Gnoyah BERNARD

Gnoyah BERNARD

Taang uin tou, together we are

Aku mengada secara sadar bersama yang lain.
Aku menjadi aku bersama engkau, sambil menjadi aku, aku mengatakan engkau

homili

Renungan/HomiliPosted by G_noyah Bernard Fri, March 30, 2018 23:05:30

Misa Komunitas,

Kamis, 19 September 2013

Ia Telah Banyak Berbuat Kasih

Luk 7: 36-50

Kisah tentang Yesus yang diurapi oleh wanita pendosa sungguh merupakan skandal bagi Simon, seorang Farisi, tuan rumah yang mengundang Yesus untuk acara santap bersama. Kita bisa membayangkan sebuah pesta yang dikemas dengan undangan VIP, para pejabat, orang terkemuka, dan di tengah kesemarakan pesta itu muncul seorang yang tak diundang, perempuan, dengan penampailan dan tingkah laku aneh. Kecemasan Simon beralasan karena dalam tradisi Yahudi penampilan seorang perempuan dengan rambut terurai memiliki konotasi negatif. Apalagi si perempuan itu mendekati, menangis, serta mencium kaki seorng lelaki-Yesus. Skandal ini dapat terbaca dari reaksi Simon, “Jika Ia ini seorang nabi, tentu Dia tahu siapakah wanita ini”. Untuk pemimpin agama dan kaum Farisi kenabian Yesus ditentukan oleh kewibawaan dan kemurnian Yesus dalam menjaga aturan bangsanya, sikap tidak boleh bergaul dan akrab dengan pendosa. Simon, sebagaimana kaum farisi lainnya, bermaksud untuk menjaga dan melindungi poplularitas Yesus, supaya jangan ternoda oleh pelbagai kesempatan dalam hidup. Bagi Yesus, kenabianNya nyata dalam ada bersama kaum pendosa. “Aku datang bukan untuk orang benar melainkan untuk orang berdosa”.

Untuk alasan ini Yesus membiarkan si wanita itu mendekati Dia. Yesus menghargai pribadinya dan tidak melihat, menghafal pelbagai cap yang dikenakan pada wanita itu. Dalam kebiasaan hidup bermasyarakat, kita gampang mengingat pelbagai cap yang diberikan terhadap orang tertentu. Seringkali cap-cap itu kemudian dijadikan karakter atau bagian diri orang tertentu. Kita memberi keterangan tambahan pada pribadi orang yang dianggap bermasalah. Label ini kemudian begitu kuat membekas sehingga seolah-olah orang memiliki kepribadian baru. Yesus, sebaliknya, membongkar cap, yang mendiskreditkan perempuan ini.

Yesus menerima perempuan ini karena ia melihat pertobatannya yang tulus.

Kisah yang ia dengar tentang Yesus, memberanikan si wanita itu mendatangi rumah Simon untuk bertemu dengan Yesus. Sebuah keberanian yang dilandasi oleh hasrat untuk bertobat. Ia mendekati bagian kaki Yesus, menangis, membasahi dengan air matanya, menyeka dengan rambutnya lalu menuangkan minyak wangi. Sebuah tindakan yang tidak lasim. Tindakan yang radikal. Jarang orang mencuci kaki menggunakan air mata, dan mengeringkan dengan rambut. Air mata bisa dilihat sebagai simbol penyesalan. Orang bisa menangis karena menyesal. Dan inilah konteks wanita ini. Ungkapan penyesalannya dikukuhkan dengan mengorbankan rambut, mahkota keindahannya, bagian tubuh yang paling atas untuk membersihkan kaki, bagian tubuh yang paling bawah, yang rentan, akrab dan dekat dengan debu, dan kotoran. Satu kontras suci dari tindakan yang sangat tulus, jujur dan iklas. Si wanita menangisi kehidupannya yang kelam, air mata kesedihan atas hidupnya dibersihkan dengan rambut. Rambut perempuan terurai yang berkonotasi negatif dalam tradisi Yahudi, dijadikan sebagai sarana pernyataan pertobatan bathin. Kaki, wilayah yang paling rendah dicium dan diminyaki dengan parfum, demi sebuah tindakan kasih. Kekayaan pada dirinya ditumpahkan dan karena itu keharuman dirinya menebar dari perbutannnya. Yesus melihat perempuan ini bukan sebagai pendosa tetapi sebagai pengasih. “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan aku air untuk membasuh kakiku. Tetapi ia membasuh kakiku dengan air mata dan menyekanya dengan rambut. Engkau tidak meminyaki kepalaku dengan minyak, tetapi ia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Aku berkata kepadamu, dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih”.

Tindakasn kasih membuka lembaran baru kehidupan. Kasih menyembuhkan manusia, baik dia yang memberi, maupun dia yang menerima. Karena itu butuh satu keberanian. Si wanita berani menerobos masuk dalam rumah Simon. Untuk dia bukan soal diundang atau tidak diundang untuk sebuah perjamuan. Toh dia, tidak akan pernah masuk dalam daftar undangan, Simon, si tuan pesta itu. Perempuan ini mendekati Yesus hanya dengan motivasi tunggal: kasihnya pada Yesus dan kasih inilah yang mendorong dia untuk meminta pengampunan dari Yesus. Bagi seorang perempuan Yahudi kehilangan rambut di tempat umum merupakan tanda ketidaksopanan, tetapi tidak untuk wanita ini. Gerakan kasihlah yang mendasarinya.

Bagi dia, hasrat mengungkapkan pertobatan sebagai pernyataan kasih pada orang yang tepat dan pada waktu yang tampan, itulah yang paling utama.

Mencinta, mengasihi memang satu keberanian. Apabila kita mengasihi, kita sanggup mengubah banyak aturan permainan yang diciptakan oleh manusia dan yang dihidupi dalam masyarakat. Karena kasih, kita dapat keluar dari aturan ini. Tahun 2000, ketika TOM di LSM saya bergabung dengan tim JRS melayani pengungsi Timor Leste Atambua. Dalam salah satu kesempatan, kami mendapat tugas mendata para pengungsi yang berada di kamp-kamp sekitar lapangan bola kaki komunitas Nenuk, yang harus segera di tolong. Sementara dari kapela Nenuk, para novis dan anggota komunitas berteriak,“Ya Allah bersegeralah menolong Aku”. Seorang teman berkomentar, ini satu kontras yang suci.

Paus Fransisku dalam enskiklik pertamanya Lumen Fidei (Cahaya Iman) mempertalikan antara iman dan tindakan kasih. Ia menulis: “Iman, yang lahir dari kasih Tuhan, memperkuat ikatan kemanusiaan dan menempatkan dirinya sendiri pada pelayanan keadilan, hak asasi dan perdamaian. Itulah sebabnya mengapa iman tidak menjauhkan dirinya dari dunia dan berhubungan dengan komitmen nyata manusia zaman ini. Sebaliknya, tanpa kasih Tuhan yang di dalamnya kita dapat menempatkan kepercayaan kita, ikatan antara orang-orang akan hanya didasarkan pada kegunaan, minat dan ketakutan. Iman menggenggam landasan terdalam hubungan manusia, kesudahan mereka dalam Tuhan, dan menempatkan mereka pada pelayanan kebaikan bersama”.

Nn.... Semakin kita mempertaruhkan diri bagi seseorang karena kasih yang iklas, kita membebaskan diri dari aturan yang dangkal. Pengampunan adalah sebuah ungkapan kasih. Dengan menciptakan suasana pengampunan, kita sedang memberi kesempatan bagi orang lain untuk membenahi hidupnya. Hidup persaudaraan adalah sebuah langkah atau bentuk konkret dari perngampunan itu. Mencela dan mencap orang karena tindakannya serta memberi stigma buruk kepadanya, hanya karena saya tidak terlalu suka dengan cara hidup, sikap dan cara pandangannya, bertentangan dengan semangat pengampunan dan sekaligus mengebiri tindakan kasih.

Siapa yang paling dikasihani: yang tidak dapat menerima kasih atau mereka yang tidak dapat memberi kasih? Yesus menunjukkan dengan jelas bahwa kasih terbesar lahir dari sebuah hati yang mengampuni. Kasih menutup segala dosa (1 Ptr 4: 8), karena Allah adalah kasih (1 Yoh 4:7). Apa yang dibuat oleh wanita ini menunjukkan bukti bahwa ia telah mengalami kasih Allah. Dan, Yesus tahun bahwa wanita itu manusia yang dicintai dan dikasihi Allah. Yesus adalah kasih Allah itu sendiri. Karena itu Yesus menunjukkan pertentangan sikap wanita dan Simon orang farisi itu: Bagaimana kita dapat menerima atau menolak kasih Allah?

Nn....Apakah ada cara baru, dengannya hari ini, saya dapat menunjukkan simpatiku dan cintaku terhadap sesama?

Ledalero, 20 September 2013

P. Bernard Hayong, SVD





homili

Renungan/HomiliPosted by G_noyah Bernard Fri, March 30, 2018 23:05:07

Domenica 31, C

Luca 19, 1-10

La casa come un sacramento

Noi viviamo nella casa, nella comunità. Se usciamo dalla casa, c'è un desiderio di tornare a casa. La casa non è solo un edificio che ci protegge durante il giorno e la notte. La casa è anche l'atmosfera: amore, unità, solidarietà e fraternità, come una famiglia. La casa ha il suo fascino proprio: c'è il padre, la madre, i fratelli, le sorelle, i nonni. Allora, noi siamo la casa. La costruiamo un'atmosfera familiare. La casa è una stimolante della vita. Nella casa troviamo una forza che ci insegna e ci guarisce.

Nel Vangelo d’oggi, la parola "casa" è ripetuta tre volte.

1. Quando giunse sul luogo, Gesù alzò lo sguardo e gli disse: «Zacchèo, scendi subito, perché oggi devo fermarmi a casa tua.

2. Vedendo ciò, tutti mormoravano: «È entrato in casa di un peccatore!».

3. Gesù gli rispose: «Oggi per questa casa è venuta la salvezza, perché anch’egli è figlio di Abramo. Il Figlio dell’uomo infatti è venuto a cercare e a salvare ciò che era perduto».

Zaccheo, come la maggior parte delle gente, vuole vedere Gesù da vicino. Questo fa venire a Zaccheo il desiderio di lasciare un lavoro come esattore delle tasse. Correva davanti alla folla, si arrampicarva sugli alberi, al fine di vedere Gesù chiaramente. Egli è riuscito a superare gli ostacoli: la folla di molte persone e la bassa statura. Ma Gesù lo chiama: " scendi subito, perché oggi devo fermarmi a casa tua.

La chiamata di Gesù per ritornare a casa restituisce tutta la vita di Zaccheo. É la chiamata che ha portato al suo pentimento. “Ecco, Signore, io do la metà di ciò che possiedo ai poveri e, se ho rubato a qualcuno, restituisco quattro volte tanto».

L'atteggiamento del nuovo pentimento di Zaccheo cioè di un esattore che potrebbe essere ingannevole per le gente, al vedere che Zaccheo vuole condividere la ricchezza con gli altri.

Il nuovo pentimento di Zaccheo è propria nella sua cassa, nel suo incontro con Gesù. Perché?

- A casa, la riunione si è svolta in un'atmosfera di cordialità e familiarità. La riunione che non esiste nessuna distanza, nessuna differenza.

- A casa, Zaccheo non è considerato da Gesù come un esatattore, ma come un figlio, un fratello. Se lo guardava come un impostatore era un tipo della relazioni funzionali, relazioni basate sullo status sociale. Gesù, si avvicina a Zaccheo personalmente. Gesù è venuto e ha visto Zaccheo come un figlio, un fratello. E il posto più conveniente per un figlio, un fratello è nella casa. E proprio nella casa, Zaccheo ha sperimentato la grazia della famiglia, la relazioni interpersonale con Gesù.

- Zaccheo si pente e viene ricevuto da Gesù, «Oggi per questa casa è venuta la salvezza, perché anch’egli è figlio di Abramo. Il Figlio dell’uomo infatti è venuto a cercare e a salvare ciò che era perduto».

Allora, la casa ottiene un nuovo significato. Essa diventa più confortevole, nella casa ci si libera, ci si salva, ci sopravvive grazie all’ incontro con Gesù. Di più, la casa è un sacramento

Come riguarda la nostra casa o comunità? Se nelle nostre case, possiamo incontrarci anche con Gesù? Ci sono i membri della famiglia e tutti coloro che entrano nel sentirsi i benvenuti nelle nostre case e sperimentano il divino? Se la nostra casa, la nostra comunità rappresenta il Sacramento? Auguri.... di trovarci e di vivere il sacramento nella vostra casa. Perchè la casa è anche un sacramento.

Roma, 2017



homili

Renungan/HomiliPosted by G_noyah Bernard Fri, March 30, 2018 22:58:15

Misa malam keempat (Nebo Oa Ery)

Yang meninggal 10 Oktober 2016

Ef 1:11-14; Luk 12: 1-7

Tak Seorang pun yang di lupakan Allah

Inilah salah satu pengajaran Yesus hari ini untuk para muridNya. Setelah Yesus mewanti-wanti para muridNya soal ragi kemunafikan orang farisi, Yesus membimbing mereka kepada figure Allah sebagai sumber dan asal kehidupan. Sebagai pengasal, Allah menguasai kehidupan manusia. Dia membuat apa yang menghidupkan dalam diri seorang. Kepada figur allah seperti inilah orang mesti merasa tukut. Takut dalam arti ‘segan’, hormat, bukan ketakutan karena gugup. Takutilah Dia yang memiliki corak perhatian. Dia memperhatikan apa yang diciptakanNya. Perhatian adalah ungkapan cinta. Dia tidak membiarkan manusia ciptaanNya binasa.

Yesus membandingkan perhatian atau cinta Allah itu dengan dua hal berikut:

1. Burung pipit, termasuk burung yang kecil, yang dijual di pasar. Tetapi tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah.

2. Helai rambut pada kepala manusia, seluruhnya dihitung Allah.

Yang kecil, yang sederhana umumnya gampang disepelekan, mudah dilupakan dan cepat diabaikan. Yang biasa biasa saja jarang dikenang. Yesus melawan anggapan kebesaran diri kaum farisi dengan burung pipit dan helai rambut untuk menunnjukkan sikap Allah yang lebih berempati dan peduli terhadap kecil dan sederhana. Yesus menggambarkan figure seorang Allah yang penuh teliti dalam mencintai. Ketelitian Allah dalam itu disimbolkan dalam kesukaan menghitung setiap helai di kepala rambut. Ini adalah tanda penghargaan dan pengakuan terhadap hidup manusia. Bukankah Manusia melebihi burung pipit. Allah tidak pernah melupakan manusia, karena manusia berharga di mata Allah.

Hari Minggu dini hari pukul 2.30 waktu Roma, saya ditelpon dari saudari yang di Singapore, bahwa saudari kami Ery Hayong telah meninggal dunia. Dia adalah saudari sulung dalam rumah dari kami 6 bersaudara. Kami hanya memanggil dia dengan OA, sebutan khas Lamaholot untuk perempuan anak pertama, anak besar, anak sulung. Dan sungguh kesulungannya itu ia hayati dalam tanggungjawabnya terhadap kami, adik adiknya dan kemudian untuk suami dan keempat orang anaknya. Teringat, ketika masih kecil, usia sebelum SD, waktu itu kak Oa bekerja di rumah sakit Kewapante. Kalau dia pulang rumah, dia selalu perhatikan kami: Sebelum tidur malam, dia meminta kami mencuci kaki, memakaikan kami kaus kaki, dan baju tidur lengan panjang, mengebas kelambu untuk memastikan kami bebas dari ancaman nyamuk. Di tasnya selalu saja ada obat. Dia mengatur makanan untuk kami.

Dia orang yang sederhana, tidak banyak omong, tidak pernah mendengar keluhan. Ketika menikah dan berkeluarga lalu tinggal di kewapante, kesederhanaanya tidak berubah. Dia tidak pernah mengeluh tentang suami dan anak anaknya, kendati banyak masalah yang dibuat suami dan anak-anaknya. Saya ingat beberapa tahun lalu saya mengungkapkan perasaan kekecewaan saya karena sikap diamnya terhadap persoalan keluarga, ia hanya berkata dengan tenang, “ Nong apakah engkau tidak kasihan saya”. Dia menerima semua dan menyimpan dalam hatinya. Termasuk saat saat terakhir dia mengalami gangguan pernapasan, ginjal dan TBC atau paru paru, dia hanya mengatakan saya baik, saya sudah minum obat. Saya sudah periksa ke dokter.

Waktu saya pamit mau ke Roma, dia hanya katakan, “Nong kia mo ai go hala hae”, (No mungkin engkau tidak dapat saya lagi sewaktu pulang”). Saya hanya diam, tertunduk dan sambal memeluk dia, saya memberkati dia.

Dan perkataannya itu sungguh terjadi pada tanggal 10 Oktober 2016. Dia yang sedehana, yang kecil itu menghembuskan nafas terakhirnya di dunia kami, dunia keluarga. Tetapi ia tidak dilupakan Allah. Tak seorang pun dilupakan Allah. Seperti burung pipit, seperti helai di rambut kepala, Allah selalu memperhitungkan dia. Allah mengambil dia dari tengah tengah kami. Kami mengembalikan Dia ke yang empunya kehidupan meski dengan berat hati. Kami kembalikan dia karena Allah memandang dia dengan penuh kasih, dan kasihnya di bumi mungkin sudah cukup.

Ketika saya telpon mami, mami katakan, dia itu anak yang tidak seperti anak yang lain. Dia seolah tidak punya suara tapi “budi tenodang”, hatinya begitu terbuka untuk orang lain. Ketika jenasah disemayamkan di rumah duka Kewapante begitu banyak orang yang datang melayat dan misa. Ada sejumlah orang yang dianggap gila dan mengong datang melayat dan mengiringi pemakaman kaka di Kewapante dengan membawa sarung. Ternyata mereka inilah orang orang yang pernah dirawat oleh kakak. Banyak yang datang mengiringi dia ke penguburan. Adik bungsu saya berucap, “terlalu banyak manusia yang datang, seperti waktu engkau membuat misa perdana di kampung. Dia yang hidup dari hati akan membawa kegembiraan bagi banyak orang yang sedang berduka. Trimakasih ka Oa, pana maang sare sare herung Lera wulang Tanah ekang, eka kehuli doa untuk kame.

Trimaasih untuk klompok Indonesia…..

Trimakasih untuk komunitas Ledalero, pater Hendrik dan para frater yang mengiringi koor penguburan kakak.

Kak Oa berisitrahtalah dalam ketengan sang Ilahi, sumber dan daya kehidupan. Engkau berharga di matanya.

Roma, 14 Oktober 2016



Homili

Renungan/HomiliPosted by G_noyah Bernard Fri, March 30, 2018 22:52:20

Apertura del anno Accademico 2017/2018

5 ottobre 2017 Lc 10,1-12, Ne 8,1-4.5-6.7-12

Questo giorno è Santo

Quando il popolo del Israele si raduno davanti alla porta delle Acque per celebrare la festa del raccolto del ringraziamento, è stato chiesto a Esdra, sacerdote e scriba di portare il libro della legge di Mosè. Dal luogo elevato, Esdra lo legge chiaramente e per fornire informazioni in modo che ognuno capisca. Dopo la lettura, Esdra e i leviti che ammaestravano il popolo dissero a tutto il popolo: “Questo giorno è consacrato al Signore nostro; la gioia del Signore è la vostra forza”. Ѐ un messaggio significativo: il Signore è un rifugio, non piangete ma gioite. È un grido che ci ricorda che un periodo del viaggio della vita si deve cominciare con il Signore per avere garanzie di gioia e di successo. Ѐ un segno che coinvolga Dio in ogni sforzo, è qualcosa di sacro. Ѐ un giorno santo.

Che cosa significa per noi studenti che è un giorno santo? Raduniamoci come una comunità per celebrare l’apertura dell’anno accademico nel giorno dell’anniversario delle canonizzazioni dei nostri Santi Arnoldo e Giuseppe ѐ un simbolo dell’alleanza con Dio e con i fratelli e sorelle. Come a Esdra è stato chiesto di leggere la legge di Mose, sentiamo la parola di Dio e meditiamola come uno degli orientamenti per le nostre vite accademiche in quest'anno.

Meditando la parola di Dio, essa ci aiuta ad aprire la nostra anima e il nostro orizzonte del pensiero e mentalità; ci illumina a camminare verso una conversione ed a sperare in un futuro migliore per la nostra missione. I nostri Santi, Arnoldo e Giuseppe, ci hanno lasciato i tesori spirituali come radicare nel Verbo ed impegnarci nella missione di Dio: c’e un tempo di chiudere la porta per riposare e pregare, per mettersi ad ascolatare il silenzio, per vivere la nostra interiorita; ma c’e anche tempo di aprire la porta ed andare oltre per trovare che cosa vuole il Signore da noi. Cosi, il Signore lo loda per la grandezza delle sue parole che accompagnano l'uomo nella vita.

Meditare la Parola di Dio nell’alleanza di una comunita di discepoli in questa casa ѐ ancora una grande missione che stiamo facendo noi. Ѐ una grazia per noi studenti che abbiamo l’opportunita di imparare di più come radicarsi nel Verbo mediante i nostri studi, ricerche, lo stile di vita affinché noi siamo sempre più vicini a Dio ed alla gente.

Come i discepoli, Gesù ci invia non da soli ma a coppie, in una comunione fraterna. Talvolta si dice che la missione non è affare di discepoli specializzati, non richiede un patentino speciale ma è la dimensione abituale di ogni discepolo. E propri su queste dimensioni abituali, sarebbe necessario per noi di prepararci con diverse capacita: nella bibbia, teologia, filosofia, missologia, pastorale, diritto canonico, spiritualità, islamologi, storia della chiesa, psicologia e così via. Ecco la nostra grazia: nella consapevolezza abbiamo bisogno di caricare le nostre batterie di gioia come misionari a camminare per le strade del mondo nella compagnia degli uomini, nel vivere nella cultura del post-modernismo e nel comunicare la parola in un mondo che sempre cambia ma anche difficile.

Gesù ci invia «come agnelli in mezzo ai lupi» ad annunciare il Regno e la sua pace. Come si fonda la nostra autentica missione come agnelli in mezzo ai lupi del mondo d’oggi? Ѐ la debolezza in mezzo alla contraddizione. Il Signore ci manda nella debolezza, nel senso che:

* Il primo, non accettare il modo di essere dei lupi. La debolezza che Gesù ci chiede è la conseguenza della non accettazione del modo di essere di chi appartiene al mondo con l'inganno, la violenza, il non rispetto delle leggi va avanti. Queste debolezze sono come la forza là dove possiamo resistere, anche nei momenti bui, pur di non accettare violenza e inganno.0

* Il secondo, portiamo la pace nei conflitti: perché chi vive nella logica della debolezza della croce e della verità, è un uomo, una donna che ha su di lui la pace. Accettare la sfida della debolezza vuol dire provare a fare una cosa nuova in un mondo vecchio, provare a portare la pace in un contesto di conflitti, provare a creare nuovi modi di vivere e di pensare.

Cosi, i nostri giorni sono santi, e la gioia del Signore è la nostra forza.

Roma, Collegio del Verbo Divino

5 ottobre 2017



Renungan/Homili

Renungan/HomiliPosted by G_noyah Bernard Fri, March 30, 2018 22:46:13

Omilia La Dominica della Palma, B

Isaia: 50: 4-7, Flp 2: 6-11, Mrc. 14,1-15,47

Celebrando la croce nella vita

BRUCE OLSON, nella sua autobiografia “Brucho”, racconta la sua esperienza missionaria che incontro con il popolo dalla tribù Motilone, una delle tribù Indiana nel Sud America, che scava la terra per cercare Dio. Insegnando loro l’incarnazione di Gesù fino alla sua morte sulla croce, Olson racconta una leggenda su un cacciatore che siede sulla strada; Ha osservato che alcune formiche stanno costruendo la loro casa. Voleva aiutare le formiche a costruire una casa come si costruisce nella tribù Motilone. Ha iniziato a scavare la terra. Quando le formiche lo vedevano scavare, sono scapate perché sia troppo grande per loro. A causa della magia il cacciatore si è trasformato in una formica, così si è identificato con le formiche condividendo con loro la vita e le formiche lo hanno accettato senza paura.

Per così dire -Incarnazione, potrebbe essere la parola giusta per descrivere il modo di essere uguale del cacciatore alle formiche per condividere la loro vita. Farsi come altro per sperimentare la loro vita è una forma del sacrificio; un modo di darsi totalmente.

Isaia descrive il compito, l’obbedienza del servo del Signore: un servo che non chiude la bocca per dire la verità della vita. Egli non chiude le sue orecchie al grido di aiuto. Egli, il servo che volontariamente fa sacrificio senza limiti. Servire, significa un svuotamento di sé stesso: dare sé stesso agli altri. Il dono di sé è un annuncio della sofferenza come una virtù, una sofferenza che salva gli altri. Un servo svuotato di sé per il bene degli altri è come Gesù, il Messia crocifisso.

San Paulo rappresenta - chi è equivalente a Dio, colui che non si vergogna di svuotarsi, diventare simile a un essere umano, soffrendo fino alla morte di croce. Con il suo svuotamento, egli ha fatto la croce come un simbolo di umiltà, di fede e di obbedienza al Padre. La croce diventa un segno di solidarietà di Dio che mai abbandona uomo, donna che facilmente rinunciare Dio. La croce è ora un segno di sacrificio e di amore e di unione con Dio.

Ma, ci pensiamo: come una sofferenza ci porta all’unione con Dio?

Nel romanzo "Lettere da Dili", Matildis Banda, donna della isola di Flores/Indonesia, esprime la grande sofferenza di Olga. Olga perse il padre e la madre durante la tragica battaglia in Dili-Timor Leste. Sui fratelli -Fiorentino e Dinis, senza motivi evidenti sono stati catturati e poi massacrati, uccisi dalla polizia. Nel grande dolore a causa della tragedia, Olga si è domandata: Dov'è Dio quando il suo popolo soffre? Olga comincia chiedere: si può ancora trovare Dio nella Chiesa? Ma Olga etra nella vicina chiesa. Nella chiesa, con sorpresa trova il sacerdote ucciso; ostie consacrate sparse sul pavimento; Il tabernacolo vuoto. Olga, mentre raccoglie le Ostie Consacrate, continua chiedersi: perché la sofferenza, malvagità succede anche nella casa di Dio? Dio esiste?

Ci sono molte esperienze della sofferenza, che sembrano sempre più atroce nella vita; questo può fare confusione, disperazione. Così non ci dobbiamo meravigliarsi, quando si pone la domanda - Dio, dove tu sei?

Mi ricordo la testimonianza della Signora Marili Elllis, cha ha partecipato nel nostro ultimo ritiro quaresimale. Per 45 anni ha abbandonata le Chiesa Cattolica, ha abbandonato Dio- a causa della morte del figlio unico, e anche, quando, il sacerdote volendo gli consolare detto che “Dio ha bisogno il tuo figlio come angelo nel cielo”. Questo ha aggravato il dolore della Signora Ellis, che si è chiesto: perché Dio, avendo tanti angeli nel cielo ha ancora preso il mio unico angelo?

Oggi passio Cristi, racconta le sofferenze di Gesù. Poniamo la stessa domanda: Dove sono io quando il Signore anche oggi soffre, muore sulla croce? Dove sono io quando gli altri che oggi soffrono? La sofferenza è difficile spiegare fino al fondo. Ma il dolore può essere una santificazione ed essere una benedizione. Nella celebrazione della Via Crucis, preghiamo: Ti adoriamo e benediciamo, Cristo, perché con la santa croce hai redento il mondo. Gesù ci insegna che la sofferenza può spingerci a Dio, come è successo sul calvario; Gesù dice al penitente ladrone: "oggi sarai con me in paradiso (Lc 23:43). Dalla croce, Egli prega per la salvezza dei peccatori che lo hanno crocifisso, e ancora oggi uccidono: "Padre, perdona loro, perché non sanno quello che fanno" (1 23:34). Dalla Croce, Gesù ha consegnato tutto dell'umanità alla protezione della Beata Vergine Maria, "figlio, questa è la tua madre”

Gesù non è morto con un grido di disperazione. Il figlio di Dio morì dando parole che riassumono e coprono l'intera sua vita e missione: "tutto è compiuto". Che cosa è stato compiuto? Il compito dato del padre: l'attività di soccorso e di redenzione, di liberazione e di pace. Il compito dell'amore perfettamente compiuto sulla croce, amore più grande. La Croce è la Salvezza.

Cosi, c'è il rapporto tra sofferenza e l'amore. Cosi, celebriamo la croce nella vita ma non diventare a ragione della sofferenza degli altri.

Hayong

CdVD Roma, 25 Marzo 2018