Gnoyah BERNARD

Gnoyah BERNARD

Taang uin tou, together we are

Aku mengada secara sadar bersama yang lain.
Aku menjadi aku bersama engkau, sambil menjadi aku, aku mengatakan engkau

homili

Renungan/HomiliPosted by G_noyah Bernard Fri, March 30, 2018 23:05:30

Misa Komunitas,

Kamis, 19 September 2013

Ia Telah Banyak Berbuat Kasih

Luk 7: 36-50

Kisah tentang Yesus yang diurapi oleh wanita pendosa sungguh merupakan skandal bagi Simon, seorang Farisi, tuan rumah yang mengundang Yesus untuk acara santap bersama. Kita bisa membayangkan sebuah pesta yang dikemas dengan undangan VIP, para pejabat, orang terkemuka, dan di tengah kesemarakan pesta itu muncul seorang yang tak diundang, perempuan, dengan penampailan dan tingkah laku aneh. Kecemasan Simon beralasan karena dalam tradisi Yahudi penampilan seorang perempuan dengan rambut terurai memiliki konotasi negatif. Apalagi si perempuan itu mendekati, menangis, serta mencium kaki seorng lelaki-Yesus. Skandal ini dapat terbaca dari reaksi Simon, “Jika Ia ini seorang nabi, tentu Dia tahu siapakah wanita ini”. Untuk pemimpin agama dan kaum Farisi kenabian Yesus ditentukan oleh kewibawaan dan kemurnian Yesus dalam menjaga aturan bangsanya, sikap tidak boleh bergaul dan akrab dengan pendosa. Simon, sebagaimana kaum farisi lainnya, bermaksud untuk menjaga dan melindungi poplularitas Yesus, supaya jangan ternoda oleh pelbagai kesempatan dalam hidup. Bagi Yesus, kenabianNya nyata dalam ada bersama kaum pendosa. “Aku datang bukan untuk orang benar melainkan untuk orang berdosa”.

Untuk alasan ini Yesus membiarkan si wanita itu mendekati Dia. Yesus menghargai pribadinya dan tidak melihat, menghafal pelbagai cap yang dikenakan pada wanita itu. Dalam kebiasaan hidup bermasyarakat, kita gampang mengingat pelbagai cap yang diberikan terhadap orang tertentu. Seringkali cap-cap itu kemudian dijadikan karakter atau bagian diri orang tertentu. Kita memberi keterangan tambahan pada pribadi orang yang dianggap bermasalah. Label ini kemudian begitu kuat membekas sehingga seolah-olah orang memiliki kepribadian baru. Yesus, sebaliknya, membongkar cap, yang mendiskreditkan perempuan ini.

Yesus menerima perempuan ini karena ia melihat pertobatannya yang tulus.

Kisah yang ia dengar tentang Yesus, memberanikan si wanita itu mendatangi rumah Simon untuk bertemu dengan Yesus. Sebuah keberanian yang dilandasi oleh hasrat untuk bertobat. Ia mendekati bagian kaki Yesus, menangis, membasahi dengan air matanya, menyeka dengan rambutnya lalu menuangkan minyak wangi. Sebuah tindakan yang tidak lasim. Tindakan yang radikal. Jarang orang mencuci kaki menggunakan air mata, dan mengeringkan dengan rambut. Air mata bisa dilihat sebagai simbol penyesalan. Orang bisa menangis karena menyesal. Dan inilah konteks wanita ini. Ungkapan penyesalannya dikukuhkan dengan mengorbankan rambut, mahkota keindahannya, bagian tubuh yang paling atas untuk membersihkan kaki, bagian tubuh yang paling bawah, yang rentan, akrab dan dekat dengan debu, dan kotoran. Satu kontras suci dari tindakan yang sangat tulus, jujur dan iklas. Si wanita menangisi kehidupannya yang kelam, air mata kesedihan atas hidupnya dibersihkan dengan rambut. Rambut perempuan terurai yang berkonotasi negatif dalam tradisi Yahudi, dijadikan sebagai sarana pernyataan pertobatan bathin. Kaki, wilayah yang paling rendah dicium dan diminyaki dengan parfum, demi sebuah tindakan kasih. Kekayaan pada dirinya ditumpahkan dan karena itu keharuman dirinya menebar dari perbutannnya. Yesus melihat perempuan ini bukan sebagai pendosa tetapi sebagai pengasih. “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan aku air untuk membasuh kakiku. Tetapi ia membasuh kakiku dengan air mata dan menyekanya dengan rambut. Engkau tidak meminyaki kepalaku dengan minyak, tetapi ia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Aku berkata kepadamu, dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih”.

Tindakasn kasih membuka lembaran baru kehidupan. Kasih menyembuhkan manusia, baik dia yang memberi, maupun dia yang menerima. Karena itu butuh satu keberanian. Si wanita berani menerobos masuk dalam rumah Simon. Untuk dia bukan soal diundang atau tidak diundang untuk sebuah perjamuan. Toh dia, tidak akan pernah masuk dalam daftar undangan, Simon, si tuan pesta itu. Perempuan ini mendekati Yesus hanya dengan motivasi tunggal: kasihnya pada Yesus dan kasih inilah yang mendorong dia untuk meminta pengampunan dari Yesus. Bagi seorang perempuan Yahudi kehilangan rambut di tempat umum merupakan tanda ketidaksopanan, tetapi tidak untuk wanita ini. Gerakan kasihlah yang mendasarinya.

Bagi dia, hasrat mengungkapkan pertobatan sebagai pernyataan kasih pada orang yang tepat dan pada waktu yang tampan, itulah yang paling utama.

Mencinta, mengasihi memang satu keberanian. Apabila kita mengasihi, kita sanggup mengubah banyak aturan permainan yang diciptakan oleh manusia dan yang dihidupi dalam masyarakat. Karena kasih, kita dapat keluar dari aturan ini. Tahun 2000, ketika TOM di LSM saya bergabung dengan tim JRS melayani pengungsi Timor Leste Atambua. Dalam salah satu kesempatan, kami mendapat tugas mendata para pengungsi yang berada di kamp-kamp sekitar lapangan bola kaki komunitas Nenuk, yang harus segera di tolong. Sementara dari kapela Nenuk, para novis dan anggota komunitas berteriak,“Ya Allah bersegeralah menolong Aku”. Seorang teman berkomentar, ini satu kontras yang suci.

Paus Fransisku dalam enskiklik pertamanya Lumen Fidei (Cahaya Iman) mempertalikan antara iman dan tindakan kasih. Ia menulis: “Iman, yang lahir dari kasih Tuhan, memperkuat ikatan kemanusiaan dan menempatkan dirinya sendiri pada pelayanan keadilan, hak asasi dan perdamaian. Itulah sebabnya mengapa iman tidak menjauhkan dirinya dari dunia dan berhubungan dengan komitmen nyata manusia zaman ini. Sebaliknya, tanpa kasih Tuhan yang di dalamnya kita dapat menempatkan kepercayaan kita, ikatan antara orang-orang akan hanya didasarkan pada kegunaan, minat dan ketakutan. Iman menggenggam landasan terdalam hubungan manusia, kesudahan mereka dalam Tuhan, dan menempatkan mereka pada pelayanan kebaikan bersama”.

Nn.... Semakin kita mempertaruhkan diri bagi seseorang karena kasih yang iklas, kita membebaskan diri dari aturan yang dangkal. Pengampunan adalah sebuah ungkapan kasih. Dengan menciptakan suasana pengampunan, kita sedang memberi kesempatan bagi orang lain untuk membenahi hidupnya. Hidup persaudaraan adalah sebuah langkah atau bentuk konkret dari perngampunan itu. Mencela dan mencap orang karena tindakannya serta memberi stigma buruk kepadanya, hanya karena saya tidak terlalu suka dengan cara hidup, sikap dan cara pandangannya, bertentangan dengan semangat pengampunan dan sekaligus mengebiri tindakan kasih.

Siapa yang paling dikasihani: yang tidak dapat menerima kasih atau mereka yang tidak dapat memberi kasih? Yesus menunjukkan dengan jelas bahwa kasih terbesar lahir dari sebuah hati yang mengampuni. Kasih menutup segala dosa (1 Ptr 4: 8), karena Allah adalah kasih (1 Yoh 4:7). Apa yang dibuat oleh wanita ini menunjukkan bukti bahwa ia telah mengalami kasih Allah. Dan, Yesus tahun bahwa wanita itu manusia yang dicintai dan dikasihi Allah. Yesus adalah kasih Allah itu sendiri. Karena itu Yesus menunjukkan pertentangan sikap wanita dan Simon orang farisi itu: Bagaimana kita dapat menerima atau menolak kasih Allah?

Nn....Apakah ada cara baru, dengannya hari ini, saya dapat menunjukkan simpatiku dan cintaku terhadap sesama?

Ledalero, 20 September 2013

P. Bernard Hayong, SVD