, ditambah dengan kurang adanya perhatian dari pemerintah dalam memfasilitasi mereka sehingga migrasi mereka ke luar Flores menuai banyak persoalan. Karena itu keterlibatan SVD sebagai sebuah serikat misioner dengan spiritualitas dan misi frontiersnya merupakan bukti nyata pengambilan bagian dalam misi dan perutusan Yesus Sang Sabda, satu bentuk dialog dengan Sang Sabda melalui misi frontiers bersama kaum migran. Wajah Dialog Frontiers SVD Mengingat kebanyakan kaum migran Flores adalah realitas kehidupan yang amat dekat, bahkan menjadi bagian misi SVD Indonesia, maka keberadaan kaum migran beserta aneka persoalannya merupakan sebuah lahan misi bagi SVD Indonesia. Pelbagai dokumen serikat memperlihatkan bahwa perhatian terhadap kaum tertindas adalah satu subjek dari catur dialog profetis SVD.

Sebagai sebuah serikat misi yang sudah berkarya di daerah ini (Indonesia) selama 100 tahun, persoalan migrasi bisa dilihat sebagai “kegagalan” SVD Indoensia, dan karena itu kita “harus” bertanggungjawab atasnya. Beberapa bentuk pertanggungan-jawab itu antara lain: Spiritualitas Misioner Aspek pertama yang bisa dijadikan landasan SVD dalam mengemban misi bagi kaum migran adalah spiritualitas misioner. Yang dimaksudkan dengan spiritualitas misioner ini adalah: Kita semua adalah kaum migran dan perantau di bumi ini. Kehadiran kita sebagai misionaris di mana dan kapan saja adalah untuk berbagi hidup dan perutusan untuk mempersatukan, mendamaikan dan menyelamatkan . Kutipan ini mengingatkan kita (anggota SVD) akan bagian pertama dari Kontitusi SVD, “misiNya adalah misi kita dan perutusanNya adalah perutusan kita”. Misi dan perutusan itu kemudian ditegaskan dalam Konstitusi SVD no.103. Saya mengutip sebagiannya: “Sabda Allah telah menjadi manusia dalam situasi historis tertentu...... Teladan Yesus menentukan cara bagaimana kita mengambil bagian dalam perutusanNya.....Dengan sikap terbuka serta hormat terhadap tradisi religius bangsa-bangsa, kita mengusahakan dialog dengan semua orang dan menyampaikan kabar gembira tentang cinta Allah kepada mereka. Perhatian yang khusus hendaknya kita tunjukkan kepada golongan yang miskin dan tertindas” (Konstitusi SVD no.103).

Dua kutipan di atas menghantar kita pada satu hermeneutika (Kristen) atas persoalan migrasi yang memungkinkan satu pengungkapan iman di tengah kompleksitas persoalan. Cara pandang ini didasarkan pada satu keyakinan bahwa menemani kaum migran adalah usaha untuk menegaskan bahwa Allah sungguh hadir dalam sejarah manusia, kendati itu adalah sejarah terburuk. Selain itu kita dapat memahami teologi Gereja Katolik sebagai Gereja kaum peziarah, maka kita juga bisa mengatakan bahwa Gereja Kristus adalah sebuah Gereja kaum migran. Kita adalah jemaat peziarah. Kita menetapkan identitas Kristen di tengah perziarahan. Kita mencari pengakuan sebagai partner yang sama dalam relasi dengan setiap orang, termasuk yang berada dalam situasi yang memprihatinkan, dan bersama mereka, kita membangun situasi harapan akan pembebasan dari situasi terbelenggu.

Bagi SVD Indonesia tugas yang sangat mendesak adalah ikut menangani masalah yang ditimbulkan baik pada kaum migran itu sendiri maupun mereka yang ditinggalkan (suami, istri dan anak-anak) di kampung halaman. Divisi Migran dan Perantau Spiritualitas misioner yang menjadi landasan dalam misi frontiers (migrasi), terejawantah dalam Kapitel Provinsi SVD Ende XXI yang menetapkan beberapa aksi, diantaranya pembentukan Divisi Migran dan Perantau sebagai bagian dari Komisi JPIC. Beberapa misi yang diemban oleh divisi ini adalah; Pertama, mendampingi para migran di tempat kerja dan keluarga yang ditinggalkan di daerah asal. Kedua, mendampingi dan memberdayakan penduduk asli yang menjadi daerah tujuan migrasi . Ketiga, memberi penyadaran dan informasi tentang bahaya HIV/AIDS kepada calon migran. Keempat, advokasi kebijakan dan program pemerintah untuk mempersiapkan ketrampilan bagi calon migran . Pembentukan divisi migran ini kiranya merupakan satu komitmen serikat untuk terlibat secara lansgung dalam mendata perekrutan calon migran, mengikuti proses seleksi dan pelatihan, pemberangkatan hingga tiba di tempat baru. Selain itu pendampingan pastoral bagi para anggota keluarga yang ditinggalkan (suami, istri anak-anak). Jejaring Keagamaan Seturut catatan Catharina Purwani Williams banyak analisis atas migrasi internasional yang dibuat berhubungan dengan alasan ekonomis dan politis. Sedangkan analisis dalam kaitan denga masalah sosial terutama aspek keagamaan/keimanan sangat jarang. Padahal, relasi antara keimanan (keagamaan) dalam kehidupan kaum migran pernah dibuat oleh Oscar Handlin (1973) sejak tahun 1950-an ketika ia berbicara tentang para migran di Amerika , demikian Purwani Wiliams.

Dengan membuat analisis hubungan antara tingkat keimanan seseorang di tempat migrasi diharapkan supaya adanya pemahaman yang mendalam tentang berbagai cara para migran menimba bentuk kekuatan spiritual yang berasal dari kepercayaan/agamanya. Mengutip Ozorak, E.W., Purwani Williams menjelaskan bahwa kendati sebagian besar agama lahir dan dipengaruhi oleh budaya patriarka (termasuk di Flores), perempuan jauh lebih berhasil dalam menimba kekuatan dan kepercayaan mereka akan Allah, yang tentunya bisa membantu mereka dalam berperilaku, mengembangkan rasa nyaman, memberi rasa pada komunitas di mana mereka berada, dan berkembang secara pribadi . Kekuatan seperti ini merupakan potensi bagi mereka asalkan tetap diberi ruang pendampingan. Hal ini dapat dilakukan melalui jejaring keagamaan antara negara pengirim dan penerima yang bisa memberi pengaruh pada pemerintah (pengirim dan penerima TKW).

Selain itu, SVD Indonesia bisa menjadikan Malasya atau Singapura, misalnya, sebagai daerah misi baru lagi sebagaimana yang pernah dibuat pada tahun 1983. Dengan adanya misi bagi pekerja migran, mereka dapat ditolong baik secara rohani, dalam kebutuhan iman, maupun dalam mengatasi pelbagai kesulitan hidup. Paling tidak mereka tahu ke mana mereka paling cepat mencari pertolongan ketika berada dalam situasi sulit. Selain itu keterlibatan SVD dalam Vivat Internasional merupakan satu modal dalam usaha mengadvokasi setiap persoalan pekerja migran di luar negeri seperti human trafficking atau pelbagai kejahatan. Akhir Kata Kehadiran Allah dalam situasi historis manusia, termasuk situasi tapal batas itu nyata dalam sebuah konsep teologis Kristen tentang wahyu sebagai revelasi diri Allah kepada manusia. Dalam pemahaman antropologi, Wahyu berkorelasi dengan kepekaan dan kemampuan manusia untuk menanggapi kejadian-kejadian sosial kemasyarakatan dan menafsirnya dalam konteks keberpihakan pada manusia yang menderita dan kepedulian Allah terhadap nasib manusia marginal.

Konstitusi SVD no 103 menegaskan hal ini ketika berbicara tentang Sabda Allah yang menjadi manusia dalam situasi historis tertentu dan panggilan seorang SVD untuk mengusahakan dialog dengan semua yang berada dalam wilayah tapal batas seperti pekerja migran. Kita tidak boleh merasa cukup dengan mendokumentasikan keprihatinan ini dalam pelbagai terbitan SVD. Kita didesak untuk menjalankan misi ini khususnya di Flores dan NTT. Inilah tugas dan tanggungjawab baru di tengah usia karya misi SVD yang ke-100 tahun di Indonesia.

Daftar Rujukan

Alt, Josef SVD, Arnold Janssen: Hidup dan Karyanya (terj.Alex Beding, dkk). Komisi Komunikasi sosial Provinsi SVD Ende, Ende:1999.

Arthur Schilpp, Paul (ed). The Philosophy of Karl Jaspers, La Salle,Illinois: Open Court Publishing Company, 1957.

Asa, Blasius Trinold,”Memaknai Pengalaman Hidup Orang Dengan HIV/AIDS KDS Flores Plus Support: Sebuah Refleksi Teologis-Biblis” dalam Jurnal Ledalero, Vol. 10.No.2, Desember 2011.

Baghi, Felix (ed.), Pluralisme, Demokrasi dan Toleransi. Penerbit Ledalero: Maumere, 2012. Beding,Alex (penterjemah). Sejarah Serikat Sabda Allah. Collegium Verbi Divini, Roma:1993.

Budi Kleden, Paul dan Mirsel, Robert (eds). Menerobos Batas Merobohkan Prasangka, Jilid 2. Penerbit Ledalero: Maumere, 2011.

Budi Kleden, Paul, et. al (eds), Allah Menggugat Allah Menyembuhkan, Penerbit Ledalero: Maumere, 2012.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, edisi IV, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2008. Guyot, Jean dkk. Migrant Women Speak. Search Press Limited, London:1978.

Haris, Abdul, Memburu Ringgit Membagi Kemiskinan. Pustaka Pelajar,Yogyakarta: 2002.

Jua, Lukas ,”Henry Heekeren, SVD: Peran dan Karyanya di Indonesia” dalam Jurnal Ledalero, Vol.12,No.2 Desember 2012.

Dokumen SVD Konstitusi SVD, Roma, Tahun 1983. Komisi Komunikasi Sosial Provinsi SVD Ende, Protokol Visitasi General Tahun 2009.

Komisi Komunikasi Sosial Provinsi SVD Ende, Pernyataan Akhir Musyawarah Provinsi 2010. Komisi Komunikasi Sosial Provinsi SVD Ende, Rumusan Akhir Kapitel Provinsi SVD Ende XXI (20-25 Februari 2012).

Internet

http://www.tempo.co/read/news/2013/04/30/173476980/TKI-Kurang-Perlindungan-dan-Pendidikan. Diakses tanggal 23 Mei 2013.

Sura Kabar Flores Pos, Senin, 13 Mei 2013

Harian Umum Sore Suara Pembaruan, 26 Mei 2013. Pos Kupang, Selasa, 14 Mei 2013.

Pos Kupang, Selasa,28 Mei 2013.

Wawancara

Wawancara per telpon dengan Erna Hayong, TKW di Singapura, pada tanggal 20 Mei 2012.

Wawancara per Telpon dengan Merry KwenTKW di Singapura, pada tanggal 4 Juni 2013.