Gnoyah BERNARD

Gnoyah BERNARD

Taang uin tou, together we are

Aku mengada secara sadar bersama yang lain.
Aku menjadi aku bersama engkau, sambil menjadi aku, aku mengatakan engkau

Coretan Akhir Tahun 2015

Coretan dalam WaktuPosted by G_noyah Bernard Thu, December 31, 2015 00:39:54

Coretan di Akhir Tahun 2015


TUHAN - AGAMA DAN NILAI

Bernard Hayong

Mencari dan menghidupkan sebuah nilai, itu esensi sebuah agama. Disebut nilai karena sesuatu itu memberi fungsi, berdaya guna, memengaruhi pola pikir, pola tutur, pola laku. Nilai itu membentang antara waktu, terpatri dalam tindakan, berpijak pada lokasi, diwarisi secara tradisional, dan diolah sendiri ataukah dalam kebersamaan. Entahkah agama dan kerinduan bertuhan merupakan yang natural pada minusia? Yang natural adalah yang adanya bukan diadakan manusia. Yang natural itu ada sediakala, sebagaimana ia seharusnya demikian. Agama bukan sediakala adanya. Ia dibentuk, ia dijadikan, ia dihidupi untuk dialami. Tapi agama yang aksidental tetap merupakan pencarian dan ekpresi yang eksistensial manusiawi. Ia membentuk horizon nilai tertentu.

Tapi entahkah Tuhan harus selalu dicari, dialami, dihidupi, dan dimaknai dalam bingkai agama...? Agama mungkin mengikat manusia dengan nilai yang bertepi. Nilai ada dalam waktu,dan bisa berubah dalam waktu. Kalau nilai itu termasuk keyakinan, keyakinan bias saja goyah, bagai objek dan sentimen superstisi. Agama dan nilainya bagai keterarahan dan mungkin pula kecenderungan untuk merasa aman. Tapi kalau seseorang sudah merasa aman, mengapa agama belum ditinggalkannya. Tetapi juga mengapa ia beragama tetapi tetap merasa belum dan tidak aman...?

Waktu beradu pandang buat pamit. Kisah kaum beragama 2015 menjadi kenangan. Mungkin ada rasa belum aman karena keber-Tuhan-an dalam agamanya berteluh di titik abu-abu. Mungkin itu signal pergulatan, atau bisa saja realitas iman yang kian orizinil. Mungkinn ada rasa bosan karena keberadaannya dalam agamanya dengan Tuhannya tidak bergema, tak ada yang lebih atau kurang. alias sama saja. Antara ada dan tiada -being and nothingness. Entahkah Tuhan tidak terganggu sama sekali oleh ciptaanNya? ketika masih diperdebatkan haram atau tidak memberi ucapan natal kepada sesame yang merayakannya. Atau kaum beragama merasa terganggu dengan kebertuhanannya? Ada rasa belum puas karena bentangan tanya abadi. Kalau begitu agama juga mesti sebuah pertanyaan abadi. Tanya abadi melahirkan kesia-siaan. Sabda Qohelet, "Segala sesuatu adalah sia-sia ( Pengkotbah 1:2), dan segala yang di bawah matahari, semuanya sia-sia (Pengkotbah 4:7). Kesia-siaan adalah tanda ketidakpastian. Terhadap yang tidak pasti orang merasa ragu-ragu. Namun keraguan adalah dasar dan tanda keberadaan. Hanya ketika anda ragu, anda ada (Si enim falor, sum, kata St. Agustinus).

2015 dalam coretannya berurai di tebing kisah 365. Waktu, keabadian, kerinduan, kecenderungan, semua bak potensi. Cuma nilai yang menjadi aktual. Lalu Tuhan juga sebuah atau suatu nilai....? Kalau nilai semacam Tuhan dan Tuhan sebagai nilai perlukah seseorang memberi nilai dalam hidup? Apalagi dalam beragama. Ketika Ridwan Kamil, walikota Bandung yang Islam itu, mengunjungi sebuah gereja dan mengucapkan selamat Natal pada kaum nazrani yang merayakan natal 25 Desember 2015, seorang facebooker mengungkapkan kekecewaannya dan mengatakan apa yang dibuat Ridwan Kamil tidak patut. Ridwan Kamil membalas tautan itu dengan mengatakan, "Saya adalah wali kota untuk semua kalangan/agama. Anda yang menilai saya seperti ini, apakah engkau adalah Tuhan"

Kalau nilai itu membentang antara waktu, terpatri dalam tindakan dan membentuk pola pikir, pola ujar dan pola laku, entahkah Tuhan juga adalah nilai...? Karena bukan agama yang membentuk nilai pada manusia, Tuhannya kaum agamawan adalah titik tolak dan titik tuju keber-agama-an manusia. Tapi entakah Tuhan semacam nilai dan nilai semacam Tuhan....?

Tuhan, agama, kerinduan, orientasi transendental, pola laku, semuanya akan masih mewarnai kisah dan perdaban di tahun 2016....Entakah semua itu masih tetap bernilai? Nilai......ah juga belum memuaskan karena dahaga pencarian masih dalam ziarah. Bagaimana engkau mesti dikisahkan, diargumentasikan untuk dimengerti dan dihidupi. 2016 terbentang dalam waktu 365 hari lagi untuk mencari kisah dan memaknakan kasih untuk sebuah nilai, untuk semacam Tuhan. Untuk sesuatu yang masih abadi......Nilai, Agama - Tuhan.



Collegio del Verbo Divino - Roma, Pada akhir tahun 31 Desember 2015

Terinspirasi dari Natal Bersama Jokowi 28 Des 2015 di Kupang :"Indonesia adalah satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, BUKAN SATU AGAMA" (Jokowi)